Kacau! Keluarga Korban Air India Terima Jenazah yang Salah
Senin, 28 Juli 2025 | 18:18 WIB
Mumbai, Beritasatu.com - Keluarga dua korban kecelakaan pesawat Air India menyatakan bahwa mereka menerima jenazah orang asing, bukan anggota keluarga mereka sendiri.
Fiongal Greenlaw-Meek (39) dan rekannya, Jamie (45), termasuk di antara 260 orang yang tewas dalam tragedi jatuhnya pesawat Air India pada 12 Juni 2025 lalu.
Amanda Donaghey, ibu Fiongal, mengatakan bahwa segera setelah kejadian, ia terbang ke India untuk mencari jenazah putranya. Ia memberikan sampel DNA di sebuah rumah sakit di Ahmedabad guna membantu proses identifikasi.
Setelah hasil tes DNA awal dinyatakan cocok, Amanda kembali ke Inggris bersama jenazah yang diyakini sebagai putranya pada 20 Juni 2025. Namun, saat keluarga bersiap menguburkan Fiongal dan Jamie bersama pada 5 Juli 2025, polisi memberi tahu bahwa hasil tes DNA di Inggris menunjukkan bahwa jenazah tersebut bukan milik Fiongal.
"Kami tidak tahu siapa yang ada di dalam peti mati itu. Saya punya firasat, tetapi tetap saja memilukan mengetahui kenyataan ini. Kesalahan ini sungguh mengerikan. Kini kami mendesak pemerintah Inggris untuk membantu menemukan jenazah Fiongal dan memulangkannya," ujar Amanda.
Masalah ini tampaknya bukan satu-satunya kasus jenazah tertukar. Media Inggris baru-baru ini melaporkan bahwa peti jenazah Shobhana Patel (71), yang juga menjadi korban kecelakaan, ternyata berisi potongan tubuh beberapa orang. Shobhana dan suaminya, Ashok (74), meninggal dunia dalam penerbangan tersebut saat hendak melakukan ziarah ke India.
"Karena alasan agama, kami harus memastikan bahwa hanya jenazah ibu saya yang berada di dalam peti mati. Identifikasi yang akurat sangat penting bagi keluarga kami," jelas Miten Patel, putra pasangan tersebut.
Shobhana dan Ashok telah dimakamkan pekan lalu di Inggris.
James Healey-Pratt, pengacara penerbangan internasional yang mewakili beberapa keluarga korban, menyatakan bahwa insiden ini memunculkan kekhawatiran tentang potensi salah identifikasi massal.
"Kami mengetahui bahwa 12 jenazah telah dipulangkan dari India ke Inggris, dan dua di antaranya salah diidentifikasi. Jika pola ini berlanjut, bisa jadi hingga 40 dari 240 jenazah mengalami salah penanganan. Ini angka yang mengkhawatirkan. Sayangnya, sejauh ini otoritas India belum menunjukkan kerja sama memadai, sehingga keluarga korban menekan Kementerian Luar Negeri dan Kantor Perdana Menteri Inggris," ujarnya.
Healey-Pratt menambahkan bahwa belum ada lembaga di Inggris yang mengambil tanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Sementara itu, otoritas India masih menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat Air India. Menurut laporan The Wall Street Journal pada 16 Juli, rekaman dari kotak hitam mengindikasikan bahwa sang kapten secara tidak sengaja mengubah sakelar kontrol bahan bakar dari posisi “hidup” ke “mati”.
CEO Air India, Campbell Wilson, meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi dan menekankan bahwa proses investigasi masih jauh dari selesai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




