PABBSI: Lifter Indonesia Jangan Puas Dulu
Kamis, 8 November 2018 | 10:01 WIB
Tangerang - Wakil Ketua Umum PB PABBSI, Djoko Pramono menegaskan para lifter Indonesia jangan cepat berpuas diri dahulu meski meraih hasil positif di Kejuaraan Dunia 2018 dan mampu menyabet tiga emas oleh Eko Yuli Irawan di Ashgabat, Turkmenistan.
Diakui saat ini sudah ada empat lifter Indonesia yang telah mendapatkan kuota di Olimpiade 2020 Tokyo, yakni, Eko Yuli Irawan (61 kg), Deni (67 kg), Sri Wahyuni (49 kg) dan Acchedya Jagaddhita (59 kg) yang masuk di peringkat 8 besar dalam kejuaraan itu. Namun, PB PABBSI berupaya untuk meloloskan lifter sebanyak mungkin di Olimpiade 2020 nanti.
"Saya tegaskan untuk mendapatkan tiket itu tidak mudah, mereka bisa saja tak lolos kalau tak hati-hati. Para lifter kita harus rajin mengikuti kejuaraan di luar negeri untuk mengumpulkan poin. Meski, empat atlet sudah lolos, tetapi posisi mereka tetap dikuntit oleh atlet negara lainnya jika tidak mengikuti event lainnya sebelum Olimpiade 2020. Apalagi, sistem kuota saat ini berubah bukan lagi entry by number tetapi entry by name," kata Djoko Pramono saat tim angkat besi tiba di Tanah Air, Bandara Soekarno Hatta, Rabu (7/11) malam.
Menurutnya, sebelum Olimpiade 2020 masih ada sekitar enam single event cabang angkat besi di luar negeri tahun depan. Hal ini memerlukan biaya sekitar Rp 8 miliar dan berharap mendapat bantuan dari pemerintah untuk membiayai keberangkatan mereka mengikuti seri kejuaraan itu, apalagi untuk kejuaraan dunia yang baru saja diikuti, pihaknya memakai sisa dana dari Asian Games 2018 kemarin.
Juara dunia angkat besi 2018, Eko Yuli mengaku tidak berpuas diri. Matanya kini tertuju ke Olimpiade Tokyo 2020. Target selanjutnya adalah memperbaiki rekor lagi dan harus melakukan koreksi yang kurang dan meningkatkan penampilan.
"Hasil ini tentunya merupakan salah satu modal bagi saya untuk mendapatkan kuota di Olimpiade 2020 Tokyo mendatang. Tentunya, saya juga harus terus berlatih dan mengoreksi pencapaian saya saat ini sekaligus mengikuti beberapa single event lainnya di luar negeri agar posisi saya untuk medapat tiket ke Tokyo nanti tetap aman," kata Eko Yuli.
"Ke depannya pasti jalan saya akan berat, terlebih Olimpiade, karena ini merupakan nomor baru, sehingga semua atlet pasti akan lebih menyiapkan diri mereka masing-masing. Saya pribadi tak bisa leha-leha," tambahnya.
Deputi III Pembudayaan Olahraga Kempora, Raden Isnanta mengatakan pemerintah mengapresiasi jerih payah Eko Yuli dengan mampu mengibarkan bendera Merah-Putih yang diiringi berkumandangnya lagu Indonesia Raya di Turkmenistan. Bahkan pemerintah akan memberikan perhatian penuh atas pencapaian Eko Yuli.
"Tapi bentuk apresiasi yang akan diberikan tinggal menunggu keputusan dan arahan Menpora, Imam Nahrawi. Apresiasi sudah pasti ada. Namun tentunya kita menunggu keputusan dari Menpora," kata Isnanta.
Diakui cabang olahraga angkat besi tak henti-hentinya memberikan prestasi yang membanggakan kepada Indonesia. Ketika euforia Asian Games belum reda dan banyak orang yang berpikiran bahwa pasca Asian Games pasti drop lantaran puncaknya di multi event negara-negara se-Asia itu, namun ternyata menurutnya dipuncak yang lebih tinggi angkat besi mampu berbicara maksimal.
"Juara dunia merupakan pencapaian yang luar biasa bagi seorang atlet. Kami meminta kepada tim kepelatihan, PB dan senior lainnya akan bimbingannya kepada generasi muda angkat besi kita, sehingga kedepannya hadir sosok Eko-Eko baru yang mampu berprestasi di tingkat dunia," tutup dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




