Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Ancaman Krisis Energi Kian Nyata
Minggu, 19 April 2026 | 09:56 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz. Langkah ini memicu kecaman keras dari Uni Emirat Arab (UEA) yang menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius bagi ekonomi global.
Militer Iran dilaporkan menutup atau membatasi akses ke jalur pelayaran strategis tersebut. Bahkan, terjadi insiden penembakan terhadap kapal tanker di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat.
Pengetatan ini disebut sebagai respons Teheran terhadap blokade laut yang dilakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah eskalasi, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari final.
“Amerika Serikat harus mendapatkan kembali kepercayaan rakyat Iran dan meninggalkan pendekatan sepihak,” tegas Ghalibaf dilansir dari The New York Times, Minggu (19/4/2026) pagi.
Ia menambahkan, setiap solusi harus dilakukan secara bertahap dan berbasis prinsip timbal balik, mencerminkan sikap hati-hati Iran di tengah tekanan militer dan diplomatik.
Sementara itu, pejabat tinggi UEA, Saeed Bin Mubarak Al Hajeri, mengecam keras langkah Iran. Ia menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai terorisme ekonomi yang tidak dapat ditoleransi.
Menurutnya, komunitas internasional harus segera bertindak untuk mengatasi situasi tersebut.
“Penyelesaian yang berkelanjutan harus memastikan pembukaan penuh dan tanpa syarat Selat Hormuz,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Al Hajeri juga menilai gencatan senjata saja tidak cukup untuk meredakan konflik. Ia menegaskan solusi damai harus mencakup berbagai isu strategis, termasuk program nuklir Iran, rudal balistik, serta aktivitas kelompok afiliasinya di kawasan.
UEA menekankan Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan global. Gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu lonjakan harga energi, terganggunya rantai pasok, hingga instabilitas ekonomi dunia.
Di lapangan, situasi masih belum sepenuhnya kondusif. Meski sempat dibuka terbatas selama masa gencatan senjata, arus pelayaran belum pulih sepenuhnya.
Sejumlah negara pun terus mendesak agar kebebasan navigasi di kawasan tersebut segera dipulihkan secara penuh.
Tarik-menarik kepentingan antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk kini memperbesar ketidakpastian global. Diplomasi masih berlangsung, namun eskalasi militer dan saling tuding justru memperlebar jarak menuju perdamaian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




