Tradisi Imlek, dari Menghiasi Rumah hingga Membawa Angpau
Jumat, 12 Februari 2021 | 12:37 WIB
Bogor, Beritasatu.com – Tahun Baru Cina atau Imlek mulai dirayakan di hari pertama bulan pertama kalender Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh dua pekan setelahnya. Pada perayaan Tahun Baru Imlek 2021 ini, masyarakat Tionghoa menyebutnya sebagai Tahun Kerbau Logam.
Mendahului perayaan Imlek, ada tradisi yang selalu dilakukan masyarakat Tionghoa. Tradisi itu yakni jelang Imlek, masyarakat Tionghoa akan membersihkan dan menghiasi rumahnya hingga melunasi hutang-hutangnya.
"Tradisi membersihkan rumah, mengandung makna rumah akan bersih dari keburukan dan siap menerima keberuntungan di tahun baru," kata Kusumah, pengurus Wihara Dhanagun, Kota Bogor, saat ditemui Beritasatu.com, Jumat (12/2/2021).
Kusumah yang biasa disapa Ayung bercerita, pada hari pertama Sin Nien atau Tahun Baru, mereka melakukan sembahyang pada leluhur, dan tak lupa menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar.
"Yang tak punya altar di rumah pergi ke kelenteng terdekat untuk sembahyang, mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun," kata Ayung.
Setelah itu mereka memberikan hormat kepada orang tua, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.
Banyak pantangan yang tak boleh dilakukan pada hari tersebut. Menyapu dan membuang sampah konon akan mengusir rezeki ke luar dari rumah.
Mereka juga tak boleh memecahkan piring. Jika tak sengaja memecahkannya, mereka harus cepat-cepat mengucapkan sue sue phing an, yang artinya setiap tahun tetap selamat.
Hari kedua, lanjut Ayung, adalah saat hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Perempuan yang sudah menikah membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpau untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi, angpau juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua.
"Pada hari ketiga, mereka lebih banyak tinggal di rumah, tanpa melakukan banyak perjalanan dan aktivitas," ujar Ayung.
Layaknya tradisi Lebaran, masyarakat Tionghoa mengenakan pakaian baru, biasanya berwarna merah atau warna terang lainnya. Warga Tionghoa percaya pentingnya penampilan dan sikap baru yang optimistis menghadapi masa depan.
Segala tradisi dalam perayaan Imlek sarat makna. Hidangan yang disajikan pada perayaan Imlek biasanya terdiri atas 12 macam masakan dan 12 macam kue. Ini melambangkan 12 macam shio.
Mie menjadi makanan wajib karena simbol panjang umur. Selain itu, lapis legit dan ikan bandeng yang melambangkan rezeki. Ada juga beragam kue, dari lapis hingga kue keranjang, dengan rasa yang lebih manis dari biasanya. Berharap kehidupan yang lebih manis di tahun mendatang.
"Sementara bubur, pantang dimakan saat Imlek karena melambangkan kemiskinan. Makanan yang rasanya pahit seperti pare juga dihindari karena melambangkan kepahitan hidup," tambah Ayung.
Buah-buahan wajib selama Imlek adalah pisang raja atau pisang mas, jeruk kuning, delima hingga tebu yang melambangkan kemakmuran dan rezeki berlimpah.
Buah berduri seperti salak atau durian harus dihindari. Nanas menjadi perkecualian karena namanya Wang Li dengan pengucapan mirip dengan kata Wang yang artinya berjaya. Nanas juga dilambangkan sebagai mahkota raja.
Kata Ayung, semua hal yang mewarnai Imlek pada dasarnya bermakna satu. Membuang segala keburukan di tahun lalu dan berharap tahun baru yang lebih baik.
Sama seperti musim semi, saat bunga-bunga mulai bermekaran, tanaman mulai bertunas, dan matahari muncul dengan kehangatan sinarnya. Musim semi adalah musim harapan, di mana segala sesuatu yang lama digantikan yang baru. Demikianlah juga Imlek, membawa harapan baru, kehidupan baru yang lebih baik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




