Israel Lanjutkan Gencatan Senjata seusai Serangan di Gaza
Senin, 20 Oktober 2025 | 10:47 WIB
Yerusalem, Beritasatu.com - Militer Israel pada Minggu (19/10/2025) mengumumkan bahwa gencatan senjata di Gaza kembali diberlakukan, setelah sebelumnya sempat terguncang akibat serangan udara yang menewaskan 26 orang Palestina.
Serangan tersebut terjadi sebagai respons atas aksi militan yang menewaskan dua tentara Israel, menandai ujian terberat bagi kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) pada awal Oktober 2025.
Presiden AS Donald Trump menegaskan, gencatan senjata Israel Gaza masih berlaku. Ia menyebut pihaknya yakin pelanggaran yang terjadi bukan berasal dari pimpinan Hamas, melainkan dari faksi-faksi kecil yang bertindak di luar kendali organisasi utama.
“Kami pikir mungkin para pemimpin Hamas tidak terlibat. Ini akan ditangani dengan tegas, tetapi tepat,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, dikutip dari Reuters pada Senin (20/10/2025).
Trump menambahkan, bantuan kemanusiaan ke Gaza dijadwalkan dilanjutkan pada Senin, setelah tekanan dari AS kepada Israel untuk membuka kembali akses logistik. Sebelumnya, Israel menangguhkan penyaluran bantuan sebagai tanggapan atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.
Menurut militer Israel, serangan balasan menargetkan berbagai fasilitas Hamas di seluruh Jalur Gaza, termasuk komandan lapangan, gudang senjata, dan terowongan bawah tanah.
Pihak Palestina melaporkan sedikitnya 26 korban tewas, termasuk satu perempuan dan seorang anak. Salah satu serangan bahkan mengenai bangunan bekas sekolah di wilayah Nuseirat yang kini digunakan untuk menampung pengungsi.
Sementara itu, sayap bersenjata Hamas menyatakan masih berkomitmen terhadap kesepakatan gencatan senjata dan mengaku tidak mengetahui adanya bentrokan di Rafah. Mereka juga menegaskan tidak menjalin kontak dengan kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut sejak Maret 2025 lalu.
Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff bersama menantunya, Jared Kushner dijadwalkan bertolak ke Israel untuk membahas keberlanjutan gencatan senjata dan pengaturan distribusi bantuan.
Wakil Presiden AS JD Vance menambahkan, masih terdapat sekitar 40 sel Hamas yang belum melucuti senjata sepenuhnya, sehingga stabilitas kawasan belum sepenuhnya terjamin.
“Beberapa sel mungkin menghormati gencatan senjata, tetapi banyak yang tidak. Diperlukan pasukan stabilisasi dari negara-negara Teluk untuk memastikan keamanan di lapangan,” ujarnya.
Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan, militer akan merespons keras setiap pelanggaran. Ia memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan “garis kuning” yang menandai zona penarikan pasukan, dan menindak tegas siapa pun yang melanggarnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz memastikan pembukaan kembali perlintasan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir masih tertunda hingga Hamas memenuhi seluruh kewajiban dalam kesepakatan.
Hamas dinilai terlalu lambat dalam menyerahkan jenazah sandera yang telah meninggal, meski sebelumnya telah membebaskan 20 sandera hidup dan menyerahkan 12 jenazah.
Kondisi di Gaza masih memprihatinkan. Jalur Rafah yang menjadi pintu utama bantuan kemanusiaan telah tertutup sejak Mei 2024, menyebabkan ratusan ribu warga berada di ambang kelaparan.
Meski bantuan melalui jalur lain meningkat sejak gencatan senjata diberlakukan, PBB menilai jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk Gaza.
Gencatan senjata terbaru ini mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, menghentikan perang 2 tahun yang telah menelan ribuan korban. Namun, kedua pihak masih saling menuduh melakukan pelanggaran.
Pengamat menilai, tantangan besar masih menanti dalam mewujudkan perdamaian jangka panjang di Gaza, termasuk isu perlucutan senjata Hamas, tata kelola wilayah, serta pembentukan pasukan keamanan internasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




