Alasan Evakuasi Ponpes Al-Khoziny Tak Pakai Alat Berat dari Awal
Jumat, 3 Oktober 2025 | 14:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Suasana penuh haru menyelimuti Posko BNPB Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Kamis (2/10/2025). Tangisan histeris para wali santri, terutama para ibu, terdengar pecah setelah mendengar kabar bahwa evakuasi korban reruntuhan musala pondok pesantren akan dilanjutkan dengan penggunaan alat berat.
Keputusan ini muncul setelah rapat tertutup antara tim gabungan dengan perwakilan wali santri. Dalam pertemuan itu, dijelaskan bahwa tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di lokasi reruntuhan setelah 72 jam pencarian intensif dengan peralatan canggih.
Langkah lanjutan ini tetap dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat proses evakuasi tidak hanya berfokus pada kecepatan, tetapi juga keselamatan korban, efektivitas penanganan, serta aspek kemanusiaan.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut beberapa alasan utama mengapa evakuasi korban reruntuhan tidak langsung menggunakan alat berat sejak awal kejadian:
Struktur Bangunan yang Tidak Stabil
Reruntuhan musala dan bangunan sejenis sering kali masih rapuh. Jika alat berat digunakan terlalu cepat, getaran atau tekanan mesin dapat memicu keruntuhan tambahan.
Kondisi ini justru bisa membahayakan korban yang masih terjebak serta tim penyelamat yang sedang bekerja di area tersebut.
Akses Evakuasi Lebih Terkendali
Metode manual memungkinkan tim SAR untuk membuka jalur penyelamatan secara hati-hati. Pendekatan ini mengurangi risiko tambahan bagi korban maupun relawan yang berada di sekitar lokasi bencana.
Pentingnya Analisis Struktural
Sebelum alat berat diturunkan, kondisi bangunan harus dianalisis terlebih dahulu oleh ahli konstruksi atau teknik sipil.
Proses ini membantu menentukan bagian mana yang paling berbahaya dan mana yang bisa dijadikan jalur evakuasi aman. Dengan pemetaan yang tepat, evakuasi dapat berjalan lebih terarah dan minim risiko.
Mencegah Cedera Tambahan
Penggunaan alat berat tanpa perhitungan bisa menggeser material reruntuhan sehingga berpotensi menimpa korban di dalamnya. Oleh sebab itu, pencarian manual lebih diprioritaskan pada tahap awal.
Pertimbangan Psikologis
Penyelamatan yang dilakukan dengan hati-hati memberikan ketenangan bagi keluarga korban.
Selain itu, bagi korban yang selamat, pendekatan ini dianggap lebih manusiawi dan dapat mengurangi potensi trauma.
Faktor Logistik dan Regulasi
Penggunaan alat berat membutuhkan koordinasi lintas lembaga serta persiapan logistik yang matang.
Selain itu, dukungan lain seperti tenaga medis, pencahayaan, dapur umum, hingga layanan pendampingan psikososial juga sangat dibutuhkan.
Semua unsur ini harus dipastikan tersedia agar evakuasi berjalan lancar dan terorganisir.
Strategi Evakuasi yang Berkelanjutan
Evakuasi korban reruntuhan umumnya dilakukan secara bertahap. Pada fase awal, pencarian dilakukan secara manual.
Setelah struktur bangunan dinyatakan lebih stabil, barulah alat berat digunakan untuk mempercepat proses pembersihan puing.
Penggunaan alat berat memang dapat mempercepat proses evakuasi, tetapi bukanlah langkah pertama yang langsung dilakukan. Keselamatan korban, keamanan tim penyelamat, dan stabilitas bangunan tetap menjadi prioritas utama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




