8 Ciri Ginjal Tidak Sehat, Begini Gejala Awal dan Cara Memeriksanya
Kamis, 18 Juni 2026 | 19:41 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ginjal merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kesehatan secara keseluruhan.
Organ berbentuk menyerupai kacang yang terletak di bagian belakang rongga perut ini bertugas menyaring limbah, racun, serta kelebihan cairan dari darah untuk kemudian dikeluarkan melalui urine.
Selain berfungsi sebagai penyaring alami tubuh, ginjal juga berperan dalam mengatur tekanan darah, menjaga keseimbangan elektrolit, seperti natrium dan kalium, membantu produksi sel darah merah melalui hormon eritropoietin, serta menjaga kesehatan tulang dengan mengaktifkan vitamin D.
Ketika fungsi ginjal mulai menurun atau mengalami kerusakan, berbagai proses penting dalam tubuh dapat terganggu. Akibatnya, limbah dan cairan yang seharusnya dibuang justru menumpuk di dalam tubuh dan memicu berbagai komplikasi kesehatan, mulai dari anemia, gangguan keseimbangan elektrolit, tekanan darah tinggi, hingga penumpukan racun yang dapat mengancam jiwa apabila tidak ditangani dengan baik.
Salah satu tantangan terbesar dalam penyakit ginjal adalah gejalanya sering kali tidak muncul pada tahap awal. Banyak orang baru menyadari adanya gangguan ginjal ketika kerusakan sudah cukup parah.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda ginjal tidak sehat sejak dini dan melakukan pemeriksaan secara berkala adalah langkah awal yang penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.
Ciri-ciri Ginjal Tidak Sehat yang Perlu Diwaspadai
Gangguan pada ginjal dapat menimbulkan berbagai gejala yang berbeda pada setiap orang. Namun, terdapat beberapa tanda umum yang sering muncul ketika fungsi ginjal mulai mengalami penurunan, seperti berikut ini yang dikutip dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK).
1. Berkurangnya jumlah urine
Salah satu gejala yang cukup sering terjadi adalah berkurangnya jumlah urine saat buang air kecil. Kondisi ini dapat disertai rasa nyeri, perih, atau tidak nyaman ketika berkemih. Pada beberapa kasus, seseorang juga dapat mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari.
2. Perubahan warna urine
Perubahan warna urine juga perlu menjadi perhatian. Urine yang tampak lebih keruh, berbusa, berwarna sangat gelap, atau bahkan bercampur darah dapat menjadi sinyal adanya gangguan pada sistem penyaringan ginjal.
3. Pembengkakan pada tubuh
Pembengkakan pada tungkai, pergelangan kaki, telapak kaki, hingga area wajah juga merupakan salah satu gejala yang umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan ginjal membuang kelebihan cairan dan garam dari tubuh sehingga cairan menumpuk di jaringan.
4. Nyeri punggung
Gejala lainnya adalah munculnya nyeri di punggung bagian bawah yang dapat menjalar ke area perut bawah atau selangkangan. Keluhan ini sering ditemukan pada kasus batu ginjal maupun infeksi ginjal.
5. Sering merasa mual
Penderita gangguan ginjal juga dapat mengalami mual, muntah, serta penurunan nafsu makan. Kondisi tersebut terjadi akibat penumpukan limbah metabolisme dalam darah yang memengaruhi sistem pencernaan.
6. Mudah lelah dan sesak napas
Selain itu, tubuh sering terasa lemas, mudah lelah, dan tidak bertenaga. Hal ini dapat terjadi karena ginjal yang rusak tidak mampu memproduksi hormon eritropoietin dalam jumlah cukup, sehingga produksi sel darah merah menurun dan menyebabkan anemia. Sesak napas juga dapat muncul akibat penumpukan cairan di paru-paru atau karena rendahnya kadar hemoglobin dalam darah.
7. Kulit sering mengalami gatal
Tidak sedikit penderita penyakit ginjal yang mengeluhkan kulit terasa gatal tanpa penyebab yang jelas. Menurut berbagai penelitian medis, gangguan ginjal dapat menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme dalam darah yang memicu rasa gatal berkepanjangan pada kulit.
8. Tekanan darah selalu tinggi
Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan juga sering menjadi tanda adanya masalah pada ginjal. Hubungan antara ginjal dan tekanan darah bersifat dua arah. Hipertensi dapat merusak ginjal, sementara kerusakan ginjal juga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat.
Pada tahap yang lebih lanjut, gangguan ginjal dapat menyebabkan anemia, gangguan konsentrasi, sulit tidur, kram otot, hingga gangguan irama jantung akibat ketidakseimbangan elektrolit.
