ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengapa Awal Ramadan Sering Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

Senin, 16 Februari 2026 | 12:30 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Menelisik alasan penetapan awal Ramadan kerap berbeda.
Menelisik alasan penetapan awal Ramadan kerap berbeda. (Pexels/Sami Abdullah)

Jakarta, Beritasatu.com - Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam, termasuk di Indonesia. Datangnya 1 Ramadan menandai dimulainya ibadah puasa selama satu bulan penuh, sebuah kewajiban yang dijalankan dengan penuh kesungguhan dan harapan akan keberkahan.

Di balik suasana khidmat tersebut, hampir setiap tahun muncul pertanyaan yang sama di tengah masyarakat, mengapa awal Ramadan bisa berbeda-beda? Pertanyaan ini wajar, mengingat penetapan awal bulan suci kerap disertai perbedaan keputusan di berbagai kalangan.

Di Indonesia, perbedaan penetapan awal puasa bukanlah hal baru. Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.

Sementara itu, organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga mengumumkan keputusan masing-masing terkait 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah. Bahkan, beberapa komunitas lain terkadang memulai puasa pada waktu yang berbeda.

ADVERTISEMENT

Perbedaan tersebut umumnya muncul karena variasi metode dan penafsiran terhadap tanda masuknya awal bulan. Agar lebih memahami persoalan ini secara utuh, penting untuk menelusuri dasar historis dan dalil syar’i yang melandasinya.

Sejarah Penetapan Kalender Hijriyah

Pembahasan tentang awal bulan Ramadan tidak dapat dipisahkan dari sistem kalender Hijriyah. Kalender ini menggunakan sistem lunar, yakni perhitungan waktu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Hal ini berbeda dengan kalender Masehi yang berpatokan pada peredaran bumi mengelilingi matahari.

Sejarah penyusunan kalender Hijriyah bermula pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, muncul kebutuhan administrasi pemerintahan yang memerlukan penanggalan resmi, sementara sejumlah dokumen belum mencantumkan tahun. Pada tahun 17 Hijriyah, disusunlah sistem kalender yang kemudian dikenal sebagai kalender Hijriyah.

Penentuan awal penanggalannya disepakati berdasarkan peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada bulan Rabiulawal. Dari peristiwa hijrah inilah kalender tersebut dinamakan Hijriyah.

Al-Qur’an memberikan banyak petunjuk mengenai sistem waktu dalam Islam, termasuk terkait Ramadan. Allah Swt berfirman dalam Al-Baqarah ayat (185):

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, siapa di antara kamu menyaksikan (berada di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka berpuasalah. Namun, siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Selanjutnya, Al-Baqarah ayat (189) menjelaskan tentang hilal sebagai penanda waktu:

يَسـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَاۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝١٨٩

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadah) haji’. Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” ( QS Al-Baqarah: 189).

Dalam At-Taubah ayat (36) disebutkan:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ۝٣٦

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa” (QS At-Taubah: 36).

Selain itu, dalam Yasin ayat (39) dijelaskan tentang fase-fase bulan:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ ۝٣٩

Artinya: “(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir), kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua” (QS Yasin: 39).

Ayat tersebut menggambarkan perubahan bentuk bulan dalam satu siklus, mulai dari hilal, setengah bulan, purnama, hingga kembali mengecil. Keteraturan ini menjadi dasar sistem penanggalan Islam dan sekaligus menunjukkan ketentuan Allah dalam mengatur waktu.

Dengan demikian, kalender Hijriyah dan penentuan awal bulan, termasuk Ramadan, memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an serta penjelasan Nabi mengenai hilal sebagai tanda masuknya bulan baru.

Faktor Penyebab Perbedaan Awal Ramadan

Setelah memahami dasar syar’i dan historisnya, pertanyaan berikutnya adalah mengapa tetap terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan? Berikut beberapa faktor utamanya:

1. Perbedaan metode penentuan awal bulan

  • Rukyatulhilal: Metode ini dilakukan dengan mengamati hilal secara langsung setelah matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka malam itu ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan berikutnya. Namun, apabila hilal tidak tampak karena faktor cuaca atau sebab lainnya, maka bulan yang sedang berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.
  • Hisab: Metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal. Dengan pendekatan ini, tidak diperlukan pengamatan langsung, karena keputusan didasarkan pada data perhitungan ilmiah.

