18 Hari Pascabanjir Pidie Jaya, Isnaini Bertahan Hidup di Atas Lumpur
Minggu, 14 Desember 2025 | 08:00 WIB
Pidie Jaya, Beritasatu.com - Delapan belas hari setelah banjir bandang dan longsor menerjang Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Isnaini masih berjuang menjalani hidup di tengah sisa-sisa bencana. Bagi ibu dua anak ini, hari-hari pascabanjir bukan sekadar soal waktu, melainkan tentang bertahan dari trauma yang belum sepenuhnya pulih.
“Air mata saya sudah mengering,” ucap Isnaini lirih sambil menatap lumpur yang kini mengeras di sekitar rumahnya, Sabtu (13/12/2025). “Waktu air besar itu, kami sudah cukup menangis. Sekarang tinggal ketawa-ketawa saja,” katanya dalam bahasa Aceh, menutupi luka batin yang masih membekas.
Banjir bandang datang setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama dua hari berturut-turut. Awalnya, Isnaini mengira air hanya akan menjadi banjir biasa. Namun, air terus meninggi tanpa ampun. “Kami tidak menyangka bisa setinggi itu. Lama-lama air naik, sampai leher anak kami. Akhirnya kami memilih naik ke genteng,” kenangnya.
Dalam gelap dan hujan yang tak kunjung reda, Isnaini bersama dua anaknya memanjat atap rumah. Tak ada harta yang berhasil diselamatkan, kecuali sebuah tas kecil berisi tiga unit ponsel, satu-satunya alat komunikasi dengan dunia luar.
Di saat bersamaan, sang suami tengah berusaha menolong tetangga yang hampir terseret arus. Namun, derasnya air membuatnya tak bisa kembali. Isnaini dan kedua anaknya pun terjebak sendirian di atas genteng.
Selama tiga hari tiga malam, mereka bertahan tanpa makanan. Untuk menyambung hidup, Isnaini dan anak-anaknya hanya mengandalkan air hujan serta sisa makanan yang hanyut terbawa arus. “Kami minum air hujan dan menunggu kue yang lewat terbawa air,” ujarnya.
Setelah lebih dari dua hari terjebak, mereka akhirnya dievakuasi oleh warga sekitar. Seluruh harta benda lenyap, tetapi nyawa serta surat-surat penting masih terselamatkan karena sebelumnya diletakkan di atas lemari.
Alih-alih tinggal di pos pengungsian, Isnaini memilih kembali ke rumahnya yang tertimbun lumpur setinggi sekitar dua meter. Beralaskan triplek dan tikar tipis di atas lumpur kering, Isnaini bersama suami dan dua anaknya tidur setiap malam.
“Kalau hujan turun, hati kami langsung cemas,” tuturnya. Rasa waswas membuatnya kerap terjaga pada malam hari, memastikan air tidak kembali naik.
Kisah Isnaini menjadi potret ketangguhan warga Desa Blang Cut. Meski kehilangan hampir seluruh harta, ia tak kehilangan harapan. Air mata mungkin telah mengering, tetapi trauma dan ketakutan akan banjir masih menghantui, terutama setiap kali hujan mulai turun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