Langkah Pemeriksaan Kesehatan Ginjal
Banyak penyakit ginjal berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan ginjal menjadi langkah penting untuk mendeteksi masalah sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter mengetahui kondisi ginjal secara lebih akurat, menilai tingkat kerusakan yang mungkin terjadi, serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
Semakin cepat gangguan ginjal ditemukan, semakin besar peluang untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
Berikut ini beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui kesehatan ginjal.
1. Tes darah untuk menilai fungsi ginjal
Salah satu pemeriksaan yang paling umum dilakukan adalah tes darah. Melalui pemeriksaan ini, dokter akan mengukur kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin merupakan zat sisa metabolisme otot yang biasanya disaring dan dibuang oleh ginjal.
Apabila kadar kreatinin meningkat, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa fungsi penyaringan ginjal mengalami penurunan. Selain kreatinin, tes darah juga digunakan untuk mengukur kadar blood urea nitrogen (BUN) atau nitrogen urea darah.
Urea merupakan limbah hasil pemecahan protein yang seharusnya dibuang melalui ginjal. Kadar BUN yang tinggi dapat menjadi salah satu petunjuk adanya gangguan fungsi ginjal.
Pemeriksaan darah juga dapat membantu dokter mengevaluasi keseimbangan elektrolit, seperti kalium, natrium, kalsium, dan fosfor yang sering terganggu pada penderita penyakit ginjal.
2. Tes urine untuk mendeteksi kerusakan ginjal
Pemeriksaan urine merupakan metode sederhana tetapi sangat penting untuk menilai kesehatan ginjal. Melalui analisis sampel urine, dokter dapat mendeteksi keberadaan protein, glukosa, darah, maupun zat-zat lain yang tidak seharusnya ditemukan dalam jumlah berlebihan.
Salah satu indikator penting adalah protein albumin. Dalam kondisi normal, protein tidak akan keluar bersama urine dalam jumlah besar. Jika ditemukan albumin dalam urine, kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal kerusakan ginjal.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan urine selama 24 jam untuk mengetahui jumlah protein dan kreatinin yang dikeluarkan tubuh dalam satu hari. Pemeriksaan ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kemampuan ginjal dalam menjalankan fungsinya.
3. Menghitung laju filtrasi flomerulus atau GFR
Pemeriksaan lain yang sering digunakan adalah penghitungan glomerular filtration rate (GFR). GFR merupakan ukuran yang digunakan untuk menilai seberapa baik ginjal menyaring limbah dari darah. Nilai ini biasanya dihitung berdasarkan kadar kreatinin, usia, jenis kelamin, dan beberapa faktor lainnya.
Secara umum, nilai GFR normal berada di atas 90 ml per menit. Apabila nilainya berada di bawah 60 ml per menit selama tiga bulan atau lebih, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya penyakit ginjal kronis. Semakin rendah nilai GFR, semakin berat tingkat penurunan fungsi ginjal yang dialami seseorang.
4. Pemeriksaan pencitraan untuk melihat kondisi ginjal
Selain pemeriksaan laboratorium, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan pencitraan untuk melihat struktur ginjal secara langsung. USG ginjal menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan karena aman, cepat, dan tidak menimbulkan rasa sakit.
Melalui USG, dokter dapat mendeteksi batu ginjal, kista, tumor, penyumbatan saluran kemih, hingga perubahan ukuran ginjal. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan CT scan atau MRI untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail mengenai kondisi ginjal dan jaringan di sekitarnya.
Pemeriksaan pencitraan sangat membantu dalam menemukan penyebab gangguan ginjal yang mungkin tidak terlihat melalui tes darah maupun urine.
5. Pengukuran tekanan darah secara rutin
Tekanan darah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan ginjal. Ginjal berperan dalam mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah di dalam tubuh. Ketika ginjal mengalami kerusakan, tekanan darah dapat meningkat.
Sebaliknya, tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Oleh karena itu, pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi bagian penting dalam pemeriksaan kesehatan ginjal.
Menjaga tekanan darah tetap dalam batas normal dapat membantu mencegah kerusakan ginjal sekaligus memperlambat perkembangan penyakit ginjal yang sudah ada.
Pemeriksaan kesehatan ginjal sangat dianjurkan bagi siapa saja, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tinggi. Penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, obesitas, maupun individu yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit ginjal sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala.
Kebiasaan merokok, konsumsi obat tertentu dalam jangka panjang, serta pola hidup tidak sehat juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal.
Melalui kombinasi tes darah, tes urine, penghitungan GFR, pemeriksaan pencitraan, dan pemantauan tekanan darah, dokter dapat menilai kondisi ginjal secara menyeluruh serta menentukan apakah terdapat gangguan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Deteksi dini menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan ginjal. Semakin cepat masalah ditemukan, semakin besar peluang untuk mempertahankan fungsi ginjal dan mencegah komplikasi serius di kemudian hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




