Ormas Mahasiswa Sulit Membiayai Aktivitasnya
Senin, 23 Juli 2012 | 21:27 WIB
Ormas kepemudaan alami krisis.
Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Teppi) Jeirry Sumampouw mengemukakan organisasi massa (Ormas) kemahasiswaan dan kepemudaan sedang mengalami krisis. Krisis itu berawal dari ketidakmampuan mendidik kader yang dibutuhkan zaman ini. Persoalan mereka sekarang adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan dinamika zaman yang sudah sangat berbeda dengan masa lalu.
"Zaman dulu, ormas kemahasiswaan masih sedikit dan terbatas. Namun sekarang sudah sangat banyak sehingga butuh strategi, metodologi serta substansi yang berbeda pula. Di sisi lain, model dan substansi kaderisasi ormas kemahasiswaan sekarang masih sama dengan yang dulu. Akibatnya mereka kalah bersaing dengan ormas-ormas kepemudaan dan kemahasiswaan yang lain," kata Jeiry di Jakarta, Senin (23/7).
Ia mengemukakan banyak mahasiswa dan pemuda sekarang enggan ikut dalam ormas kepemudaan karena merasa tak ada yang signifikan lagi mereka peroleh dari organisasi tersebut. Zaman dulu kader-kader ormas kemahasiswaan dan kepemudaan lebih jelas salurannya karena relasi ormas tersebut dengan partai politik (parpol) lebih jelas. Ormas-ormas tersebut menjadi media pendidikan kader atau pemimpin yang kemudian diambil oleh parpol.
"Meski ormas-ormas tersebut tetap independen dan mandiri tetapi hubungan dengan partai, baik secara formal maupun melalui para senior mereka lebih strategis. Namun sekarang sedikit berbeda sebab hampir setiap partai sekarang punya organisasi sayap untuk mahasiswa dan pemuda yang secara sengaja didirikan partai dengan semi independen untuk menjadi sarana pendidikan kader partai yang bersangkutan," ujarnya.
Ditanya mengenai fenomena perpecahan di ormas kepemudaan, dia menerangkan kenyataan itu menjadi satu watak bawaan ormas mahasiswa dan pemuda sejak dulu. Perebutan kekuasaan atau posisi pimpinan dalam ormas yang seringkali mengakibatkan perpecahan sudah lazim terjadi sejak dulu.
Menurutnya, masalah perpecahan tidak terlalu ada hubungannya dengan kepentingan parpol atau pengaruh parpol. Tapi lebih kepada soal persaingan kepentingan antar orang ataupun faksi di dalam ormas itu sendiri. Kalau parpol masuk, biasanya mempertajam perpecahan yang ada.
"Ke depan, ormas mahasiswa dan pemuda perlu melakukan reformasi diri. Fokus dan orientasi ormas harus berubah. Kalau dulu fokus dan orientasinya lebih banyak ke bidang politik, sekarang mungkin harus diganti lebih ke arah kewirausahaan dan bagaimana membuka kemungkinan pekerjaan bagi mahasiswa atau pemuda yang menjadi anggotanya. Orientasi dan fokus politik harus dikurangi. Apalagi banyak pemuda sekarang tak terlalu minat lagi ke bidang politik. Lebih banyak yang minat di bidang usaha dan bisnis," tuturnya.
Dia menegaskan ormas harus mampu mandiri. Jangan bergantung kepada para senior dan sumber-sumber dana tradisional. Sebab kemampuan model pendanaan seperti itu sudah sangat jauh berkurang. Menurutnya, salah satu persoalan ormas mahasiswa dan pemuda adalah sulit membiayai aktivitasnya atau sulit sekali mendapatkan dana operasional. Akibatnya kegiatan-kegiatan pengkaderannya tak bisa berjalan dengan baik sebagaimana yang direncanakan.
Ke depan, faktor kemandirian dana harus mendapat perhatian yang penting. Kalau tidak maka akan tetap sulit untuk menjadi agen perubahan yg signifikan begi bangsa ini.
Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Teppi) Jeirry Sumampouw mengemukakan organisasi massa (Ormas) kemahasiswaan dan kepemudaan sedang mengalami krisis. Krisis itu berawal dari ketidakmampuan mendidik kader yang dibutuhkan zaman ini. Persoalan mereka sekarang adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan dinamika zaman yang sudah sangat berbeda dengan masa lalu.
"Zaman dulu, ormas kemahasiswaan masih sedikit dan terbatas. Namun sekarang sudah sangat banyak sehingga butuh strategi, metodologi serta substansi yang berbeda pula. Di sisi lain, model dan substansi kaderisasi ormas kemahasiswaan sekarang masih sama dengan yang dulu. Akibatnya mereka kalah bersaing dengan ormas-ormas kepemudaan dan kemahasiswaan yang lain," kata Jeiry di Jakarta, Senin (23/7).
Ia mengemukakan banyak mahasiswa dan pemuda sekarang enggan ikut dalam ormas kepemudaan karena merasa tak ada yang signifikan lagi mereka peroleh dari organisasi tersebut. Zaman dulu kader-kader ormas kemahasiswaan dan kepemudaan lebih jelas salurannya karena relasi ormas tersebut dengan partai politik (parpol) lebih jelas. Ormas-ormas tersebut menjadi media pendidikan kader atau pemimpin yang kemudian diambil oleh parpol.
"Meski ormas-ormas tersebut tetap independen dan mandiri tetapi hubungan dengan partai, baik secara formal maupun melalui para senior mereka lebih strategis. Namun sekarang sedikit berbeda sebab hampir setiap partai sekarang punya organisasi sayap untuk mahasiswa dan pemuda yang secara sengaja didirikan partai dengan semi independen untuk menjadi sarana pendidikan kader partai yang bersangkutan," ujarnya.
Ditanya mengenai fenomena perpecahan di ormas kepemudaan, dia menerangkan kenyataan itu menjadi satu watak bawaan ormas mahasiswa dan pemuda sejak dulu. Perebutan kekuasaan atau posisi pimpinan dalam ormas yang seringkali mengakibatkan perpecahan sudah lazim terjadi sejak dulu.
Menurutnya, masalah perpecahan tidak terlalu ada hubungannya dengan kepentingan parpol atau pengaruh parpol. Tapi lebih kepada soal persaingan kepentingan antar orang ataupun faksi di dalam ormas itu sendiri. Kalau parpol masuk, biasanya mempertajam perpecahan yang ada.
"Ke depan, ormas mahasiswa dan pemuda perlu melakukan reformasi diri. Fokus dan orientasi ormas harus berubah. Kalau dulu fokus dan orientasinya lebih banyak ke bidang politik, sekarang mungkin harus diganti lebih ke arah kewirausahaan dan bagaimana membuka kemungkinan pekerjaan bagi mahasiswa atau pemuda yang menjadi anggotanya. Orientasi dan fokus politik harus dikurangi. Apalagi banyak pemuda sekarang tak terlalu minat lagi ke bidang politik. Lebih banyak yang minat di bidang usaha dan bisnis," tuturnya.
Dia menegaskan ormas harus mampu mandiri. Jangan bergantung kepada para senior dan sumber-sumber dana tradisional. Sebab kemampuan model pendanaan seperti itu sudah sangat jauh berkurang. Menurutnya, salah satu persoalan ormas mahasiswa dan pemuda adalah sulit membiayai aktivitasnya atau sulit sekali mendapatkan dana operasional. Akibatnya kegiatan-kegiatan pengkaderannya tak bisa berjalan dengan baik sebagaimana yang direncanakan.
Ke depan, faktor kemandirian dana harus mendapat perhatian yang penting. Kalau tidak maka akan tetap sulit untuk menjadi agen perubahan yg signifikan begi bangsa ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




