ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tragedi Hajar Aswad: Dicuri 22 Tahun hingga Pembantaian Jemaah Haji

Kamis, 29 Mei 2025 | 18:05 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Kisah tragis Hajar Aswad yang dicuri selama 22 tahun dan pembantaian 30.000 jemaah haji oleh Qarmatian.
Kisah tragis Hajar Aswad yang dicuri selama 22 tahun dan pembantaian 30.000 jemaah haji oleh Qarmatian. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Hajar Aswad adalah batu suci yang terletak di salah satu sudut Ka'bah, tepatnya di Rukun Hajar Aswad. Batu berwarna hitam ini diyakini berasal dari surga dan memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Islam.

Menyentuh, mencium, atau bahkan hanya menunjuk ke arah Hajar Aswad saat thawaf merupakan bagian dari sunah Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Umar Ra.

لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُ مِنَ الْبَيْتِ إِلَّا الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيَّيْنِ

Artinya: "Sesungguhnya Rasulullah SAW beristilam (menyentuh) Rukun Yamani dan Hajar Aswad setiap kali beliau thawaf" (HR Muttafaq alaih).

ADVERTISEMENT

Tidak heran, jutaan jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia berlomba-lomba mendekati Hajar Aswad setiap tahunnya.

Namun, siapa sangka di balik kemuliaannya, Hajar Aswad pernah mengalami tragedi kelam, yakni dicuri selama 22 tahun oleh kelompok radikal yang juga melakukan pembantaian terhadap puluhan ribu jemaah haji.

Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu tragedi paling berdarah dalam sejarah Islam. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kisah lengkapnya!

Awal Mula Pencurian Hajar Aswad

Dicuri Kelompok Qarmatian, Siapa Mereka?

Kelompok Qarmatian merupakan sekte radikal Syiah yang muncul pada abad ke-10 Masehi. Dipimpin oleh Abu Tahir al-Qarmuthi, mereka berasal dari wilayah Bahrain dan memiliki ideologi yang menyimpang dari ajaran Islam mainstream. Mereka menolak ibadah haji dan menganggapnya sebagai peninggalan jahiliah.

Serangan ke Makkah Tahun 317 H / 930 M

Pada tahun 317 Hijriah atau 930 Masehi, Abu Tahir memimpin sekitar 1.500 pasukan—600 di antaranya berkuda—menuju Makkah tepat sebelum musim haji. Mereka berpura-pura ingin menunaikan ibadah haji untuk mendapatkan akses masuk ke kota suci. Setelah berhasil masuk, mereka melanggar sumpah damai yang telah dibuat dan memulai serangan brutal.

Pembantaian 30.000 Jemaah Haji

Setibanya di Masjidilharam, kelompok Qarmatian menyerang ribuan jemaah yang sedang tawaf, iktikaf, dan salat. Sekitar 30.000 orang dibantai secara keji, dan 3.000 di antaranya dibuang ke dalam sumur zamzam.

Mereka juga merampas harta benda di dalam Ka'bah, merobek kiswah, mencopot pintu Ka'bah, serta mengambil talang emasnya. Lebih dari itu, mereka mencemooh ayat-ayat Al-Qur'an dan menghina tempat paling suci dalam Islam.

Puncak kekejaman terjadi saat Jafar bin Ilaj, atas perintah Abu Tahir, mencabut Hajar Aswad dari tempatnya. Batu suci tersebut kemudian dibawa ke Masjid al-Dirar di al-Hasa, Bahrain, yang dijadikan pusat ibadah versi Qarmatian.

Hajar Aswad Hilang Selama 22 Tahun

Selama 22 tahun, Hajar Aswad berada dalam kekuasaan Qarmatian. Abu Tahir bermaksud menjadikan masjid di Bahrain sebagai pengganti Ka'bah, tetapi rencananya gagal.

Keberadaan Hajar Aswad di luar Makkah menyebabkan ibadah haji terganggu dan bahkan dihentikan selama delapan tahun akibat trauma dan ketakutan yang ditimbulkan.

Banyak upaya dilakukan oleh Kekhalifahan Abbasiyah untuk mengembalikan batu suci tersebut. Setelah proses negosiasi panjang dan pembayaran uang tebusan yang besar, akhirnya pada tahun 952 M atau 339 H, Hajar Aswad dikembalikan ke Makkah.

Namun, kondisinya tidak lagi utuh. Hajar Aswad pecah menjadi tujuh bagian karena perlakuan kasar selama pencurian. Untuk menjaga keutuhannya, pecahan batu tersebut dibingkai dengan perak, seperti yang masih bisa kita lihat saat ini di sudut timur Ka'bah.

Makna di Balik Tragedi Hajar Aswad

Tragedi pencurian Hajar Aswad dan pembantaian massal di Masjidilharam menjadi bukti betapa suci dan pentingnya simbol-simbol Islam bagi umat muslim. Meski Hajar Aswad sempat hilang dan rusak, semangat umat Islam untuk menjaga kemuliaan Ka'bah tidak pernah luntur.

Hingga hari ini, Hajar Aswad tetap menjadi bagian integral dalam ritual tawaf. Menyentuhnya adalah bentuk cinta dan penghormatan terhadap ajaran Rasulullah SAW. Keberadaannya yang kini terbingkai perak tidak mengurangi makna spiritualnya. Justru, sejarah panjang dan kelam Hajar Aswad mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjaga kesucian dan persatuan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT