ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hilal Belum Penuhi Kriteria, PBNU Tetapkan Ramadan Kamis

Selasa, 17 Februari 2026 | 18:58 WIB
JS
JS
Penulis: Johnny Johan Sompotan | Editor: JJS
Petugas rukyat meneropong posisi hilal guna menentukan 1 Ramadhan 1447 Hijriah di Pos Observasi Masjid Al Musyari'in Ponpes Al Hidayah Basmol, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa 17 Februari 2026.
Petugas rukyat meneropong posisi hilal guna menentukan 1 Ramadhan 1447 Hijriah di Pos Observasi Masjid Al Musyari'in Ponpes Al Hidayah Basmol, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa 17 Februari 2026. (Berita Satu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah (LF) memprediksi 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Kamis (19/2/2026), setelah melihat posisi hilal yang diperkirakan belum memenuhi kriteria.

Menurut PBNU, berdasarkan data hisab, ketinggian hilal di seluruh Indonesia pada Selasa (17/2/2026) masih berada di bawah standar.

“Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pengurus Besar Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, saat 29 Sya’ban, tinggi hilal dari Sabang sampai Merauke masih berada di antara satu hingga dua derajat,” ujar Pengurus Lembaga Falakiyah PBNU, Ahmad Izzuddin dikutip dari channel PBNU.

ADVERTISEMENT

“Untuk elongasinya juga masih berada di kisaran satu hingga dua derajat,” tambahnya.

Melihat posisi hilal tersebut, PBNU memastikan bahwa hilal belum memenuhi syarat atau kriteria Menteri Agama Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam (MABIMS) yang digunakan Nahdlatul Ulama, yaitu tinggi hilal minimal tiga derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat.

“Kita berpegang pada kriteria MABIMS terbaru yang juga dipegang NU, maka insyaallah tidak akan ada yang berhasil melihat hilal,” tegasnya.

Berdasarkan hal ini, PBNU memutuskan bulan Sya’ban pada 2026 akan disempurnakan menjadi 30 hari, sehingga Rabu (18/2/2026) menjadi hari terakhir Sya’ban.

Insyaallah, PBNU akan menetapkan salat tarawih pada malam Kamis, sehingga pada Kamis pagi umat sudah bisa memulai ibadah puasa Ramadan,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa data hisab digunakan sebagai acuan utama dalam menentukan keberadaan hilal.

“Kata kunci verifikasi inilah yang menjadi pegangan kami melalui pengamatan hilal sebagai pertanda awal Ramadan,” tutupnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

PBNU Sebut Gerakan Hemat Energi Sesuai Ajaran Islam

PBNU Sebut Gerakan Hemat Energi Sesuai Ajaran Islam

EKONOMI
Muktamar NU 2026 Segera Digelar: Ini Bocoran Jadwalnya!

Muktamar NU 2026 Segera Digelar: Ini Bocoran Jadwalnya!

NASIONAL
PBNU Prediksi Lebaran 2026 Jatuh pada 21 Maret

PBNU Prediksi Lebaran 2026 Jatuh pada 21 Maret

NASIONAL
Lebaran 2026 Versi NU Kapan? Ini Prediksi 1 Syawal 1447 H

Lebaran 2026 Versi NU Kapan? Ini Prediksi 1 Syawal 1447 H

NASIONAL
Tokoh Islam Puji Prabowo Ucapkan Dukacita Gugurnya Khamenei

Tokoh Islam Puji Prabowo Ucapkan Dukacita Gugurnya Khamenei

NASIONAL
Ketum PBNU: Serangan AS-Israel ke Iran Bangkitkan Radikalisme

Ketum PBNU: Serangan AS-Israel ke Iran Bangkitkan Radikalisme

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT