PLTA Batangtoru, Model Pembangkit Irit Lahan
Senin, 28 Mei 2018 | 10:33 WIB
Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru Tapanuli Selatan, Sumatera Utara berkapasitas 510 MW yang dibangun dengan konsep ramah lingkungan karena mampu mengurangi emisi karbon hingga 1,6 Megaton CO2/tahun, dapat dijadikan model pembangunan pembangkit irit lahan.
Pasalnya, PLTA Batangtoru ini menurut Agus Djoko Ismanto, Senior Advisor Bidang Lingkungan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), hanya membutuhkan 67,7 hektar lahan yang tergenang serta 24 hektar lahan lain di badan sungai. "Sebagai pembanding luasan lahan yang dipergunakan hanya seperempat hingga seperlima dari luasan pembangkit sejenis dengan kapasitas sama," kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (28/5).
Dia mengungkapkan, adanya tebing curam di sepanjang sungai yang membentuk cekungan tajam berbentuk huruf V sebagai titik pembangunan bendungan sangat menguntungkan. "Dengan demikian kami masih dapat menjaga lahan lain untuk tetap dipertahankan sesuai habitat aslinya."
Menurut Agus, dengan kondisi lereng yang curam dan terjal, lahan pertanian menjadi sangat terbatas."Keuntungan lain dari proyek ini tidak perlu merelokasi permukiman karena tidak ada penduduk yang tinggal dekat kawasan PLTA."kata dia.
Dia memastikan, keberlanjutan dan kelestarian wilayah hilir juga mendapat perhatian serius. Salah satunya dengan mempertahankan arus air yang cukup sampai ke Sungai Batangtoru agar kelestarian biota air terjaga.
Saat ini, debit air Sungai Batangtoru mencapai 484m3/detik hingga ke paling rendah sebesar 41,5m3/detik. Dengan debit air sungai rata-rata berada di sekitar 106m3/detik, kami akan mempertahankan arus air sedemikian rupa untuk memastikan agar kelestarian lingkungan dan ekosistem di wilayah hilir tetap terjaga," kata Agus Djoko.
Agus Djoko menekankan, sebagai pembangkit listrik yang memanfaatkan energi terbarukan, yaitu air, keberadaan PLTA Batangtoru sangat tergantung pada ketersediaan air yang menjadi penggerak utama turbin. Karena itu, pelestarian lingkungan menjadi concern perusahaan untuk menjaga ketersediaan air.
Agus Supriono, Manajer Humas NSHE mengatakan, PLTA Batangtoru berkomitmen untuk menjaga dan memelihara lahan di sekitar proyek sebagai lahan penyangga bagi hutan lindung. Sesuai IFC Standard, proyek ini mengadopsi hirarki mitigasi dengan meminimalisasi perubahan bentang alam, migitasi dan tukar guling (offset).
Dia mengatakan, rencana kerja terkait keanekaragaman hayati akan diimplementasikan di sekitar konsesi PLTA Batangtoru dengan melibatkan pihak-pihak terkait serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Menurut Agus, NSHE telah membentuk tim untuk untuk memantau kondisi ekosistem pra pembukaan lahan. Tim ini bertugas untuk memastikan keamanan dan keselamatan flora dan fauna di lokasi konstruksi PLTA Batangtoru.
Ketika ditemukan satwa liar, kata Agus Supriono, tim akan menggeser satwa ke habitat yang lebih aman. Upaya penyelamatan itu terutama dilakukan terhadap satwa yang terkendala untuk berpindah seperti anakan burung yang ditemukan di atas pohon. Sedangkan untuk tumbuhan langka atau tumbuhan setempat akan dikumpulkan dan ditanam kembali (replanting) di lokasi proyek untuk menjaga keberlanjutannya.
Saat ini, pohon langka yang ditemukan diantaranya dari jenis meranti seperti meranti Kuning, ketuko, keruing bulu/simar haluang dan jenis yang dilindungi yaitu Tengkawang Gunung (Shorea lepidota)."Kami melibatkan multistakeholder, termasuk LSM lokal untuk menjaga pelestarian keanekaragaman hayati (biodiversity) di kawasan ini."
Irsan Simanjuntak, Direktur Lembaga Sipirok Lestari Indonesia mengatakan, pihaknya mengapresiasi kehadiran PLTA Batangtoru yang sejak tahap pra pembukaan lahan menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian biodiversity.
Bahkan, PLTA Batangtoru telah membangun jembatan perlintasan satwa. Pertimbangannya, karena sepanjang Sungai Batangtoru yang berbatasan dengan proyek PLTA Batangtoru tidak ditemukan pohon dengan tajuk yang besar dan mampu yang menghubungkan sisi kanan dengan sisi kiri sungai Batangtoru
"Jarak tajuk terdekat diperkirakan sekitar 6 m yang ditemukan di Dusun Hutaimbarau, Desa Batangpaya, Kecamatan Sipirok. Tajuk ini sulit dilewati satwa. Sebagai antisipasi dibangun jembatan untuk menghubungkan kedua sisi."
PLTA Batangtoru juga memberikan perhatian dengan mempertahankan keberadaan pohon dan lingkungan disekitarnya. Bahkan, untuk menjaga keberagaman hayati, perusahaan menjaga konsesinya agar bersih dari praktik-praktik perburuan binatang maupun perambahan hutan (illegal logging).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




