Oposisi Israel Sebut Gencatan Senjata AS‑Iran sebagai Bencana
Kamis, 9 April 2026 | 11:06 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Dalam momen konsensus yang langka, kubu politik Israel sepakat mengkritik gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski politisi sayap kiri tengah tidak senang dengan keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, kaum konservatif menyoroti Presiden Donald Trump.
Beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan singkat: “Israel mendukung keputusan Donald Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua pekan.”
Pernyataan itu menambahkan, “Israel juga mendukung upaya AS untuk memastikan Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, dan teror bagi Amerika, Israel, negara-negara tetangga Arab Iran, dan dunia. Amerika Serikat telah memberi tahu Israel bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan-tujuan ini, yang dianut bersama oleh AS, Israel, dan sekutu regional Israel, dalam negosiasi yang akan datang.”
Namun di dalam Israel, responsnya jauh dari mendukung. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengkritik Netanyahu keras, menuduhnya gagal mengamankan tuntutan Israel. “Tidak pernah ada bencana diplomatik seperti ini sepanjang sejarah kita,” tulis Lapid di X.
Ia menambahkan, “Israel bahkan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai inti keamanan nasional kita.”
Lapid juga menyatakan, Israel akan membutuhkan “bertahun-tahun untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis yang disebabkan Netanyahu karena kesombongan, kelalaian, dan kurangnya perencanaan strategis.”
Dalam wawancara di program Euronews, 12 Minutes With, pada awal Maret, Lapid mengakui presiden AS tidak dapat dipaksa untuk mengambil keputusan apa pun, bahkan oleh Israel.
“Apakah Donald Trump tampak seperti seseorang yang bisa diintimidasi? Saya rasa tidak. Dia adalah presiden dari angkatan bersenjata terbesar dalam sejarah umat manusia. Dia adalah orang yang teguh pendirian,” kata Lapid.
“Israel dipenuhi rasa syukur dan kekaguman atas keberaniannya, atas kejelasan moralnya dalam masalah ini, atas fakta bahwa dia memutuskan untuk memasuki perang ini, memahami bahwa ini untuk melindungi perdamaian di bumi.”
Lapid menambahkan, kecuali Ibu Negara AS Melania Trump, ia tidak berpikir “siapa pun dapat memaksa Donald Trump untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan.”
Yair Golan, kepala partai Demokrat sayap kiri tengah, menuduh Netanyahu berbohong tentang gencatan senjata di X. “Netanyahu berbohong. Dia menjanjikan ‘kemenangan bersejarah’ dan keamanan untuk generasi mendatang, dan pada praktiknya, kita mendapatkan salah satu kegagalan strategis terberat yang pernah dialami Israel,” kata Golan.
Golan menegaskan, setelah “darah tertumpah, warga sipil pemberani terbunuh, dan tentara gugur, tidak satu pun tujuan yang tercapai.”
“Program nuklir tidak dihancurkan; ancaman balistik tetap ada; rezim tetap berkuasa dan bahkan lebih kuat setelah perang ini,” tambahnya.

Avigdor Liberman, kepala partai Yisrael Beytenu, memperingatkan, gencatan senjata dengan Iran memberi rezim Ayatollah jeda dan waktu untuk berkumpul kembali.
“Kesepakatan apa pun dengan Iran, tanpa menghentikan upaya menghancurkan Israel, memperkaya uranium, memproduksi rudal balistik, dan mendukung kelompok teror di kawasan itu, berarti kita akan kembali ke perang lain dalam kondisi yang lebih sulit dengan biaya lebih tinggi,” tulis Liberman di X.
Kesepakatan gencatan senjata juga langsung menuai kritik dari dalam koalisi Netanyahu, termasuk kepala Komite Keamanan Nasional Tzvika Foghel, yang menulis, “Donald, kau terlihat seperti bebek,” di X sebelum akhirnya menghapus unggahannya.
Gencatan senjata ini menjadi sorotan karena memberikan jeda bagi Iran untuk memperkuat posisinya, sementara Israel menghadapi tekanan politik internal terkait strategi keamanan dan kepentingan regional.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, penghentian serangan Israel terhadap Lebanon merupakan salah satu syarat yang diajukan Teheran dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).
Menurut media Iran, pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui sambungan telepon pada Rabu (8/4/2026). Ia menjelaskan, penghentian serangan Israel di Lebanon termasuk dalam 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington.
Pezeshkian menambahkan, Prancis memiliki peran penting sebagai salah satu penjamin gencatan senjata sebelumnya di Lebanon.
Presiden Iran menekankan, Teheran telah bertindak bertanggung jawab dengan menerima usulan gencatan senjata dan menunjukkan kesediaannya untuk mencapai perdamaian serta stabilitas di kawasan.
Percakapan telepon antara kedua pemimpin berlangsung sehari setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata yang bertujuan membuka jalan bagi kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang yang dilancarkan oleh Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak 28 Februari.
Meskipun perjanjian gencatan senjata berlaku selama dua pekan, tentara Israel tetap melancarkan serangan udara di seluruh Lebanon pada Rabu, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya, menurut Pertahanan Sipil Lebanon.
Saat pejabat Iran dan Pakistan menyatakan perjanjian tersebut juga mencakup Lebanon, Israel bersikeras bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




