Saat Kemiskinan Merenggut Nyawa Siswa SD di NTT
Rabu, 4 Februari 2026 | 08:23 WIB
Bajawa, Beritasatu.com - Siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Bocah ini bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Sebelum meninggal, YBR menulis pesan terakhir bagi ibunya.
Kamis (29/1/2026) pagi, kebun cengkih milik Welumina Nenu--nenek YBR--menjadi saksi sunyi tragedi yang mengguncang Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa kelas IV SD itu ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.
Jenazah YBR pertama kali ditemukan oleh KD (59), warga setempat yang tengah menuju pondok untuk mengikat ternak. Saat berjalan, KD melihat tubuh anak itu tergantung di pohon. Teriakannya membelah sunyi kebun. Dia berteriak memanggil warga sekitar untuk datang, lalu melaporkan kejadian itu ke polisi.
Personel Polres Ngada yang dipimpin Iptu Thomas Aquino Mere dari Satuan Intelkam segera tiba di lokasi. Tempat kejadian perkara (TKP) diamankan. Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada melakukan olah TKP.
Hasil olah TKP menunjukkan YBR tergantung dengan dua utas tali nilon berwarna hijau. Polisi mengamankan barang bukti berupa tali, pakaian korban, dan selembar kertas berisi tulisan tangan dalam bahasa Bajawa. Tulisan itu diduga pesan perpisahan kepada ibunya. Tulisan almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga.
Setelah diidentifikasi polisi, korban dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk menjalani visum et repertum. Polres Ngada melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R Pissort menegaskan pendalaman kasus terus dilakukan, termasuk pengumpulan keterangan saksi dan koordinasi dengan keluarga.
“Atas peristiwa ini, Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” kata Ipda Benediktus.
Dia mengimbau masyarakat lebih peka terhadap psikologis anak. Polres Ngada menekankan agar tanda-tanda awal permasalahan perlu dilaporkan agar mendapatkan pendampingan tepat waktu.

Sepucuk Surat
Di antara kesunyian, sepucuk surat kecil yang ditulis YBR menjadi saksi bisu. Kata-katanya sederhana, tetapi sarat emosi. Ia meminta ibunya merelakan kepergiannya dan tidak menangis.
Dalam suratnya, YBR menulis:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dahulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari saya
Selamat tinggal Mama."
Kalimat-kalimat polos itu mencerminkan beban yang tak seharusnya dipikul anak seusianya. Tanpa amarah atau keluhan, surat itu justru menegaskan kesedihan yang membekapnya di balik senyum sehari-hari.
YBR tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk bambu berukuran 2 x 3 meter di desa tersebut. Tempat itu menjadi saksi perjalanan hidupnya yang berakhir tragis di kebun cengkih depan pondok. Saat kejadian, neneknya sedang mandi di kali dekat pondok.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak usia 1 tahun dan 7 bulan, ia diasuh neneknya karena sang ibu, Maria Goreti Te’a (47), bekerja sebagai petani dan serabutan, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan dan tak kembali.
Sehari-hari, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Menu makan mereka sederhana: pisang dan ubi menjadi santapan utama. Sang nenek menggambarkan cucunya sebagai anak pendiam dan penurut. Cucunya hanya meminta buku tulis dan pena untuk sekolah.
“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” ujar Welumina Nenu lirih saat ditemui, Selasa (3/2/2026).
Desa Wawowae berada di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT, dengan kode pos 86413. Desa ini terletak di dataran tinggi sekitar 750-1.500 meter di atas permukaan laut, sehingga tanahnya subur. Wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Bajawa yang didominasi pegunungan, termasuk Gunung Inerie.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngada 2024–2025, Desa Wawowae merupakan desa agraris dengan ekonomi yang kuat bergantung pada pertanian dan perkebunan.
Sektor utama desa ini adalah pertanian kopi. Wawowae dikenal sebagai salah satu daerah potensial untuk kopi arabika organik dengan ketinggian 1.000-1.500 meter di atas permukaan laut yang sangat mendukung kualitas kopi. Pengelolaan kopi biasanya dilakukan secara berkelompok, sehingga petani saling berbagi pengalaman dan meningkatkan mutu produksi.
Selain kopi, masyarakat juga menanam sayur-sayuran, seperti bayam, kangkung, terung, wortel, tomat, bawang merah, dan pakcoi, sebagai tambahan pangan dan pendapatan keluarga.
Desa ini dihuni 1.626 warga. Infrastruktur jalan dari ibu kota Kecamatan Bajawa ke Wawowae kini telah diaspal, sehingga memudahkan mobilitas ekonomi dan akses ke Kota Bajawa.
Meski begitu, para petani menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen kopi. Produksi kopi rakyat di Ngada juga sempat fluktuatif pada 2023-2024, sehingga pendapatan masyarakat terkadang tidak stabil.

Hari Terakhir
Pagi sebelum tragedi, YBR mengeluh pusing dan enggan pergi sekolah. Sang ibu khawatir ia tertinggal pelajaran, tetapi tetap mendorongnya berangkat dengan menumpang ojek. Siang harinya, kabar duka menghantam keluarga tanpa peringatan.
“Saya kaget ada kabar, dari tetangga. Saya pikir dia sedang pergi sekolah,” kata Maria, ibu korban, dengan suara bergetar.
Sebelum pergi, YBR sempat menginap di rumah ibunya. Ia kembali ke rumah neneknya pada pagi hari dengan menumpang ojek. Sang ibu memberikan nasihat terakhir agar tetap rajin bersekolah, tetapi kondisi ekonomi keluarga menjadi kenyataan pahit.
Keluarga YBR menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan. Anak-anak diasuh terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas. Dari lima bersaudara, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Ironisnya, mereka juga tidak tercatat menerima bantuan pemerintah, baik rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lain.
Tragedi YBR bukan sekadar kisah sedih keluarga, tetapi alarm bagi masyarakat dan negara. Anak-anak yang tumbuh dalam senyap, di tengah kemiskinan, keterpisahan keluarga, dan minim perlindungan sosial, rentan menghadapi risiko besar.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan akan menindaklanjuti kasus ini. Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan pihaknya akan menyelidiki penyebab tragedi tersebut. “Nanti kita selidiki ya, penyebabnya apa dan sebagainya,” ujarnya singkat, Selasa (3/2/2026).
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, menyampaikan keprihatinannya. Ia menekankan pentingnya membangun basis data Kemensos agar menjangkau seluruh keluarga miskin, termasuk kategori miskin ekstrem.
“Kita harus memperkuat pendampingan dan memastikan tidak ada keluarga yang luput dari perhatian pemerintah,” tegas Gus Ipul.
Surat yang ditulis YBR kini menjadi simbol kesedihan sekaligus panggilan untuk refleksi, yakni seorang anak pergi meninggalkan dunia karena ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah senilai Rp 10.000.
Pesan itu menunjukkan, beban yang dialami anak-anak di daerah terpencil seringkali tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya fatal. Kurangnya akses pendidikan, minimnya perlindungan sosial, dan tekanan ekonomi dapat mendorong tragedi yang tak diinginkan.
“Kami prihatin dengan kejadian ini. Kami akan mendalami dan nantinya menyampaikan hasilnya ke publik. Untuk informasi lebih jelas, silakan hubungi Bu Diyah karena akan segera dilakukan case conference," ujar komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solikah kepada Beritasatu.com, Selasa (3/2/2026).
Kematian YBR meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian terhadap anak-anak, terutama mereka yang hidup dalam kondisi sulit.
Gubuk bambu, selembar surat, dan pohon cengkih, menjadi saksi bisu kepergian seorang anak yang tak seharusnya menanggung beban sebesar itu. Negara dan masyarakat diingatkan untuk hadir, memperhatikan, dan mencegah tragedi serupa terjadi lagi.
Catatan: Artikel ini memuat isu bunuh diri yang dapat memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Jika Anda merasa tertekan, memiliki pikiran menyakiti diri sendiri, atau membutuhkan bantuan, segera hubungi tenaga kesehatan, psikolog, atau layanan bantuan darurat di wilayah Anda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




