Feri Tenggelam di Filipina Selatan, 350 Orang Terjebak dan 7 Tewas
Senin, 26 Januari 2026 | 08:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dunia transportasi laut Filipina kembali berduka. Sebuah kapal feri antar-pulau yang mengangkut lebih dari 359 orang dilaporkan karam di perairan Filipina Selatan tak lama setelah melewati tengah malam, Senin (26/1/2026).
Insiden memilukan ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan berbagai pihak sejak Senin pagi. Kapal yang diketahui bernama M/V Trisha Kerstin 3 ini sedang menempuh perjalanan rutin dari kota pelabuhan Zamboanga menuju Pulau Jolo di Provinsi Sulu.
“Berdasarkan manifest perjalanan, kapal tersebut membawa 332 penumpang dan didampingi oleh 27 anggota kru saat musibah terjadi,” tulis AP.
Petugas penjaga pantai melaporkan bahwa kapal diduga mengalami kendala teknis yang serius di tengah laut. Masalah tersebut menyebabkan kapal kehilangan keseimbangan hingga akhirnya tenggelam ke dasar laut. Meski begitu, investigasi lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan penyebab utama kegagalan mesin atau struktur kapal tersebut.
Hingga saat ini, tim penyelamat telah berhasil menyelamatkan sedikitnya 215 penumpang dalam kondisi hidup. Namun, kabar duka juga menyertai operasi ini dengan ditemukannya tujuh jenazah di lokasi kejadian. Para penyintas segera dilarikan ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif pasca-trauma.
Gubernur Provinsi Basilan, Mujiv Hataman, secara langsung memantau proses evakuasi di dermaga Isabela, ibu kota provinsi. Dalam pernyataannya kepada media, ia mengonfirmasi bahwa puluhan korban selamat dan dua jenazah telah tiba di pelabuhan tersebut. Suasana haru dan kepanikan mewarnai kedatangan para korban yang dievakuasi menggunakan kapal-kapal kecil.
Beruntung, cuaca di sekitar perairan Basilan dilaporkan cukup cerah, sehingga mempermudah jalannya pencarian. Selain kapal perang dari Angkatan Laut dan kapal patroli Penjaga Pantai Filipina, sejumlah armada kapal nelayan setempat juga turun tangan membantu menyisir lokasi untuk mencari korban yang mungkin masih terapung.
Kecelakaan laut seolah menjadi momok menakutkan yang terus berulang di kepulauan Filipina. Faktor cuaca ekstrem seperti badai tropis sering kali menjadi penyebab utama. Namun, masalah klasik seperti kondisi kapal yang tidak terawat, kapasitas muatan yang berlebih, serta lemahnya pengawasan aturan keselamatan di daerah terpencil menjadi faktor pendukung yang memperburuk situasi.
Sejarah mencatat Filipina pernah mengalami tragedi maritim terburuk di dunia pada masa damai saat kapal feri Dona Paz tenggelam di tahun 1987 dan menewaskan lebih dari 4.300 orang. Insiden M/V Trisha Kerstin 3 ini menjadi pengingat bagi pemerintah setempat akan pentingnya reformasi total pada standar keselamatan transportasi laut demi melindungi nyawa rakyatnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




