ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ramadan 2026, Duka Warga Gaza Jalani Ibadah Puasa Tanpa Keluarga

Rabu, 18 Februari 2026 | 11:07 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Para jamaah Muslim melaksanakan salat Tarawih pada malam pertama bulan suci Ramadhan di Masjid Alkanz, yang rusak akibat perang Israel-Hamas, di Kota Gaza, Selasa, 17 Februari 2026.
Para jamaah Muslim melaksanakan salat Tarawih pada malam pertama bulan suci Ramadhan di Masjid Alkanz, yang rusak akibat perang Israel-Hamas, di Kota Gaza, Selasa, 17 Februari 2026. (AP/AP)

Gaza City, Beritasatu.com - Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap menyambut bulan suci Ramadan 2026 di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rapuh. Bagi sebagian besar penduduk, tantangan hidup sehari-hari dan luka mendalam akibat perang Israel-Hamas telah meredam semangat meriah yang biasanya menyelimuti kota.

“Tidak ada kegembiraan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih,” tutur Fedaa Ayyad, seorang warga Kota Gaza. 

“Meskipun kami mencoba untuk mengatasi situasi ini, kami tidak dapat benar-benar merasakannya di hati kami. Saya adalah salah satu dari mereka yang tidak dapat merasakan suasana Ramadan,” katanya.

ADVERTISEMENT

Di Gaza, awal Ramadan jatuh pada Rabu (18/2/2026). Dalam keadaan normal, bulan ini menjadi ajang silaturahmi keluarga untuk berbuka puasa, meningkatkan ibadah, dan berbagi amal. Namun, realitas di lapangan saat ini jauh dari kata normal.

Serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, menurut data Otoritas Kesehatan Gaza. Perang ini meletus setelah serangan militan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023. Hingga kini, kehancuran meluas telah menggusur sebagian besar penduduk dari rumah-rumah mereka.

Kesulitan ekonomi juga mencekik warga yang hendak menyambut bulan suci. Di pasar-pasar tradisional, aktivitas jual-beli tampak lesu.

“Tidak ada uang tunai di antara masyarakat. Tidak ada pekerjaan. Memang benar ini Ramadan, tetapi Ramadan membutuhkan uang,” keluh Waleed Zaqzouq, warga Kota Gaza. 

Ia menambahkan bahwa sebelum perang, masyarakat hidup bermartabat, tetapi kini situasi telah berbalik total hingga mereka merasa hancur dan terpuruk.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober 2025 bertujuan menghentikan konflik yang telah berjalan dua tahun, kondisi di lapangan tetap mencekam. Tembakan dan serangan udara masih kerap terjadi di zona-zona tertentu, menyebabkan ratusan korban jiwa tambahan.

Kondisi para pengungsi semakin diperparah oleh musim dingin yang ekstrem. Cuaca dingin yang menusuk serta hujan deras sering kali membanjiri kamp-kamp pengungsian dan meruntuhkan bangunan yang sudah rusak parah.

“Dahulu, suasananya lebih menyenangkan. Jalan-jalan diterangi dengan dekorasi. Semua jalan memiliki dekorasi. Anak-anak kami bahagia,” kenang Raed Koheel, warga Kota Gaza.

Namun, di tengah segala keterbatasan, harapan tetap menyala. Di Khan Younis, seniman dan kaligrafer Hani Dahman mencoba menghadirkan kemeriahan dengan melukis pesan-pesan indah di dinding reruntuhan.

Sambil mencelupkan kuas ke cat, ia menuliskan kalimat “Selamat Datang, Ramadan” dalam aksara Arab yang indah. Anak-anak kecil pun berkumpul menyaksikan karya tersebut dengan antusias.

“Kami di sini mencoba membawa kebahagiaan ke hati anak-anak, perempuan, laki-laki, dan seluruh keluarga,” kata Dahman. 

“Kami mengirimkan pesan kepada dunia bahwa kami adalah orang-orang yang mencari kehidupan,” ungkapnya.

Untaian dekorasi Ramadan yang sederhana kini mulai tergantung di antara puing-puing bangunan. Bagi Mohammed Taniri, pemandangan itu adalah simbol keteguhan hati. “Terlepas dari semua kesulitan, mereka mencoba menciptakan suasana yang indah,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT