Dino: Rencana Prabowo Memediasi AS-Israel dengan Iran Tak Realistis
Minggu, 1 Maret 2026 | 14:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal menyoroti sikap Indonesia terhadap konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, khususnya terkait kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk terbang ke Teheran sebagai penengah.
Dino menyayangkan rencana tersebut diumumkan ke publik tanpa pertimbangan matang.
"Saya heran mengapa ide ini tidak difilter dahulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis," kata Dino Patti Djalal, dikutip Beritasatu.com pada Minggu (1/3/2026).
Dino membeberkan sejumlah alasan mengapa gagasan mediasi tersebut dinilai sulit terwujud.
Pertama, dalam sejarahnya, Amerika Serikat jarang menerima mediasi pihak ketiga saat melancarkan serangan militer.
"Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu. Saya juga meyakini Presiden Donald Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur karena pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran," jelasnya.
Dino juga menyebut serangan AS ke Iran berpotensi berkaitan dengan dinamika politik domestik di AS, termasuk isu Epstein Files yang disebutnya semakin menekan Presiden Trump.
Kedua, ia menilai hubungan Indonesia dan Iran saat ini tidak cukup dekat untuk menopang peran mediasi. Dalam 15 bulan terakhir, Presiden Prabowo belum pernah bertemu langsung dengan presiden Iran maupun melakukan kunjungan ke Teheran.
Meski terdapat undangan dari Iran, belum ada pertemuan bilateral, termasuk di forum internasional, seperti KTT BRICS atau KTT D-8.
"Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono juga tidak pernah melakukan kunjungan bilateral ke Teheran, meskipun pernah bertemu sekali dengan menlu Iran di Jenewa," ungkapnya.
Menurut Dino, secara historis belum terbentuk kedekatan maupun tingkat kepercayaan yang memadai antara kedua negara untuk mendukung peran mediator.
Ketiga, ia menilai Presiden Trump maupun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagai pihak yang melancarkan serangan hampir pasti menolak berkunjung ke Teheran.
"Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini," tegasnya.
Keempat, Dino menilai Presiden Prabowo juga tidak mungkin bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konteks konflik tersebut.
Pasalnya, langkah itu dinilai berisiko secara politik di dalam negeri dan dapat menjadi "political suicide" bagi kepala negara.
Menurut Dino, yang lebih penting bagi Indonesia bukan mencari panggung sebagai juru damai, melainkan mempertegas sikap sesuai prinsip politik luar negeri.
"Kita harus berani menyatakan apa yang benar, benar, apa yang salah, salah, apa pun risikonya," ucapnya.
Ia menilai serangan AS-Israel ke Iran bertentangan dengan prinsip-prinsip yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Karena itu, Indonesia harus konsisten menegakkan prinsip perdamaian dan norma hukum internasional.
"Kita tidak mau nanti sejarah mencatat tidak ada satu pun skenario di mana Indonesia bersedia mengkritik aksi dari negara adidaya apa pun yang dilakukan negara adidaya tersebut. Kalau pun ini terjadi, berarti politik luar negeri kita bukan lagi politik bebas aktif," tegasnya.
Konflik AS-Israel dengan Iran saat ini dinilai menjadi ujian penting bagi konsistensi politik luar negeri Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




