Bentrok di Lampung, Pemuda Bali Serukan Penghentian Konflik
Rabu, 31 Oktober 2012 | 16:05 WIB
Hanya menyisakan duka serta mengancam keragaman dan disintegrasi bangsa.
Ketua Pemuda Bali Bersatu Gede Ngurah Putra mengingatkan semua pihak untuk segera menghentikan konflik yang berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.
"Konflik berlatar SARA kembali mengoyak Indonesia, seperti di Mesuji, Napal dan Balinuraga (Lampung), yang hanya menyisakan duka, serta mengancam keragaman dan disintegrasi bangsa," kata Gede Ngurah Putra di Denpasar, hari ini.
Menurut dia, konflik Balinuraga, Lampung, mengakibatkan sejumlah korban tewas, yang lainnya mengalami luka serius, ratusan puing rumah terbakar, dan ribuan pengungsi menjadi saksi atas tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan SARA.
Padahal pemicunya sepele, seperti pelecehan, kenakalan remaja dan sejenis itu yang menjadi faktor pemicu membuat insiden berdarah tersebut menjadi isu nasional.
Pemuda Bali Bersatu (PBB) dan Ormas Bali lainya mengutuk keras atas peristiwa berdarah, sekaligus menyayangkan dengan adanya "pembiaran", di mana tidak adanya respons cepat para aparat negara.
"Kami dari Bali meminta segenap pihak yang bertikai untuk meredakan ketegangan, dan sekaligus mengambil peran aktif dalam proses penanganan pengungsi, dan mencari jalan keluar atas masalah," ujar Gede Ngurah Putra.
Dia kiha mendesak, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Bali untuk menghentikan sementara pengiriman transmigran, sampai situasinya kondusif ke sejumlah daerah di tanah air.
Selain itu memberikan bantuan yang dianggap perlu bagi segenap korban dan pengungsi khususnya di Balinuraga dan sekitar di Lampung.
Demikian pula kepada pemerintah pusat dapat memfasilitasi pemerintah daerah Lampung Selatan, dan provinsi Lampung untuk mengambil langkah sistematis dalam proses pemulihan dengan baik, melibatkan pihak yang bertikai.
Upaya itu diharapkan bisa menjadi langgam bagi terciptanya kehidupan yang harmonis di masa depan. Hal itu penting mengingat konflik tersebut bukanlah kejadian yang pertama.
Sebelumnya, konflik dengan latar belakang serupa juga terjadi di sejumlah belahan negeri. Supaya proses pemulihan itu tidak menjadi rutinitas pascakonflik, perlu keterlibatan semua elemen warga, baik struktural maupun kultural dalam apa yang disebut rekonsiliasi dan rekonstruksi yang komprehensif.
Gede Ngurah Putra menambahkan, upaya itu disertai dengan langkah krusial yang harus segera dilakukan, yakni mengusut tuntas semua pihak yang terlibat penyerangan terhadap warga Mesuji, Napal dan Balinuraga (Lampung).
Semua aparat penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun kehakiman harus bertindak tegas dalam menyidik, menyidang, dan menghukum siapa pun yang bersalah.
"Tegakkan keadilan yang paripurna sesuai koridor hukum. Jangan sampai terpengaruh opini publik atau suara mayoritas," tandas Gede Ngurah Putra.
Ketua Pemuda Bali Bersatu Gede Ngurah Putra mengingatkan semua pihak untuk segera menghentikan konflik yang berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.
"Konflik berlatar SARA kembali mengoyak Indonesia, seperti di Mesuji, Napal dan Balinuraga (Lampung), yang hanya menyisakan duka, serta mengancam keragaman dan disintegrasi bangsa," kata Gede Ngurah Putra di Denpasar, hari ini.
Menurut dia, konflik Balinuraga, Lampung, mengakibatkan sejumlah korban tewas, yang lainnya mengalami luka serius, ratusan puing rumah terbakar, dan ribuan pengungsi menjadi saksi atas tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan SARA.
Padahal pemicunya sepele, seperti pelecehan, kenakalan remaja dan sejenis itu yang menjadi faktor pemicu membuat insiden berdarah tersebut menjadi isu nasional.
Pemuda Bali Bersatu (PBB) dan Ormas Bali lainya mengutuk keras atas peristiwa berdarah, sekaligus menyayangkan dengan adanya "pembiaran", di mana tidak adanya respons cepat para aparat negara.
"Kami dari Bali meminta segenap pihak yang bertikai untuk meredakan ketegangan, dan sekaligus mengambil peran aktif dalam proses penanganan pengungsi, dan mencari jalan keluar atas masalah," ujar Gede Ngurah Putra.
Dia kiha mendesak, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Bali untuk menghentikan sementara pengiriman transmigran, sampai situasinya kondusif ke sejumlah daerah di tanah air.
Selain itu memberikan bantuan yang dianggap perlu bagi segenap korban dan pengungsi khususnya di Balinuraga dan sekitar di Lampung.
Demikian pula kepada pemerintah pusat dapat memfasilitasi pemerintah daerah Lampung Selatan, dan provinsi Lampung untuk mengambil langkah sistematis dalam proses pemulihan dengan baik, melibatkan pihak yang bertikai.
Upaya itu diharapkan bisa menjadi langgam bagi terciptanya kehidupan yang harmonis di masa depan. Hal itu penting mengingat konflik tersebut bukanlah kejadian yang pertama.
Sebelumnya, konflik dengan latar belakang serupa juga terjadi di sejumlah belahan negeri. Supaya proses pemulihan itu tidak menjadi rutinitas pascakonflik, perlu keterlibatan semua elemen warga, baik struktural maupun kultural dalam apa yang disebut rekonsiliasi dan rekonstruksi yang komprehensif.
Gede Ngurah Putra menambahkan, upaya itu disertai dengan langkah krusial yang harus segera dilakukan, yakni mengusut tuntas semua pihak yang terlibat penyerangan terhadap warga Mesuji, Napal dan Balinuraga (Lampung).
Semua aparat penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun kehakiman harus bertindak tegas dalam menyidik, menyidang, dan menghukum siapa pun yang bersalah.
"Tegakkan keadilan yang paripurna sesuai koridor hukum. Jangan sampai terpengaruh opini publik atau suara mayoritas," tandas Gede Ngurah Putra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




