Kapolri: Penembak Kapolsek di Bima Dalam Pengejaran

Selasa, 19 Agustus 2014 | 11:58 WIB
FA
FB
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: FMB
Kapolri Jendral Sutarman
Kapolri Jendral Sutarman (Beritasatu.com)

Jakarta -- Kapolri Jenderal Sutarman menyatakan jika pihaknya tengah mengejar komplotan pelaku teror di balik penembakan yang menyebabkan Kapolsek Ambalawi AKP Abdul Salam, Bima, Nusa Tenggara Barat menghembuskan nafas terakhirnya.

"Setelah kita lakukan otopsi kita prediksikan memang ada penembakan. Orang-orangnya (pelakunya) sebenarnya di beberapa penembakan yang lalu sudah kita ikuti. Saya tidak bisa sebut satu-satu. Ini terorisme," kata Sutarman di Mabes Polri Selasa (19/8).

Sebelumnya polisi memang belum memastikan sebab pasti meninggalnya korban apakah karena ditembak ataukah karena kecelakaan lalu lintas karena keluarga korban sempat menolak korban untuk diotopsi.

Meskipun begitu sejak awal kejadian seorang sumber di lingkungan Densus 88/Mabes Polri mengatakan pada Beritasatu.com jika korban meninggal karena ditembak saat melakukan perjalanan ke Mapolsek menggunakan motor.

Kejadian naas itu terjadi Wera, Kecamatan Ambalawi, Bima, pada Sabtu (16/8) pukul 06.00 waktu setempat.

Dengan demikian korban adalah polisi yang ketiga yang ditembak di Bima kendati belum satupun kasus-kasus itu yang terungkap.

Pada 2 Juni lalu Bripka Muhamad Yamin, Kanit Intelkam Polres Bima, juga tewas ditembak di dekat rumahnya di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima sekitar pukul 22.10 WITA.

Korban saat itu selesai tugas dan keluar dari rumahnya untuk membeli sesuatu. Sepulangnya dia diikutin dua orang dan ditembak dibagian kepala, perut, siku, dan leher sehingga meninggal dunia.

Saat kejadian korban mengenakan baju preman dan diperkirakan pelaku adalah orang yang mengetahui korban adalah anggota polisi.

Pada 28 Maret lalu juga terjadi penembakan misterius yang menimpa Kasat Narkoba Polres Bima NTB Ipda Hanafi yang ditembak sekitar pukul 10.55 WITA.

Saat itu korban mengalami dua luka tembak yaitu di rahang kiri tembus ke kanan dan luka tembak perut dan dirawat di rumah sakit.

Pelaku menguntit korban dan tiba-tiba, pelaku pembonceng menodongkan pistol ke arah korban dan meletus dua kali.

Dugaan jika penembakan polisi adalah aksi balas dendam kelompok teror pun mencuat. Itu karena sejumlah pelaku teror telah ditangkap Densus di Bima.

Sedangkan, yang terakhir ditangkap pada 19 Juli lalu adalah Adham Halid alias Rafi alias Memet Hidasa yang merupakan PNS dan Agus Salaim alias Agus Abdullah Bin Ibrahim/Jaho yang beralamat di Dusun Set Atas. Agus terpaksa ditembak.

Keduanya terkait jaringan Mujahidin Indonesia Barat yang dipimpin Abu Roban.

Memet teridentifikasi terlibat dalam sejumlah aksi teror. Termasuk perampokan dalam rangka fa'i (mencari dana) di Kantor Pos Parung, Bogor, Jawa Barat bersama Abu Roban pada Februari 2013. Aksi ini berhasil menggasak Rp 80 juta.

Lalu dia juga ikut merampok BRI Jeketro Grobogan bersama Abu Roban pada Maret 2013 dengan kerugian Rp 300 juta. Juga mengirim beberapa orang untuk ikut tadrib (latihan militer) di Poso bersama Santoso.

Untuk diketahui jaringan teror saat ini memang diwarnai aksi oleh Mujahidin Indonesia Timur di Poso yang digawangi Santoso yang masih buron hingga kini dan kelompok Abu Roban, yang mengatasnamakan Mujahidin Indonesia Barat. Abu Roban mendukung soal dana.

Abu Roban telah dilumpuhkan Densus pada Mei 2013 lalu. Dia tertembak mati di Kendal, Jawa Tengah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon