Fakta-fakta MBG Tetap Disalurkan untuk Siswa Saat Libur Sekolah
Rabu, 24 Desember 2025 | 14:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Program makan bergizi gratis (MBG) tetap dilaksanakan meski sekolah memasuki masa libur semester.
Kebijakan tersebut ditegaskan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari komitmen negara dalam menjaga asupan gizi anak-anak Indonesia dan kelompok rentan, agar masa liburan tidak menjadi periode rawan bagi kesehatan dan tumbuh kembang.
Dengan pendekatan yang terukur dan berkelanjutan, distribusi MBG tetap dilakukan enam hari dalam sepekan tanpa jeda. Berikut fakta-fakta MBG tetap berjalan saat libur sekolah.
MBG Tetap Berjalan Selama Libur Sekolah
BGN memastikan penyaluran MBG tidak berhenti hanya karena kegiatan belajar mengajar diliburkan. Program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini tetap disalurkan selama enam hari setiap pekan, sebagaimana hari aktif biasanya.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjamin keberlanjutan pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang sangat bergantung pada program ini sebagai sumber asupan harian.
Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa libur sekolah tidak identik dengan penghentian layanan gizi. Justru pada periode inilah, pengawasan terhadap pola makan anak cenderung berkurang sehingga dukungan negara dinilai semakin penting.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati, menjelaskan bahwa masa libur sekolah berpotensi meningkatkan risiko kekurangan gizi. Saat rutinitas sekolah terhenti, pola makan keluarga tidak selalu terpantau dengan baik.
Oleh karena itu, layanan MBG tetap dilanjutkan agar liburan tidak berdampak negatif terhadap kesehatan anak dan ibu.
Menurut Hidayati, konsistensi merupakan kunci keberhasilan program MBG. Negara ingin memastikan bahwa liburan tetap menjadi fase aman bagi pertumbuhan anak serta kesehatan ibu, karena dukungan gizi yang berkesinambungan terus diberikan.
"Kami ingin memastikan bahwa masa liburan bukan periode berisiko bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu, tapi tetap menjadi fase yang aman karena dukungan gizi tetap berjalan,” kata Hidayati, dikutip dari laman resmi, Rabu (24/12/2025).
MBG untuk Kelompok 3B Tetap Tanpa Jeda
Tidak hanya menyasar siswa, MBG juga terus dibagikan kepada kelompok rentan yang dikenal sebagai kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia balita.
Kebijakan ini mengacu pada Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025.
Dalam pedoman tersebut ditegaskan bahwa pelayanan bagi kelompok 3B tidak boleh terhenti. Mereka membutuhkan asupan gizi yang rutin, terukur, dan berkelanjutan.
"Karena itu, meskipun sekolah libur, distribusi MBG untuk kelompok 3B tetap berjalan enam hari sepekan. Ini merupakan amanat pedoman resmi dan wujud komitmen negara menjaga gizi sejak dini,” tuturnya.
Hidayati menegaskan bahwa ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan kelompok yang paling memerlukan perhatian gizi. Keberlanjutan distribusi MBG enam hari sepekan menjadi bentuk nyata komitmen negara dalam menjaga kesehatan sejak fase paling awal kehidupan.
Opsi Penyaluran MBG bagi Siswa Saat Libur
BGN memberikan fleksibilitas dalam penyaluran MBG kepada siswa selama libur sekolah. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan bahwa keputusan penerimaan MBG selama libur diserahkan kepada masing-masing sekolah. Apabila sekolah memilih tidak menerima, BGN tidak akan memaksakan penyaluran.
Meski demikian, Nanik menegaskan bahwa secara prinsip program MBG tidak mengenal kata libur. Jika siswa tidak datang ke sekolah, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) tetap memproduksi sajian MBG untuk melayani penerima manfaat dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Salah satu mekanisme yang ditawarkan adalah sistem paket. Dalam skema ini, jatah MBG untuk enam hari disalurkan dua kali dalam sepekan. Menu yang diberikan berupa kombinasi makanan siap santap dan makanan kemasan, seperti roti, telur, susu, serta buah.
Selain itu, tersedia pula opsi pengambilan makanan siap santap setiap hari. Namun, siswa yang memilih skema ini harus bersedia datang ke sekolah setiap hari untuk mengambil paket MBG.
Bantahan Isu MBG Saat Libur Sekolah Menghabiskan Anggaran
BGN juga menepis anggapan bahwa pemberian MBG selama libur sekolah hanya bertujuan menghabiskan anggaran. Nanik menyatakan bahwa justru terjadi penghematan dalam pelaksanaan program ini.
Pada tahun 2025, anggaran MBG tercatat sebesar Rp 71 triliun dengan target awal enam juta penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah dan kelompok 3B. Namun dalam implementasinya, BGN mengklaim mampu menjangkau hingga 50 juta anak Indonesia serta kelompok rentan.
"Justru sebaliknya, kami menghemat anggaran, karena luar biasa di tahun 2025 itu, bayangkan, anggaran MBG tahun ini Rp 71 triliun, targetnya untuk 6 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah dan ibu hamil, ibu menyusui, balita (3B)," kata Nanik, dikutip dari Antara, Rabu (24/12/2025).
Penghematan ini terjadi karena banyak yayasan dan mitra yang bersedia membangun dapur MBG secara mandiri. Dengan skema tersebut, biaya yang dikeluarkan BGN difokuskan pada penyediaan MBG sebesar Rp 15.000 per porsi, serta pembayaran gaji karyawan BGN, termasuk SPPG, ahli gizi, dan akuntan yang jumlahnya hampir 100.000 orang dan tersebar di seluruh Indonesia.
MBG Bersifat Sukarela dan Tidak Memaksa
Lebih lanjut, BGN menegaskan bahwa pemberian MBG selama libur sekolah tidak bersifat wajib. Melalui sistem SPPG, pihak BGN akan menawarkan terlebih dahulu kepada sekolah penerima manfaat.
Anak-anak tidak diwajibkan datang ke sekolah untuk mengambil makanan. Paket MBG dapat diambil oleh orang tua atau anggota keluarga lainnya. Sekolah yang ingin tetap menerima MBG selama liburan dapat mengajukan permohonan ke SPPG, yang selanjutnya akan mengirimkan menu makanan kering sesuai permintaan.
Sebaliknya, apabila sekolah dan wali murid memutuskan tidak menerima MBG, BGN memastikan tidak ada paksaan dalam bentuk apa pun.
Alasan Utama MBG Tetap Diberikan Saat Libur Sekolah
Pemberian MBG selama libur sekolah bertujuan menjaga kesinambungan perbaikan gizi siswa. Menurut Nanik, peningkatan kualitas gizi tidak bisa dilakukan secara terputus-putus, melainkan harus konsisten agar hasilnya optimal.
Kebijakan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang terlewat dari program MBG.
Anak usia sekolah di jalanan, Sekolah Rakyat, hingga santri di pondok pesantren, baik yang terdaftar maupun tidak, semuanya harus mendapatkan akses makan bergizi gratis.
"Jadi anak-anak tidak dipaksa untuk datang ke sekolah. Silakan saja kalau makanan MBG itu diambil ibunya, ayahnya, atau saudaranya," ungkapnya.
Sementara itu, untuk rencana penyaluran MBG kepada lansia dan penyandang disabilitas, BGN menyebut masih akan dilakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Sosial karena program tersebut masih berada dalam ranah kebijakan Kemensos.
Keberlanjutan MBG selama libur sekolah menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga kualitas gizi anak dan kelompok rentan tanpa terputus oleh kalender akademik. Dengan sistem yang fleksibel, konsisten, dan tidak memaksa, MBG diharapkan tetap menjadi penopang utama kesehatan generasi masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




