Dari Gowa ke Puncak Polri, Ini Kisah Perjalanan Jusuf Manggabarani
Selasa, 20 Mei 2025 | 15:31 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kabar duka datang dari jajaran kepolisian Tanah Air, Komjen Pol (Purn) Jusuf Manggabarani meninggal dunia pada Selasa (20/5/2025), di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, pukul 10.00 Wita.
Kepergian mantan Wakapolri ini menyisakan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga dan rekan sejawat, tetapi juga masyarakat Indonesia yang mengenalnya sebagai figur berdedikasi tinggi. Lantas, bagaimana perjalanan kariernya?
Awal Perjalanan: Lahir dan Tumbuh di Gowa
Jusuf Manggabarani lahir pada 11 Februari 1953 di Gowa, Sulawesi Selatan. Sejak muda, ia sudah menunjukkan keteguhan hati dan semangat juang yang kuat. Setelah menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akabri), ia lulus pada tahun 1975 dan resmi mengabdikan dirinya di Kepolisian Republik Indonesia.
Tak berhenti di situ, ia terus mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai pendidikan lanjutan seperti Jurpa Brimob, PTIK, Sespim, dan Sespati. Pendidikan-pendidikan ini menjadi fondasi penting bagi karier gemilangnya di institusi kepolisian.
Menapaki Tangga Karier hingga Menjadi Wakapolri
Selama lebih dari 30 tahun, Jusuf Manggabarani menjalani karier yang penuh pengabdian. Ia pernah dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Kapolda Sulawesi Selatan, Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam, Kadiv Propam, Irwasum, hingga puncaknya sebagai Wakapolri pada tahun 2010 hingga pensiun di 2011.
Di tengah masa baktinya, Jusuf Manggabarani meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo. Jenazahnya disemayamkan di Perumahan Bukit Khatulistiwa, Kecamatan Tamalanrea, sebelum diberangkatkan ke Jakarta untuk dimakamkan.
Keberanian yang Tak Terlupakan
Salah satu kisah yang melegenda adalah keberanian Jusuf menghadapi preman bernama Sukri di Palopo. Saat polisi lain tak berani bertindak, Jusuf—yang kala itu berpangkat Komisaris Besar—menerima tantangan duel dari Sukri. Dengan keberanian luar biasa, ia berhasil melumpuhkan Sukri, hingga muncul anggapan bahwa ia “kebal peluru”.
Sosok Ramah dan Tegas
Meski dikenal tegas dalam bertugas, Jusuf juga memiliki sisi humanis. Ia kerap melayani media dengan sikap terbuka, mencerminkan prinsip transparansi yang ia pegang teguh. Dalam setiap tugas, ia selalu menekankan pentingnya integritas dan profesionalisme, dua hal yang menjadi prinsip hidupnya sebagai anggota Polri.
Mewariskan Cahaya Bhayangkara
Pada tahun 2011, Jusuf Manggabarani menerbitkan buku biografi berjudul Cahaya Bhayangkara. Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan karier, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dan anggota Polri. Dalam buku itu, terekam jelas bagaimana komitmennya dalam membangun kepolisian yang bersih, humanis, dan profesional.
Kini, Jusuf Manggabarani meninggal dunia di usia 72 tahun, meninggalkan warisan keteladanan yang akan terus dikenang. Bangsa ini kehilangan sosok pemimpin yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga bijaksana dalam membina.
Kepergian Jusuf Manggabarani meninggal dunia menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen bangsa, khususnya institusi kepolisian. Dari Gowa hingga menjabat sebagai Wakapolri, ia menunjukkan bahwa ketulusan, keberanian, dan integritas akan selalu menemukan jalannya menuju puncak. Selamat jalan, Jenderal. Namamu akan terus hidup dalam sejarah bangsa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




