Apa Bedanya Selat dan Terusan? Ini Implikasinya bagi Ekonomi Dunia
Senin, 27 April 2026 | 14:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ketegangan di Kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia sejak pecahnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel pada awal 2026.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini memegang peran vital dalam perdagangan energi global. Sejak konflik meletus pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan membatasi akses pelayaran di kawasan tersebut.
Ribuan kapal tertahan, distribusi minyak terganggu, dan sekitar 20% pasokan minyak dunia yang melintasi jalur ini ikut terdampak. Eskalasi situasi terlihat dari penempatan ranjau laut, penyitaan kapal dagang, hingga konfrontasi dengan blokade militer Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat jalur pelayaran tersebut semakin berisiko tinggi bagi stabilitas ekonomi global. Dalam hal ini, memahami perbedaan antara selat dan terusan menjadi penting karena keduanya sama-sama berperan dalam jalur pelayaran internasional, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda secara mendasar.
Apa Itu Selat?
Selat merupakan jalur perairan alami yang menghubungkan dua laut atau samudra dan biasanya berada di antara dua daratan. Selat Hormuz terbentuk melalui proses geologi selama jutaan tahun dan menjadi salah satu contoh paling strategis di dunia.
Karena sifatnya sebagai jalur sempit atau chokepoint, selat menjadi titik wajib yang harus dilalui kapal dalam rute tertentu. Hal ini membuatnya sangat penting sekaligus rentan terhadap gangguan geopolitik.
Ketika akses di Selat Hormuz dibatasi, dampaknya langsung terasa secara global. Jalur ini hampir lumpuh akibat serangan militer, penyitaan kapal, dan blokade laut. Karakter utama selat terlihat dari dua hal utama, yaitu tidak dapat dipindahkan atau direkayasa ulang, serta sangat bergantung pada stabilitas kawasan di sekitarnya.
Apa Itu Terusan?
Berbeda dengan selat, terusan merupakan jalur air buatan manusia yang dibangun untuk menghubungkan dua perairan besar demi mempercepat pelayaran. Contoh paling terkenal adalah Terusan Suez dan Terusan Panama.
Terusan dirancang secara teknis sehingga dapat dikontrol oleh otoritas tertentu. Jalur ini memiliki keunggulan dalam hal pengelolaan, termasuk pengaturan kapasitas, tarif, hingga akses kapal.
Terusan Suez memungkinkan kapal menghindari perjalanan panjang mengelilingi Afrika, sementara Terusan Panama menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik tanpa harus memutar melalui Amerika Selatan.
Karena dibangun dengan investasi besar dan membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan, terusan memiliki sistem tarif resmi yang dikenakan kepada pengguna sebagai bagian dari biaya operasional.
Hak Transit dan Biaya Selat vs Terusan
Perbedaan paling mencolok antara selat dan terusan terlihat pada aspek hukum internasional. Berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), kapal memiliki hak lintas transit di selat internasional.
Artinya, kapal dapat melintas secara terus menerus tanpa hambatan. Negara yang berbatasan dengan selat hanya dapat mengatur aspek keselamatan atau lingkungan, tetapi tidak dapat mengenakan biaya transit umum.
Sebaliknya, terusan dapat mengenakan biaya tol. Hal ini dianggap wajar karena jalur tersebut dibangun dan dikelola oleh manusia. Pendapatan dari tarif digunakan untuk pemeliharaan, pengembangan, dan operasional.
Sebagai contoh, Terusan Suez menghasilkan pendapatan miliaran dolar setiap tahun bagi Mesir. Begitu pula Terusan Panama yang mengenakan biaya berdasarkan ukuran kapal, muatan, dan kepadatan lalu lintas.
Selat Lebih Rentan Dibanding Terusan
Perbedaan antara selat dan terusan tidak hanya terletak pada aspek fisik, tetapi juga dampak geopolitiknya. Selat seperti Selat Hormuz tidak memiliki alternatif cepat dalam skala besar. Ketika terjadi gangguan, dunia langsung merasakan dampaknya melalui lonjakan harga minyak dan terganggunya rantai pasok global.
Dalam konflik terbaru, penggunaan taktik militer, seperti ranjau laut, kapal cepat, dan penyitaan kapal dagang memperlihatkan betapa rentannya jalur ini terhadap eskalasi konflik.
Sebaliknya, terusan memiliki sistem pengelolaan yang lebih stabil. Meskipun tetap bisa terdampak konflik, jalur ini memiliki mekanisme kontrol yang lebih jelas sehingga dampaknya cenderung lebih terukur.
Apakah Semua Jalur Laut Bisa Memungut Biaya?
Sistem pelayaran global mengikuti prinsip yang dibentuk oleh hukum internasional dan kondisi geografis. Terusan buatan seperti Terusan Suez dan Terusan Panama mengenakan biaya sebagai bagian dari operasional.
Namun selat alami, seperti Selat Hormuz, Selat Malaka, dan Selat Singapura tidak mengenakan biaya transit untuk pelayaran biasa. Terdapat pengecualian tertentu, seperti Selat Bosporus dan Selat Dardanella yang diatur dalam Konvensi Montreux.
Jalur ini tetap memberikan akses bebas bagi kapal dagang, dengan kemungkinan biaya layanan terbatas yang telah distandarisasi. Ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan betapa pentingnya memahami perbedaan antara selat dan terusan. Keduanya sama-sama vital dalam perdagangan global, tetapi memiliki karakter yang sangat berbeda.
Selat berperan sebagai jalur alami yang tidak tergantikan dan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik. Terusan menjadi jalur buatan yang dapat dikontrol, diatur, dan dikembangkan sesuai kebutuhan.
Jika selat mulai dikenakan biaya seperti terusan, hal tersebut berpotensi menciptakan preseden baru dalam perdagangan global. Negara-negara dapat menggunakan jalur strategis sebagai alat tekanan ekonomi dan politik, yang pada akhirnya meningkatkan biaya logistik dan mengganggu rantai pasok dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




