ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Review Film The First Omen, Fokus Ritual Sadistik dan Satanik

Minggu, 7 April 2024 | 09:11 WIB
TR
R
Penulis: Thomas Rizal | Editor: RZL
The First Omen (2024).
The First Omen (2024). (20th Century Studios)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketika sekuel atau prekuel seolah menjadi tren di industri perfilman, The First Omen (2024) berusaha menghidupkan kembali waralaba horor klasik The Omen, yang kini memiliki enam serial film dan dua serial televisi.

Sebagai prekuel dari waralaba The Omen (1976), The First Omen membawa penonton kembali ke Roma sebelum kelahiran sang anti-Kristus, Damien. Kisah dimulai dengan Margaret (Nell Tiger Free), seorang novisiat (penempuh pendidikan biarawati) Amerika yang dikirim ke Roma untuk memulai kehidupan religiusnya di sebuah panti asuhan.

Dengan dukungan dari Kardinal Lawrence (Bill Nighy), yang membantu mengelola panti asuhan tempat dirinya dibesarkan, Margaret diharapkan bisa menjadi contoh generasi muda di tengah bangkitnya sekularisme di Eropa era 70-an.

ADVERTISEMENT

Margaret mulai membentuk ikatan emosional dengan seorang penghuni panti, Carlita (Nicole Sorace) yang dianggap sebagai anak bermasalah oleh biarawati lainnya. Setelah mendapat peringatan dari Pastor Brennan (Ralph Ineson), bahwa Carlita menjadi kunci dari sekte gereja sesat yang menginginkan kelahiran anti-Kristus agar masyarakat sekuler kembali takut akan otoritas, Margaret menyadari dirinya terjebak dalam konspirasi agama radikal.

Salah satu aspek yang membuat The First Omen menonjol adalah penampilan dari Nell Tiger Free. Penonton diajak dalam kengerian yang dirasakan Margaret, misalnya ketika dirinya histeris ketika mengetahui kesalahan dan peran sesungguhnya dalam konspirasi sekte sesat.

The First Omen (2024). - (20th Century Studios/-)
The First Omen (2024). - (20th Century Studios/-)

Secara visual, The First Omen juga memukau dengan desain produksi yang detail dan sinematografi yang mengesankan. Hal itu juga didukung dengan efek dan latar suara orang berbisik ketika adegan-adegan menegangkan, yang menambah intensitas horor dalam film.

Beberapa adegan jump scare juga berhasil mengejutkan penonton, meskipun seolah hal itu menjadi trik klasik dalam waralaba Omen.

Sayangnya, The First Omen terkesan terlalu fokus pada ritual sadistik dan satanik sehingga mengorbankan alur plot dan penyampaian narasi ke penonton. Beberapa adegan juga terkesan terlalu vulgar, seperti ketika penonton dibuat menyaksikan kelahiran bayi, hingga pengeluaran bayi melalui operasi, yang tentunya bisa membuat penonton merasa tidak nyaman.

Sebagai prekuel, film ini justru mengandalkan terlalu banyak elemen-elemen dalam film sebelumnya, misalnya adegan awal yang memperlihatkan tewasnya Pastor Harris, sama seperti nasib yang dialami Pastor Brennan dalam film pertamanya.

Lalu juga ketika adegan seorang biarawati yang tewas membakar diri lalu gantung diri, seolah menjadi reka ulang dari adegan bunuh diri dari pengasuh Damien di film pertamanya. Hal ini membuat penonton, khususnya mereka yang mengikuti waralaba Omen, tak terlalu merasakan sesuatu yang baru dan menarik.

Pada akhirnya, The First Omen masih menghadirkan pengalaman menonton yang cukup menghibur, khususnya mereka yang memang mencari ketegangan melalui aspek-aspek horor gelap. Dengan durasi hampir dua jam, film garapan sutradara Arkasha Stevenson ini setidaknya masih lebih baik dari remake The Omen (2006), meski belum melampaui film pertamanya yang memang masuk jejeran salah satu film horor klasik terbaik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT