Banjir Semarang Bawa Duka dan Derita bagi Warganya
Sabtu, 1 November 2025 | 06:29 WIB
Semarang, Beritasatu.com - Genangan air setinggi lutut hingga pinggang yang tak kunjung surut selama hampir sepuluh hari di sejumlah wilayah Kota Semarang tak hanya memutus akses jalan dan melumpuhkan aktivitas warga. Banjir kali ini juga menyisakan kisah kemanusiaan yang menyentuh, mulai dari warga yang jatuh sakit, stok bahan pangan yang menipis, hingga proses pemakaman jenazah yang harus dilakukan dengan perahu karet.
Warga Kampung Gembongsari, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, akhirnya mendirikan dapur umum secara mandiri pada Jumat (31/10/2025) siang. Langkah ini diambil karena bantuan dari pemerintah yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan dasar 250 warga terdampak.
Pantauan Beritasatu.com di lokasi menunjukkan, genangan air setinggi 30 sentimeter masih merendam sebagian rumah warga. Aktivitas memasak dan mencuci nyaris lumpuh, mendorong warga bergotong royong mencari solusi sendiri.
Ketua RT setempat, Marsono, menjadi penggerak utama pendirian dapur umum darurat. Bersama ibu-ibu PKK dan pemuda kampung, mereka mengumpulkan dana seadanya untuk membeli beras, sayuran, telur, dan ikan asin. Makanan hasil masakan kemudian dibagikan kepada warga yang rumahnya masih tergenang air.
“Bantuan dari pemerintah hanya datang satu kali, berupa tiga kardus mi instan dan satu karung beras. Itu jelas tidak cukup untuk 250 warga yang terdampak,” ungkap Marsono, Jumat (31/10/2025).
Ia menuturkan, pengajuan bantuan tambahan ke kelurahan sudah dilakukan sejak beberapa hari lalu, namun belum mendapat tanggapan. “Karena lambatnya respon, kami inisiatif buka dapur umum sendiri. Sudah lima hari ini warga masak bareng supaya semua bisa makan,” ujarnya.
Di kawasan Trimulyo, Kecamatan Genuk, peristiwa mengharukan itu benar-benar terjadi. Saat warga tengah berduka atas meninggalnya Kaslimah (65), air yang merendam jalan membuat mobil jenazah tidak dapat melintas. Tim SAR Ditpolairud Polda Jawa Tengah bersama warga kemudian mengevakuasi jenazah menggunakan perahu karet menuju tempat pemakaman umum (TPU) Trimulyo Wetan.
Perahu karet yang membawa jenazah melaju perlahan di tengah genangan hampir satu meter, disaksikan warga yang berdiri di tepi jalan dengan wajah haru.
“Kami lakukan dengan hati-hati agar jenazah bisa dimakamkan secara layak,” ujar salah seorang anggota tim SAR. Pemandangan itu menjadi potret nyata bagaimana bencana bukan hanya soal kerugian material, melainkan juga ujian empati dan kemanusiaan di tengah kesulitan.
Sementara itu, banjir yang belum juga surut menimbulkan dampak sosial yang semakin berat, terutama di kawasan Kaligawe, Genuk, dan Gayamsari. Heru Purnomo, warga Kaligawe, mengungkapkan istrinya mengalami gatal-gatal dan dua anaknya demam akibat air kotor yang terus menggenangi rumah. “Air sudah seminggu tidak surut, rumah lembap, jadi cepat sakit,” keluhnya.
Kondisi serupa dialami Sri Rejeki, warga Gayamsari, yang kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kami tidak bisa keluar untuk belanja, stok beras dan lauk sudah habis,” tuturnya. Banyak warga hanya mengandalkan bantuan dari tetangga atau dapur umum yang dibentuk secara swadaya.
Situasi ini menunjukkan, dampak banjir di Semarang bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga kemanusiaan. Di balik genangan yang menutup jalan, tersimpan kisah warga yang berjuang mempertahankan kesehatan, harapan, dan kehidupan di tengah bencana yang belum juga berakhir.
Banjir yang tak kunjung surut disebabkan kombinasi curah hujan tinggi dan siklus rob di pesisir utara Jawa. Pemerintah diminta segera mempercepat upaya penanganan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




