Iran Ajukan 3 Syarat Akhiri Perang
Kamis, 12 Maret 2026 | 12:29 WIB
Teheran, Beritasatu.com — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan tiga syarat utama yang harus dipenuhi untuk mengakhiri konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Ketiga syarat tersebut meliputi pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, serta jaminan internasional yang kuat untuk mencegah agresi serupa pada masa depan.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan. “Setiap upaya perdamaian harus disertai pengakuan terhadap kepentingan dan kedaulatan Teheran,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Situasi keamanan di Teluk juga memanas setelah dua kapal tanker minyak asing dilaporkan diserang di pelabuhan al-Faw, Irak. Sejumlah negara Teluk seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat beberapa rudal dan drone yang diluncurkan.
Iran memperingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak yang bisa mencapai hingga US$ 200 per barel jika ketegangan terus meningkat.
Pada Rabu kemarin, sebuah kapal kargo menjadi sasaran Iran di Selat Hormuz. Tiga pelaut masih hilang, sementara 20 lainnya diselamatkan oleh penjaga pantai Oman. Waktu kejadian tersebut cukup menarik. Kejadian itu terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menargetkan kapal di selat atau memasang ranjau.
Pihak Iran mengatakan, mereka menargetkan kapal berbendera Thailand karena kapal tersebut mengabaikan perintah mereka. Mereka mengatakan semua kapal harus meminta izin untuk melintasi selat dan memperingatkan bahwa AS dan sekutunya tidak akan diizinkan untuk melewati jalur air yang sangat sempit itu, yang dilalui oleh 20% pasokan minyak dunia.
Eskalasi konflik juga terlihat dari serangan yang dilancarkan Iran bersama kelompok Hizbullah terhadap Israel. Gelombang serangan terkoordinasi terjadi saat militer Israel terus menggempur sejumlah target di Beirut, Lebanon, dalam operasi militer berskala besar.
Pengesahan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Iran di Teluk bukanlah hal yang mengejutkan bagi kepemimpinan Teheran. Sejak awal, mereka menuduh komunitas internasional menerapkan standar ganda, karena tidak ada pertemuan serupa ketika AS dan Israel menyerang Iran, termasuk membunuh para pemimpin politik dan militer, termasuk pemimpin tertinggi Iran.
Kepemimpinan Iran sangat tidak senang dengan sikap PBB dan negara-negara lain terkait konflik ini. Oleh karena itu, saat ini sedikit pembicaraan tentang perdamaian atau rekonsiliasi—kecuali dari Presiden Masoud Pezeshkian.
Pezeshkian telah berkomunikasi dengan presiden Rusia, perdana menteri Pakistan, dan sultan Oman beberapa hari terakhir. Ia menjadi satu-satunya pejabat yang menyuarakan kemungkinan kembalinya negosiasi.
Sementara itu, kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, melaporkan beberapa serangan terhadap kota dan pangkalan Israel semalam.
Serangan tersebut meliputi serangan drone ke barak Ya’ara di utara, rudal ke pangkalan Beit Lid, pangkalan Glilot dekat Tel Aviv, dan pangkalan Atlit dekat Haifa.
Hizbullah juga menembakkan artileri ke pasukan Israel di Lebanon selatan, serta meluncurkan drone dan roket ke kota Nahariya, Israel.
Selain itu, mereka mengeklaim bahwa serangan drone ke Pangkalan Komando dan Kontrol Operasi Udara Meron pada Rabu lalu “mengakibatkan kerusakan pada salah satu radar” di sana.
Kekhawatiran meningkat di seluruh Teluk seiring dengan meningkatnya serangan Iran terhadap infrastruktur energi regional. Terjadi serangan terhadap tangki bahan bakar di Bahrain beberapa jam yang lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




