ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Selat Hormuz Jadi 'Senjata', Iran Tekan Dunia Tanpa Nuklir

Minggu, 19 April 2026 | 11:42 WIB
S
S
Penulis: Sukarjito | Editor: JTO
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump percaya diri Selat Hormuz akan kembali bisa dibuka dalam waktu dekat.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump percaya diri Selat Hormuz akan kembali bisa dibuka dalam waktu dekat. (Associated Press/AP Photo)

Washington DC, Beritasatu.com - Iran menunjukkan kekuatan strategisnya bukan hanya dari militer, tetapi dari kendali atas Selat Hormuz. Jalur laut vital ini kini menjadi alat tekanan geopolitik yang mengguncang stabilitas global, bahkan dinilai lebih efektif dibanding ancaman nuklir.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Ketika Iran memperketat kontrol, dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi, gangguan distribusi, hingga perubahan kalkulasi militer negara-negara besar.

Mengutip laporan The New York Times, Minggu (19/4/2026), analis intelijen Israel Danny Citrinowicz, menilai pelajaran dari konflik ini sangat jelas, yakni semua orang sekarang tahu jika konflik terjadi lagi, menutup selat akan menjadi langkah pertama dalam buku strategi Iran.

ADVERTISEMENT

“Anda tidak bisa mengalahkan geografi,” ungkapnya.

Meski sejumlah serangan udara telah merusak fasilitas militer Iran, kemampuan Teheran mengendalikan selat tetap bertahan. Iran masih memiliki sekitar 40% drone tempur dan lebih dari 60% peluncur rudal, cukup untuk menjaga tekanan di jalur pelayaran.

Kondisi ini membuat kapal-kapal komersial menjadi pihak paling rentan. Risiko gangguan, serangan, hingga ketidakpastian jalur membuat biaya logistik global meningkat.

Pada sisi lain, muncul pernyataan yang saling bertolak belakang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan situasi terkendali. Namun militer Iran menegaskan kontrol ketat tetap diberlakukan.

Tokoh Rusia Dmitri Medvedev bahkan menyebut kendali Iran atas selat sebagai senjata tersendiri. Menurutnya, Iran telah menguji senjata lain, setelah nuklirnya. "Namanya Selat Hormuz. Potensinya tidak terbatas,” tulisnya.

Situasi ini menunjukkan pergeseran fokus konflik global. Jika sebelumnya isu nuklir menjadi pusat perhatian, kini penguasaan jalur laut strategis menjadi faktor penentu.

Iran dinilai telah menemukan strategi baru,yakni tanpa menggunakan senjata pemusnah massal. "Kontrol atas jalur energi global sudah cukup untuk menekan lawan dan menciptakan ketidakpastian dunia," pungkas Medvedev.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

LIFESTYLE
Trump Ancam Serang Iran Lagi jika Kesepakatan Nuklir Gagal

Trump Ancam Serang Iran Lagi jika Kesepakatan Nuklir Gagal

INTERNASIONAL
Donald Trump Klaim AS-Iran Siap Berdamai, Benarkah?

Donald Trump Klaim AS-Iran Siap Berdamai, Benarkah?

INTERNASIONAL
Naskah Perjanjian Damai AS-Iran Rampung, Pakistan Klaim Tinggal Teken

Naskah Perjanjian Damai AS-Iran Rampung, Pakistan Klaim Tinggal Teken

INTERNASIONAL
Trump Tunda Operasi Rahasia AS untuk Rebut Uranium Iran

Trump Tunda Operasi Rahasia AS untuk Rebut Uranium Iran

INTERNASIONAL
Iran Klaim Trump Sepakat Lepas Aset Beku Senilai Rp 428 Triliun

Iran Klaim Trump Sepakat Lepas Aset Beku Senilai Rp 428 Triliun

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon