Ditengat Trump Juni Tuntas, Ukraina-Rusia Bertemu di Jenewa
Rabu, 18 Februari 2026 | 12:51 WIB
Jenewa, Beritasatu.com - Delegasi dari Moskow dan Kyiv kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) untuk putaran baru perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung hanya satu minggu sebelum peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Meskipun Amerika Serikat menetapkan tenggat waktu penyelesaian pada Juni 2026, harapan akan adanya terobosan besar dalam pembicaraan dua hari ini masih sangat rendah. Kedua belah pihak tampak belum bersedia bergeser dari posisi masing-masing terkait isu teritorial utama dan jaminan keamanan masa depan.
Ketua delegasi Ukraina, Rustem Umerov, mengunggah momen pertemuan di media sosial yang memperlihatkan ketiga delegasi duduk di meja berbentuk tapal kuda. Pejabat Ukraina dan Rusia duduk berhadapan, sementara utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, berada di ujung meja.
"Agenda tersebut mencakup isu-isu keamanan dan kemanusiaan," ujar Umerov. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya bekerja "tanpa ekspektasi yang berlebihan."
Isu masa depan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia diprediksi akan menjadi poin paling alot. Berdasarkan informasi dari sumber anonim kepada Associated Press, Rusia tetap bersikeras agar Ukraina menyerahkan kendali penuh atas wilayah Donbas di bagian timur.
Selain negosiator politik, para petinggi militer dari ketiga negara juga hadir untuk membahas teknis pelaksanaan gencatan senjata. Diskusi mencakup:
- Mekanisme pemantauan pascakesepakatan damai.
- Pengaturan zona demiliterisasi (ZDM).
- Prosedur komunikasi antarmiliter untuk mencegah eskalasi mendadak.
Presiden AS Donald Trump menggambarkan pertemuan di Jenewa ini sebagai "pembicaraan besar." Sebelum terbang kembali ke Washington dari Florida, Trump menegaskan urgensi penyelesaian konflik ini.
"Ukraina sebaiknya segera duduk di meja perundingan," ungkap Trump kepada media. Pernyataan ini muncul saat tentara Ukraina yang kekurangan personel terus terlibat dalam perang gesekan di sepanjang garis depan sejauh 1.250 kilometer.
Ironisnya, saat meja diplomasi digelar, serangan di lapangan tetap membara. Presiden Volodymyr Zelenskyy melaporkan bahwa Rusia baru saja meluncurkan hampir 400 drone jarak jauh dan 29 rudal ke 12 wilayah Ukraina. Serangan tersebut melukai warga sipil, termasuk anak-anak, serta memutus akses pemanas di kota Odesa.
"Semakin besar kejahatan ini berasal dari Rusia, semakin sulit bagi semua pihak untuk mencapai kesepakatan. Para mitra harus memahami hal ini, terutama Amerika Serikat," tegas Zelenskyy.
Di sisi lain, intelijen Ukraina (SBU) membalas dengan menyerang terminal minyak Tamanneftegaz di Laut Hitam dan pabrik kimia Metafrax Chemicals di Perm, Rusia, menggunakan drone jarak jauh sebagai upaya melemahkan logistik militer Moskow.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




