Psikolog Ungkap Kenapa Anak Harus Dibatasi Main Gadget
Jumat, 13 Maret 2026 | 13:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kebiasaan menggunakan gawai dan mengakses platform media sosial secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap perilaku remaja.
Psikolog anak, Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan algoritma platform digital membuat remaja yang aktif menggunakan media sosial terus terpapar konten yang sesuai dengan minat mereka. Rose menjelaskan remaja yang sering menggunakan media sosial akan melihat jenis konten yang sama secara berulang.
"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," katanya dilansir dari Antara.
Ia menjelaskan paparan konten seperti itu dapat membuat remaja sulit melepaskan diri dari layar dan berisiko mengalami ketergantungan. Selain itu, kemudahan transaksi digital juga dapat memicu perilaku konsumtif pada remaja.
"Mereka tahu cara membelanjakan, tetapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat," katanya.
Menurut Rose, kondisi tersebut bisa memicu perilaku impulsif pada remaja yang menggunakan platform digital tanpa edukasi dan pengawasan orang tua.
Ia menekankan pentingnya orang tua mengajarkan anak dan remaja mengatur penggunaan gawai, misalnya dengan membatasi pemakaian gawai hanya untuk keperluan sekolah dan kegiatan produktif.
"Yang perlu diajarkan adalah bagaimana menahan diri, bagaimana mengontrol penggunaan gadget supaya tidak berlebihan," katanya.
Rose menambahkan orang tua tetap perlu mendampingi dan mengawasi penggunaan platform digital oleh anak yang memasuki usia praremaja dan remaja.
Ia menjelaskan aspek perkembangan remaja seperti keterampilan sosial serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif perlu terus diasah.
Jika remaja menghabiskan sebagian besar waktunya mengakses platform digital, perkembangan kemampuan dan keterampilan tersebut berpotensi tidak optimal.
Psikolog anak, Alva Paramitha, menjelaskan ketertarikan anak dan remaja terhadap media sosial berkaitan dengan sistem kerja otak dan perkembangan psikologis mereka. Menurutnya, sistem kerja otak anak dan remaja masih berkembang dan sensitif terhadap stimulasi cepat.
"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," kata Alva pada Jumat (13/3/2026).
Selain itu, remaja yang berada dalam fase mencari identitas membutuhkan pengakuan dari lingkungan dan merasa dapat memperolehnya melalui platform media sosial. "Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif," ujarnya.
Ia juga menyampaikan algoritma media sosial terus menyajikan konten yang relevan dengan minat pengguna, sehingga anak dan remaja menjadi sulit berhenti menggunakannya. "Anak merasa kontennya menarik dan dekat dengan dirinya. Itu membuat mereka betah dan sulit berhenti," kata dia.
Pemerintah telah memberlakukan peraturan untuk membatasi anak berusia di bawah 16 tahun mengakses platform digital berisiko tinggi guna melindungi mereka dari paparan konten yang berpotensi berdampak buruk.
Psikolog menekankan peran orang tua sangat penting untuk mendukung penerapan peraturan tersebut demi melindungi anak-anak di ruang digital.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




