ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sudah Berapa Persen Uranium Iran yang Bikin Tegang Israel-AS?

Rabu, 11 Februari 2026 | 15:21 WIB
PR
TE
Penulis: Putri Huliyah Rahmah | Editor: TCE
Foto satelit terbaru situs nuklir Iran.
Foto satelit terbaru situs nuklir Iran. (Labs PBC via AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Isu pengayaan uranium Iran kembali menjadi sorotan global setelah perundingan nuklir terbaru yang berlangsung di Oman pada Jumat (6/2/2026).

Dalam pertemuan tersebut, perdebatan utama berfokus pada batasan dan tingkat pengayaan uranium, yang dinilai krusial karena berpotensi menjadi dasar pembuatan senjata nuklir jika mencapai kadar tertentu.

Ketegangan ini melibatkan Iran di satu sisi serta Israel dan Amerika Serikat di sisi lain. Negara-negara Barat menilai kemampuan Iran memperkaya uranium hingga level tinggi meningkatkan risiko proliferasi nuklir dan dapat mengganggu stabilitas Kawasan Timur Tengah, terutama dalam konteks hubungan geopolitik yang telah lama memanas.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Uranium dan Mengapa Perlu Diperkaya?

Uranium adalah unsur logam radioaktif yang secara alami ditemukan di bumi. Dalam bentuk mentahnya, uranium mengandung berbagai isotop, termasuk U-235, isotop yang dapat memicu reaksi fisi nuklir.

Untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar reaktor atau potensi senjata nuklir, uranium harus melalui proses pengayaan menggunakan sentrifuge. Proses ini bertujuan meningkatkan konsentrasi isotop U-235 dalam uranium.

Berikut ini level pengayaan uranium beserta penggunaannya:

  • 3,67% atau kurang

Sesuai dengan standar perjanjian nuklir 2015 (joint comprehensive plan of action/JCPOA) untuk tujuan sipil, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir.

  • Sekitar 20%

Digunakan untuk reaktor riset atau kebutuhan khusus. Level ini jauh lebih tinggi dibanding kebutuhan pembangkit listrik sipil biasa.

  • 60%

Kategori ini dianggap sangat mendekati tingkat senjata. Secara teknis, dari 60% menuju 90% membutuhkan tambahan pengayaan yang relatif lebih singkat dibanding proses dari level rendah ke level tinggi.

  • 90% atau lebih

Disebut sebagai weapons-grade uranium atau uranium tingkat senjata, yang secara teoritis cukup untuk memproduksi senjata nuklir.

Seberapa Tinggi Pengayaan Uranium Iran Saat Ini?

Berdasarkan laporan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang bocor sebelum serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%.

Angka ini menjadi perhatian serius karena uranium 60% dinilai sebagai kategori hampir senjata. Secara teknis, dari 60% menuju 90% hanya membutuhkan tambahan proses pengayaan yang tidak terlalu besar jika fasilitas masih beroperasi.

Menurut standar IAEA, sekitar 42 kilogram uranium 60%, jika diperkaya hingga 90%, sudah cukup untuk membuat satu bom nuklir.

Kondisi ini menimbulkan kecemasan besar di Israel dan Amerika Serikat. Terlebih, Iran merupakan satu-satunya negara non nuklir yang diketahui memproduksi uranium kaya 60% dan mengklaimnya untuk tujuan sipil.

Cadangan Uranium Iran selain 60%

Selain uranium yang diperkaya hingga 60%, Iran juga memiliki cadangan dalam berbagai tingkat pengayaan. Ribuan kilogram uranium 5%, yang merupakan standar industri nuklir sipil.

Cadangan uranium low enriched, yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pengayaan tingkat lebih tinggi. Data IAEA periode Februari hingga Mei 2025 menunjukkan stok uranium yang diperkaya terus meningkat hingga kisaran 408–440 kilogram uranium 60% atau lebih, yang dikategorikan sebagai heavily enriched uranium (HEU). Angka inilah yang menjadi fokus utama kekhawatiran internasional.

Institute for Science and International Security (ISIS) serta lembaga pengawas PBB lainnya menekankan bahwa ketika uranium telah mencapai 60% U-235, jaraknya ke tingkat senjata (90%) semakin pendek.

Istilah yang sering digunakan dalam analisis keamanan adalah breakout time, yaitu waktu yang dibutuhkan suatu negara untuk memproduksi bahan fosil yang cukup bagi satu senjata nuklir.

Jika pengayaan tidak dibatasi dan terus dipercepat, waktu tersebut dapat semakin singkat. Inilah yang menjadi alasan utama kekhawatiran Israel dan Amerika Serikat.

Posisi Iran dalam Perundingan Oman 2026

Dalam perundingan nuklir yang berlangsung di Oman pada awal Februari 2026, Iran menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan hak sahnya berdasarkan nonproliferation treaty (NPT).

“Iran siap membahas level dan kemurnian pengayaan uranium sebagai bagian dari diskusi diplomatik, tetapi haknya untuk melakukan pengayaan secara domestik tetap nonnegotiable,” ujar Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan dari mantan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan pembatasan pengayaan jauh di bawah level saat ini, bahkan di bawah 20% atau kembali ke 3,67% seperti yang diatur dalam JCPOA 2015.

Namun, Eslami juga menyebut Iran bersedia mengencerkan uranium yang telah diperkaya ke kadar lebih rendah, dengan syarat seluruh sanksi terhadap Iran dicabut sepenuhnya.

IAEA sebagai badan pengawas nuklir internasional mencatat perkembangan signifikan dalam proyek pengayaan uranium Iran, termasuk jumlah stok uranium di berbagai tingkat pengayaan, jumlah dan jenis sentrifuge yang beroperasi, serta volume uranium yang diproses di tiap fasilitas.

Meski Iran menyatakan programnya bersifat damai, IAEA menilai produksi dan akumulasi uranium yang sangat diperkaya meningkatkan risiko proliferasi.

Perlu dicatat, akses inspektur internasional ke seluruh fasilitas nuklir Iran tidak selalu penuh, terutama selama dan setelah periode serangan militer. Kondisi ini membuat penilaian menyeluruh atas stok uranium sulit dipublikasikan secara real time.

Dampak terhadap Stabilitas Regional

Bagi Israel dan Amerika Serikat, pengayaan uranium Iran hingga level 60% tanpa pembatasan tegas berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan regional.

Di sisi lain, Iran menolak tuntutan penghentian total pengayaan dan menyatakan aktivitas tersebut sah berdasarkan NPT, perjanjian nonproliferasi yang ditandatangani oleh hampir seluruh negara di dunia.

Perdebatan ini menunjukkan isu uranium bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut geopolitik, keamanan global, dan masa depan diplomasi nuklir di Timur Tengah.

Isu uranium dan pengayaan 60% oleh Iran menjadi pusat ketegangan internasional karena posisinya yang sangat dekat dengan level senjata nuklir. Dengan stok mencapai sekitar 440,9 kilogram uranium 60%, kekhawatiran global terhadap potensi proliferasi semakin meningkat.

Sementara Iran menegaskan haknya untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari kedaulatan dan perjanjian internasional, Israel dan Amerika Serikat tetap menuntut pembatasan ketat guna mencegah risiko keamanan regional.

Perundingan di Oman pada Februari 2026 menjadi salah satu babak penting dalam dinamika panjang isu nuklir Iran, yang hingga kini masih menjadi perhatian utama dunia internasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bukan AS, Ini 12 Negara Penghasil Uranium Terbesar di Dunia!

Bukan AS, Ini 12 Negara Penghasil Uranium Terbesar di Dunia!

INTERNASIONAL
Berasal dari Mana Uranium dan Bagaimana Prosesnya hingga Jadi Nuklir?

Berasal dari Mana Uranium dan Bagaimana Prosesnya hingga Jadi Nuklir?

OTOTEKNO
Trump Ancam Hancurkan Pihak yang Dekati Uranium Iran

Trump Ancam Hancurkan Pihak yang Dekati Uranium Iran

INTERNASIONAL
Mengenal Uranium, Inti Ketegangan Iran-AS yang Terus Membara

Mengenal Uranium, Inti Ketegangan Iran-AS yang Terus Membara

INTERNASIONAL
Korea Selatan Yakin Korut Punya 2 Ton Uranium Siap Jadi Senjata Nuklir

Korea Selatan Yakin Korut Punya 2 Ton Uranium Siap Jadi Senjata Nuklir

INTERNASIONAL
Bahan untuk Nuklir, Ini 10 Negara Pemilik Uranium Terbesar di Dunia

Bahan untuk Nuklir, Ini 10 Negara Pemilik Uranium Terbesar di Dunia

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon