ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sebelum Bunuh Diri, Anak SD di NTT Mengaku Enggan Masuk ke Sekolah

Rabu, 4 Februari 2026 | 11:53 WIB
AK
HH
Penulis: Albertus Pepi Kurniawan | Editor: HP
Siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu.
Siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu. (Beritasatu.com/Pepy)

Bajawa, Beritasatu.com - Pengakuan seorang anak sekolah dasar yang enggan berangkat ke sekolah menjadi potongan terakhir sebelum tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah kelas IV SD berinisial YB (10) ditemukan meninggal dunia, diduga bunuh diri, di kebun milik neneknya pada Kamis (29/1/2026).

Keluhan itu disampaikan YB kepada ibu kandungnya pada pagi hari sebelum kejadian. Ia mengaku pusing dan tidak ingin masuk sekolah. Namun, demi mencegah anaknya tertinggal pelajaran, sang ibu tetap mendorong YBR untuk berangkat.

Beberapa jam kemudian, YB ditemukan tidak bernyawa di sebuah pondok kebun di Karadhara, Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, sekitar pukul 11.00 Wita. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari tempat tinggal korban yang sehari-hari diasuh oleh neneknya.

ADVERTISEMENT

Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh saksi berinisial KD (59) yang hendak mengikat hewan ternak di sekitar kebun. Saat mendekati pondok, saksi mendapati YB sudah dalam kondisi meninggal dunia. Warga kemudian berdatangan dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.

Petugas Polres Ngada langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan identifikasi. Dari lokasi, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk tali nilon dan selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang diduga sebagai pesan perpisahan.

Duka keluarga kian mendalam setelah isi surat tersebut diketahui. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, surat itu berbunyi, “Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dahulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya, Ma.”

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R Pissort mengatakan, kepolisian masih mendalami peristiwa ini dengan mengumpulkan keterangan saksi dan berkoordinasi dengan keluarga korban.

“Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Kami juga mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah,” ujarnya.

YB diketahui hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sejak usia sekitar 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo. Ayahnya merantau ke Kalimantan lebih dari 10 tahun lalu dan tidak pernah kembali.

Selain bersekolah, YB membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluhannya terkait sekolah pun tergolong sederhana, yakni kebutuhan buku tulis dan pulpen.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” ujar sang nenek.

Ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47) mengakui keluarga mereka tengah menghadapi kesulitan ekonomi berat dan belum tersentuh bantuan sosial pemerintah, baik bantuan pendidikan maupun bantuan ekonomi lainnya.

Dari lima bersaudara, hanya dua anak yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Tragedi ini pun menyoroti kembali kerentanan anak-anak dari keluarga miskin serta pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental dan akses pendidikan dasar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

NASIONAL
Anak SD Bunuh Diri di NTT: Ditinggal Ayah, Diasuh Nenek sejak Balita

Anak SD Bunuh Diri di NTT: Ditinggal Ayah, Diasuh Nenek sejak Balita

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon