Fakta Kesehatan Seputar Pelembap Wajah
Rabu, 22 Februari 2012 | 12:10 WIB
Cara kerja pelembap adalah mengisi ruang antara sel yang biasanya kehilangan sebum dan lipid ketika usia bertambah.
Pelembap wajah mengandung humectants (glycerine) yang menarik air dan menjaganya tetap berada di kulit. Pelembap juga mengandung emollient dan biasanya bercampur dengan minyak kemudian diemulsi menjadi krim yang berfungsi sebagai penghalang terjadinya iritasi eksternal.
Di antara sel di dalam lapisan terluar kulit adalah sebum dan lipid yang memberi kulit tampilan segar dan kenyal. Ketika kita bertambah usia, kita kehilangan dua kandungan ini dan kulit kita terlihat kering dan kusam. Pelembap mengisi ruang sel ini.
“Dengan menarik air kembali ke epidermis, kulit Anda memancarkan cahaya secara berbeda,” kata Dr Jane McGregor, seorang konsultan dermatologis di Barts and the London NHS Trust. “Tekstur kulit Anda akan membaik dan tidak menjadi kering dan gatal. Namun Anda tidak perlu membeli krim yang mahal, yang murah pun bisa dipergunakan,” kata McGregor.
Sabun, kata McGregor, mengeringkan kulit yang karenanya tidak digunakan kebanyakan ahli dermatologi. Bahkan air pun bisa mengeringkan kulit.
Pelembap yang sederhana tetap bertahan di epidermi; pelembap tidak meregenerasi sel atau menghapus kerutan. Namun beberapa produk yang mahal mengklaim bisa melakukannya.
Retinoid biasanya digunakan untuk mengobati jerawat namun sekarang sering dilibatkan dalam krim kosmetik.
“Ada beberapa bukti yang mendukung peran retinoid dalam menstimulasi produksi kolagen dalam kulit, yang mana bisa menyamarkan keruh halus. Retinoid juga bisa menambah pergantian sel di kulit yang menghaluskan penampakan kulit dengan cara mengelupasnya dan memperbaiki rona kulit. Retinoid pada dasarnya turunan vitamin A dan karena retinoid merupakan konsentrat maka ahli kulit biasanya meresepkan sekitar 0,025%,” ujar Dr Bav Shergill, juru bicara Asosiasi Dermatologis Inggris.
Menurut Shergill pemberian retinoid jangan terlalu tinggi karena bisa membuat kulit kemerahan, pecah-pecah, dan iritasi. Kulit juga jadi lebih mudah sensitif terhadap sinar UV dan efeknya bervariasi di antara orang-orang.
Pelembap wajah mengandung humectants (glycerine) yang menarik air dan menjaganya tetap berada di kulit. Pelembap juga mengandung emollient dan biasanya bercampur dengan minyak kemudian diemulsi menjadi krim yang berfungsi sebagai penghalang terjadinya iritasi eksternal.
Di antara sel di dalam lapisan terluar kulit adalah sebum dan lipid yang memberi kulit tampilan segar dan kenyal. Ketika kita bertambah usia, kita kehilangan dua kandungan ini dan kulit kita terlihat kering dan kusam. Pelembap mengisi ruang sel ini.
“Dengan menarik air kembali ke epidermis, kulit Anda memancarkan cahaya secara berbeda,” kata Dr Jane McGregor, seorang konsultan dermatologis di Barts and the London NHS Trust. “Tekstur kulit Anda akan membaik dan tidak menjadi kering dan gatal. Namun Anda tidak perlu membeli krim yang mahal, yang murah pun bisa dipergunakan,” kata McGregor.
Sabun, kata McGregor, mengeringkan kulit yang karenanya tidak digunakan kebanyakan ahli dermatologi. Bahkan air pun bisa mengeringkan kulit.
Pelembap yang sederhana tetap bertahan di epidermi; pelembap tidak meregenerasi sel atau menghapus kerutan. Namun beberapa produk yang mahal mengklaim bisa melakukannya.
Retinoid biasanya digunakan untuk mengobati jerawat namun sekarang sering dilibatkan dalam krim kosmetik.
“Ada beberapa bukti yang mendukung peran retinoid dalam menstimulasi produksi kolagen dalam kulit, yang mana bisa menyamarkan keruh halus. Retinoid juga bisa menambah pergantian sel di kulit yang menghaluskan penampakan kulit dengan cara mengelupasnya dan memperbaiki rona kulit. Retinoid pada dasarnya turunan vitamin A dan karena retinoid merupakan konsentrat maka ahli kulit biasanya meresepkan sekitar 0,025%,” ujar Dr Bav Shergill, juru bicara Asosiasi Dermatologis Inggris.
Menurut Shergill pemberian retinoid jangan terlalu tinggi karena bisa membuat kulit kemerahan, pecah-pecah, dan iritasi. Kulit juga jadi lebih mudah sensitif terhadap sinar UV dan efeknya bervariasi di antara orang-orang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




