Gagalkan Penyelundupan 2 Ton Sabu, BNN Tabuh Kencang Genderang Perang
Selasa, 27 Mei 2025 | 21:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Martinus Hukom takjub dengan jumlah narkoba jenis sabu yang akan diselundupkan oleh kapal Sea Dragon Tarawa saat melintas di Kepulauan Riau. Penyelundupan sabu yang rencananya diedarkan di negara kawasan Asia Tenggara itu berhasil digagalkan tim gabungan pada Rabu (21/5/2025) silam.
“Beratnya mencapai 2 ton, jumlah penangkapan sabu terbesar sepanjang sejarah di negeri ini,” kata Marthinus dalam konferensi pers di Dermaga Bea Cukai, Tanjung Uncang, Batam, Senin (26/5/2025).
Awalnya, ia dan jajarannya mengestimasi jumlah narkoba yang diangkut KM MT Sea Dragon tidak akan sebesar itu. Hal ini mengingat ukuran dan kapasitas muatan kapal. Namun, setelah digeledah lebih jauh dan menyisir tiap sudut palka dan lambung kapal, ternyata jumlahnya jauh di atas perkiraan.
“Setelah ditimbang mencapai 2 ton, jumlah yang fantastis. Barang bukti ini setara Rp 5 triliun jika menggunakan harga pasaran saat ini,” kata Marthinus.
Sebagai kepala BNN, Marthinus tentu bangga dengan keberhasilan membendung barang haram perusak generasi bangsa dalam jumlah sangat besar masuk ke perairan Indonesia. Namun, di balik prestasi itu, ia juga merasa prihatin.
“Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa negeri kita merupakan target utama para kartel narkoba internasional. Sesuai instruksi Pak Presiden, kami akan menabuh genderang perang lebih kencang terhadap bandar narkoba,” katanya.
Penyelundupan narkoba seberat 2 ton melalui jalur laut ini sekaligus menegaskan kerentanan geografis negeri ini. Indonesia dengan 108.000 kilometer garis pantai menjadi sasaran empuk kartel narkoba internasional.
Hukom menjelaskan, kondisi geografis ini memerlukan strategi khusus, terutama penguatan pengawasan di wilayah perbatasan dan pesisir. "Kita tidak bisa mengandalkan BNN saja. Kolaborasi dengan TNI AL dan instansi lain mutlak diperlukan," tegasnya.
Menurut Hukom, strategi BNN sejalan dan tegak lurus dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya poin ketujuh tentang pemberantasan narkoba dan reformasi hukum. Karena itu, menurut Hukom, peran teknologi dan intelijen menjadi sangat krusial dan urgent.
"Penggunaan big data memungkinkan BNN melacak pola peredaran narkoba. Intelijen modern adalah senjata utama kita," ujar Hukom.
Akhirnya, Martinus Hukom menegaskan, perang melawan narkoba membutuhkan konsistensi dan kolaborasi semua pihak. "Dengan enam strategi BNN dan dukungan rakyat, kita bisa menciptakan Indonesia bersih narkoba," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




