Film Produk NGO Perlu Sadar Kemasan
Sabtu, 25 Februari 2012 | 23:11 WIB
Film-film produk NGO, secara visual, tidak menarik.
Dimas Jayasrana, programer film untuk South To South Film Festival, mengatakan para sineas dan pemerhati film menyepakati untuk lebih dahulu melakukan penelusuran terhadap aktivitas yang sudah dilakukan selama ini.
“Kita mencoba ‘down to earth' karena kita seringnya bikin komitmen tetapi tidak jalan, hanya berhenti di ruang itu saja,” kata Dimas mengomentari dua hari Regional Meeting Forum yang digelar sebagai bagian dari South To South Film Festival (StoS) di Jakarta, hari ini.
Regional Meeting Forum, yang merupakan pertama kali digelar di ajang StoS tersebut, merupakan ajang pertemuan antara sineas, aktivis, media, dan penggiat media.
Sineas yang terlibat antara lain Chi Villado dari Filipina, Bowo Leksono dari Purbalingga, dan Hamzah Sahal dari Brebes.
Melalui pertemuan tersebut sudah banyak hal yang dilakukan, misalnya pemutaran film, distribusi film.
“Kita juga akhirnya bikin komitmen yang bisa kita implementasikan saat ini, salah satunya pas kita data, ada festival film di Purbalingga. Dari situ ditanyakan apa yang bisa jadi kontribusi, maunya seperti apa. Kemudian, di Filipina juga akan dilakukan festival film se-Asia Tenggara, mereka juga akan memikirkan mau apa dibawa kesana,” kata Dimas yang menjadi fasilitator meeting tersebut.
Film Produk NGO
Hal lain yang juga menjadi perdebatan dalam forum tersebut, lanjutnya, adalah film-film produk NGO, secara visual, tidak menarik.
“Ada yang ungkapkan bahwa jangan-jangan (NGO) terlalu sombong dengan menganggap menampilkan yang pintar. Jangan-jangan yang diperlukan justru bikin seperti sinetron asal pesannya sampai. Kita sajikan blues atau jazz, ternyata yang diperlukan justru dangdut. “
Dia menegaskan yang penting pesan sampai, karena NGO tidak mempunyai kepentingan untuk pencapaian artistik.
“Ada juga kritikus fillm yang mengatakan bahwa dalam konteks film, (NGO) abai terhadap sikap dasar bahwa produk-produk tersebut hanya peduli tentang susbtansi dan tidak perhatikan kemasan.”
Sikap strategi untuk kemasan itu juga yang menjadi perdebatan. Karena, ada film yang bisa mempromosikan bahwa perempuan di bawah lelaki dan itu ditonton berjuta-juta film. Sehingga, ada joke bahwa film NGO dibuat untuk NGO ditonton untuk NGO.
Dia pun membantah bahwa genre film yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan lingkungan hidup tidak memiliki penonton.
“Perdebatan soal itu sangat abstrak karena tidak ada riset yang menyeluruh dan terbuka soal itu. Contoh, pemutaran film oleh NU, bisa menggaet hingga 2.000 penonton per satu seri pemutaran yaitu tiga hingga lima hari mendatang. Tetap ada penonton kok,” katanya.
Dimas Jayasrana, programer film untuk South To South Film Festival, mengatakan para sineas dan pemerhati film menyepakati untuk lebih dahulu melakukan penelusuran terhadap aktivitas yang sudah dilakukan selama ini.
“Kita mencoba ‘down to earth' karena kita seringnya bikin komitmen tetapi tidak jalan, hanya berhenti di ruang itu saja,” kata Dimas mengomentari dua hari Regional Meeting Forum yang digelar sebagai bagian dari South To South Film Festival (StoS) di Jakarta, hari ini.
Regional Meeting Forum, yang merupakan pertama kali digelar di ajang StoS tersebut, merupakan ajang pertemuan antara sineas, aktivis, media, dan penggiat media.
Sineas yang terlibat antara lain Chi Villado dari Filipina, Bowo Leksono dari Purbalingga, dan Hamzah Sahal dari Brebes.
Melalui pertemuan tersebut sudah banyak hal yang dilakukan, misalnya pemutaran film, distribusi film.
“Kita juga akhirnya bikin komitmen yang bisa kita implementasikan saat ini, salah satunya pas kita data, ada festival film di Purbalingga. Dari situ ditanyakan apa yang bisa jadi kontribusi, maunya seperti apa. Kemudian, di Filipina juga akan dilakukan festival film se-Asia Tenggara, mereka juga akan memikirkan mau apa dibawa kesana,” kata Dimas yang menjadi fasilitator meeting tersebut.
Film Produk NGO
Hal lain yang juga menjadi perdebatan dalam forum tersebut, lanjutnya, adalah film-film produk NGO, secara visual, tidak menarik.
“Ada yang ungkapkan bahwa jangan-jangan (NGO) terlalu sombong dengan menganggap menampilkan yang pintar. Jangan-jangan yang diperlukan justru bikin seperti sinetron asal pesannya sampai. Kita sajikan blues atau jazz, ternyata yang diperlukan justru dangdut. “
Dia menegaskan yang penting pesan sampai, karena NGO tidak mempunyai kepentingan untuk pencapaian artistik.
“Ada juga kritikus fillm yang mengatakan bahwa dalam konteks film, (NGO) abai terhadap sikap dasar bahwa produk-produk tersebut hanya peduli tentang susbtansi dan tidak perhatikan kemasan.”
Sikap strategi untuk kemasan itu juga yang menjadi perdebatan. Karena, ada film yang bisa mempromosikan bahwa perempuan di bawah lelaki dan itu ditonton berjuta-juta film. Sehingga, ada joke bahwa film NGO dibuat untuk NGO ditonton untuk NGO.
Dia pun membantah bahwa genre film yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan lingkungan hidup tidak memiliki penonton.
“Perdebatan soal itu sangat abstrak karena tidak ada riset yang menyeluruh dan terbuka soal itu. Contoh, pemutaran film oleh NU, bisa menggaet hingga 2.000 penonton per satu seri pemutaran yaitu tiga hingga lima hari mendatang. Tetap ada penonton kok,” katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