Perbedaan pilihan metode antara rukyat dan hisab inilah yang sering kali memunculkan perbedaan awal puasa.

2. Perbedaan kriteria ketinggian hilal

Selain metode, perbedaan juga muncul dari kriteria visibilitas hilal. Sebagian ulama menetapkan batas minimal ketinggian hilal 2 derajat agar dapat terlihat.

Sementara itu, ada pula yang menggunakan standar berbeda, seperti 3 derajat atau bahkan 6,4 derajat.

Jika di satu wilayah hilal memenuhi kriteria dan terlihat, tetapi di wilayah lain belum memenuhi syarat, maka potensi perbedaan penetapan awal bulan menjadi tidak terhindarkan.

3. Perbedaan zona waktu dan posisi geografis

Hilal tidak selalu dapat disaksikan pada waktu yang sama di setiap tempat. Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke dengan tiga zona waktu, yakni WIB, Wita, dan WIT.

Dalam kondisi tertentu, wilayah timur mungkin telah memenuhi kriteria terlihatnya hilal, sementara wilayah barat belum.

Meski demikian, Indonesia menerapkan konsep wilayatul hukmi, yaitu pemberlakuan satu keputusan untuk seluruh wilayah negara. Di tingkat global, negara seperti Arab Saudi, Turki, dan Malaysia juga memiliki standar masing-masing dalam menetapkan awal bulan.

4. Perbedaan pendekatan mazhab

Sebagian negara menerapkan rukyat lokal, yakni mengikuti hasil pengamatan di wilayahnya sendiri. Ada pula yang mengikuti rukyat global, misalnya merujuk pada keputusan Arab Saudi.

Di Indonesia, Muhammadiyah menggunakan hisab murni, sedangkan Nahdlatul Ulama dan pemerintah memadukan rukyat dan hisab dalam proses penetapan. Perbedaan pendekatan ini turut memengaruhi kemungkinan perbedaan awal Ramadan.

Menyikapi Perbedaan dengan Bijak

Islam mengajarkan persatuan dan kasih sayang. Perbedaan dalam melihat hilal sebenarnya telah terjadi sejak masa para sahabat. Rasulullah SAW bersabda:

“Berpuasalah kalian ketika melihat hilal, dan berbukalah kalian ketika melihatnya. Jika kalian terhalang (tidak bisa melihatnya), maka sempurnakanlah (bulan Syakban) menjadi 30 hari” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa faktor penglihatan hilal dan kondisi geografis dapat memengaruhi penetapan awal bulan. Karena itu, perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan. Ada beberapa sikap yang dapat dikedepankan dalam menghadapi perbedaan tersebut.

1. Tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan

Baik rukyat maupun hisab memiliki dasar ilmiah dan syar’i. Perbedaan metode seharusnya tidak berkembang menjadi perdebatan yang tidak produktif, apalagi sampai menimbulkan permusuhan.

2. Menghormati keputusan pemerintah dan organisasi Islam

Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan awal Ramadan berdasarkan pertimbangan ilmiah dan syar’i. Pada sisi lain, Muhammadiyah dan organisasi Islam lainnya juga memiliki metode yang diakui serta memiliki dasar hukum. Setiap muslim dapat mengikuti keyakinannya, sembari tetap menghormati keputusan pihak lain.

3. Menjaga ukhuwah Islamiyah

Tujuan utama dari penetapan awal bulan adalah menjalankan ibadah kepada Allah dengan tulus. Oleh karena itu, menjaga persaudaraan dan saling menghormati jauh lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan.

Perbedaan awal Ramadan terjadi karena variasi metode penentuan hilal, perbedaan kriteria astronomis, faktor geografis, serta pendekatan mazhab yang beragam. Semua itu memiliki dasar ilmiah dan syar’i yang dapat dipertanggungjawabkan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

NASIONAL
5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

NASIONAL
Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

NASIONAL
Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

NASIONAL
Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

NASIONAL
317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT