Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT Diusut Lintas Lembaga
Rabu, 4 Februari 2026 | 09:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi meninggalnya siswa sekolah dasar berinisial YBR di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tak berhenti sebagai peristiwa duka keluarga. Kasus ini menjadi perhatian nasional dan kini masuk ke tahap case conference atau konferensi kasus lintas lembaga, melibatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kepolisian, serta kementerian terkait, untuk mengungkap penyebab utama di balik keputusan fatal seorang anak.
Proses ini untuk memastikan negara hadir, tidak hanya dalam pengungkapan kasus, tetapi juga dalam pemulihan keluarga dan evaluasi sistem perlindungan anak di daerah.
Case conference atau konferensi kasus adalah pertemuan diskusi terstruktur antara berbagai pihak terkait untuk membahas kasus spesifik, menganalisis data secara mendalam, serta merencanakan dan mengoordinasikan solusi.
Komisioner KPAI Dyah Puspitarini meminta kepolisian tidak terburu-buru menutup perkara sebelum motif utama kematian benar-benar terungkap. Menurut Dyah, pengungkapan secara detail penting agar tidak muncul stigma negatif terhadap korban dan keluarganya.
“Kami selalu menekankan, setiap kasus anak mengakhiri hidup harus tetap diproses sampai jelas penyebab utamanya. Jangan langsung ditutup, karena dari situ kita bisa belajar dan mencegah kasus serupa terulang,” kata Dyah kepada Beritasatu.com, Rabu (4/2/2026).
Dalam konferensi kasus tersebut, KPAI memastikan perlindungan terhadap identitas anak tetap diutamakan, sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak. Selain itu, keluarga korban didorong untuk mendapatkan pendampingan psikologis dan akses bantuan sosial dari pemerintah.
Pada sisi lain, Dyah menegaskan kasus anak mengakhiri hidup tidak pernah berdiri sendiri. Menurutnya, pengalaman KPAI menunjukkan ada rangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, pola pengasuhan, hingga kemungkinan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
“Kasus seperti ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, misalnya karena anak tidak bisa membeli buku dan pena. Itu memang fakta ekonomi, tetapi bisa jadi ada faktor pengasuhan dan juga potensi bullying yang harus ditelusuri,” tambah Dyah.
Dyah mencontohkan kasus serupa yang pernah terjadi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada 2023. Saat itu, seorang anak sekolah dasar yang tinggal bersama neneknya ditemukan meninggal setelah meneburkan diri ke sungai. Faktor pemicunya juga berlapis, mulai dari keterpisahan dengan orang tua hingga keterbatasan ekonomi.
“Polanya mirip. Anak tidak tinggal dengan orang tua, hidup dengan nenek, kehabisan uang jajan, lalu muncul tekanan yang tidak terlihat oleh orang dewasa. Karena itu, kami minta kasus di Ngada ini didalami secara menyeluruh,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




