Bertahan Hidup, Nelayan Padang Jual Kayu Sisa Banjir
Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:29 WIB
Padang, Beritasatu.com - Untuk bertahan hidup pascabanjir bandang, warga nelayan di pesisir Kelurahan Parupuak Tabiang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, terpaksa menjual kayu-kayu sisa bencana. Aktivitas melaut yang sempat lumpuh hampir satu bulan kini perlahan mulai kembali normal setelah kawasan pantai dibersihkan dari tumpukan material banjir.
Pada Sabtu (20/12/2025), para nelayan kembali melaut setelah dilakukan pembersihan pantai dari kayu gelondongan, batang pohon, dan sampah besar yang terbawa arus banjir bandang pada 27 November 2025 lalu. Tumpukan kayu tersebut sebelumnya menutup akses perahu dan membuat aktivitas nelayan berhenti total.
Pembersihan pantai dilakukan melalui aksi gotong royong massal yang melibatkan ratusan personel dari berbagai instansi dan unsur masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Polri, Polisi Kehutanan, PT Semen Padang, serta warga setempat.
Selama hampir satu bulan terakhir, kondisi pantai yang dipenuhi kayu membuat nelayan tidak bisa melaut. Perahu sulit ditambatkan dan jalur keluar masuk menuju laut tertutup material sisa banjir bandang dari hulu sungai.
Salah seorang nelayan setempat, Firdaus mengungkapkan, sejak bencana terjadi, ia bersama nelayan lainnya kehilangan mata pencaharian utama.
“Sudah hampir satu bulan ini kami tidak bisa melaut karena kondisi pantai dipenuhi kayu yang terbawa banjir bandang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terpaksa kami mengumpulkan dan menjual kayu-kayu tersebut untuk dijadikan kayu bakar,” ujar Firdaus.
Firdaus menjelaskan, kayu-kayu sisa banjir bandang itu dijual kepada pengepul kayu bakar. Dalam sekali angkut menggunakan mobil truk, ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 500.000.
“Kalau satu mobil truk penuh, biasanya laku sekitar Rp 500.000. Itu yang kami gunakan untuk bertahan hidup sementara karena tidak bisa melaut,” tambahnya.
Meski membantu memenuhi kebutuhan harian, menjual kayu sisa banjir bukan solusi jangka panjang bagi para nelayan. Oleh karena itu, mereka menyambut baik aksi bersih-bersih pantai yang dilakukan secara massal.
Dengan kondisi pantai yang mulai bersih, nelayan berharap aktivitas melaut dapat kembali normal dan hasil tangkapan ikan kembali menjadi sumber penghidupan utama. Warga pesisir juga berharap pemerintah dan pihak terkait terus melakukan penanganan pascabencana secara berkelanjutan, termasuk pengelolaan daerah aliran sungai di wilayah hulu, agar kejadian serupa tidak kembali mengganggu mata pencaharian nelayan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




