ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Harga Daging Melonjak, Warga Banda Aceh Tetap Jalani Tradisi Meugang

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:18 WIB
WM
MA
Penulis: Wahyu Majiah | Editor: MA
Tradisi khas Aceh ini digelar tiga kali dalam setahun, menjadi momen penting yang selalu hadir sehari atau dua hari sebelum Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Tradisi khas Aceh ini digelar tiga kali dalam setahun, menjadi momen penting yang selalu hadir sehari atau dua hari sebelum Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. (Beritasatu.com/Wahyu Majiah)

Banda Aceh, Beritasatu.com – Sejak fajar menyingsing, sudut-sudut pasar tradisional di Banda Aceh sudah dipadati warga. Lapak-lapak daging musiman berdiri berderet di tepi jalan, bahkan memicu kemacetan yang kerap terjadi setiap menjelang Ramadan.

Suara tawar-menawar, denting pisau di atas talenan, serta aroma daging segar menjadi penanda hadirnya tradisi Meugang. Tradisi khas Aceh ini digelar tiga kali dalam setahun, termasuk saat memasuki bulan suci Ramadan.

Meugang bukan sekadar aktivitas membeli daging, bagi masyarakat Aceh tradisi ini menjadi momen penting yang selalu hadir sehari atau dua hari sebelum Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Pada hari Meugang, hampir setiap rumah memasak daging, mulai dari gulai dengan kuah pekat kemerahan, disemur, atau diolah dengan bumbu rempah khas Aceh.

ADVERTISEMENT

Tradisi Meugang sejak Masa Kesultanan Aceh

Tradisi Meugang telah berlangsung sejak era Kesultanan Aceh, khususnya pada masa Sultan Iskandar Muda. Kala itu, pembagian daging kepada rakyat menjadi bagian dari kebijakan sosial kerajaan sebagai simbol kedekatan penguasa dengan masyarakat.

Kebiasaan tersebut kemudian mengakar dan terus diwariskan lintas generasi hingga sekarang. Tradisi ini tak hanya bertahan, tetapi juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, termasuk bagi generasi muda.

“Setiap tahun selalu penasaran dan ingin merasakan lagi suasana Meugang. Saya beli satu kilo daging untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga di rumah,” ujar Cut Nauval, salah satu pembeli yang ditemui di Beurawe, Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (18/2/2026).

Menurut Cut, tradisi Meugang sudah dilakukan secara turun-temurun dan selalu menghiasi sudut kota menjelang hari besar Islam.

“Kita makan daging bersama di rumah, dan lapak-lapak musiman itu pasti selalu ada sebelum Ramadan,” katanya.

Dongkrak Ekonomi Rakyat, Harga Daging Naik

Selain menjaga tradisi, Meugang juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, penjualan daging sapi dan kerbau di Banda Aceh meningkat signifikan.

Tingginya permintaan daging sapi serta kerbau membuat harganya mulai merangkak naik. Juliandi, salah seorang pedagang, menyebut harga daging sapi saat ini mencapai Rp 170.000 per kilogram sedangkan daging kerbau Rp 200.000 per kilogram.

Harga tersebut lebih tinggi dibanding hari biasa yang berkisar Rp150.000 per kilogram.

“Hari Meugang memang ramai, dan harganya jauh berbeda dari hari biasa,” kata Juliandi.

Lonjakan permintaan juga membuat pedagang menambah jumlah pemotongan hewan. Dalam empat hari terakhir menjelang Meugang, Juliandi bersama pedagang lain memotong hingga dua ekor sapi per hari.

“Sudah empat hari kami jualan. Per hari kami potong sampai dua ekor sapi, bisa habis sekitar 200 kilogram per hari,” ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Prabowo Salurkan Uang Bantuan Meugang Rp 72,75 Miliar untuk Warga Aceh

Prabowo Salurkan Uang Bantuan Meugang Rp 72,75 Miliar untuk Warga Aceh

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT