Pelaku Fashion Ecoprint Siap Rebut Pasar Pakaian Bekas Impor
Jumat, 14 November 2025 | 17:59 WIB
Surabaya, Beritasatu.com – Maraknya peredaran pakaian bekas impor ilegal benar-benar membuat pelaku industri tekstil maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meradang. Mereka menyambut baik langkah tegas pemerintah memberantas praktik pakaian bekas impor ilegal atau thrifting.
Langkah tegas itu juga disambut baik para pelaku UMKM fashion karena dianggap sebagai momentum kebangkitan industri tekstil nasional. Salah satunya adalah Didik Edi Susilo, pelaku usaha UMKM fashion ecoprint di Rungkut, Surabaya.
Menurutnya, keberadaan pakaian bekas impor ilegal sangat meresahkan para pelaku UMKM fashion. Didik bahkan yakin fashion ecoprint mampu merebut pasar pakaian bekas impor atau thrifting tersebut.
“Saya amat sangat yakin dapat merebut pasar thrifting. Karena pemerintah sendiri menyadari, kalau hal-hal ilegal tidak diberantas, bagaimana nasib para pelaku UMKM,” ujar Didik Edi Susilo dalam sambungan telepon, Jumat (14/11/2025).
Pemilik brand Namira Ecoprint itu menegaskan akan segera merumuskan cara untuk merebut pasar pecinta pakaian bekas impor. Menurutnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan para pelaku industri fashion ecoprint agar dilirik konsumen thrifting yang kebanyakan adalah kaum muda.
“Pokoknya produknya harus bagus, berkualitas, harga bersaing, akses promosi ada, dan akses event-event (pameran) juga tidak sulit. Ya itu saja caranya,” katanya.
Didik juga mengingatkan masyarakat agar mencintai produk tekstil atau fashion lokal dalam negeri. Sebab, hal itu sama saja membantu perekonomian para pelaku UMKM sepertinya, yang banyak menyerap tenaga kerja formal maupun nonformal.
“Kalau karyawan saya tidak banyak, tetapi saya juga banyak menyerap tenaga kerja nonformal, karena biasanya saya menjahitkan kain ecoprint ke penjahit rumahan. Belum lagi saya juga memberdayakan para tunarungu untuk ikut bekerja,” tambahnya.
Saat ini, UMKM fashion ecoprint masih sangat menjanjikan karena memiliki pangsa pasar sendiri. Namira Ecoprint, misalnya, mampu meraup omzet Rp 1 miliar per tahun dari bisnis produksi dan pemasaran fashion ecoprint.
Selain itu, ecoprint relatif ramah lingkungan karena teknik pewarnaan dan pencetakan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan batang untuk menciptakan motif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




