Presiden Prabowo Sentil Pihak-pihak yang Minta Program MBG Distop
Sabtu, 18 Oktober 2025 | 14:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Prabowo Subianto menyayangkan sejumlah pihak yang mencibir dan meminta pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dihentikan karena kasus keracunan. Ia mengatakan, program MBG padahal telah mencapai 36,2 juta penerima manfaat dan telah membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat.
“Selalu mengejek program ini dan selalu mengangkat-angkat kesulitan atau kesalahan. Memang program ini tidak sempurna dalam pelaksanaan sampai sekarang ada beberapa ribu anak yang sakit perut keracunan makan, tetapi yang dibesar-besarkan adalah keracunan seolah-olah program ini harus dihentikan,” ujar Prabowo dalam sambutannya di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu, (18/10/25).
Meski terdapat kasus keracunan, menurutnya, secara umum program MBG berjalan dengan baik. Karena jika dihitung secara statistik kasus keracunan hanya sekitar 0,0007% dari total keseluruhan 1,4 miliar porsi MBG yang telah dibagikan kepada para penerima manfaat.
"Jadi kalau diambil statistik adalah 0,0007 atau 0,0008 artinya program ini 99,99% berhasil. Jadi, di mana ada usaha manusia yang 99,99% berhasil dibilang gagal?" ujarnya.
Prabowo menekankan, bahkan program MBG di Indonesia telah menjadi perhatian dunia, salah satunya dari Rockefeller Institute yang sudah bekerja 100 tahun di bidang pangan di bidang program antikelaparan dan antikemiskinan yang pada pekan lalu mengadakan pertemuan dengan dirinya.
“Waktu kita mulai program MBG ini baru 77 negara yang sudah melaksanakan, Indonesia waktu itu kalau tidak salah negara ke-78 atau ke-79. Sekarang sudah ada 112 negara dan sebagian besar ikut contoh dari kita," jelas Prabowo.
Menurut Prabowo, jika dibandingkan dengan negara yang lebih dahulu menjalankan program serupa, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penerima manfaat terbesar dalam setahun yakni 36 juta penerima.
Contohnya, Brasil yang lebih duluan menjalankan program serupa diketahui butuh waktu 11 tahun untuk mencapai capaian 40 juta penerima manfaat.
“Kita ini dianggap penjuru dan contoh. Selain Brasil dan India, Indonesia dianggap yang paling berani dan salah satu yang paling cepat mencapai 36 juta penerima manfaat dalam waktu satu tahun. Brasil membutuhkan 11 tahun untuk mencapai 40 juta, Indonesia lakukan dalam satu tahun,” tutup Prabowo.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




