Selesai 2026, Revitalisasi 72 Sekolah di Pidie Jaya Capai Rp 86,7 M
Selasa, 10 Maret 2026 | 16:28 WIB
Meureudu, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau langsung pelaksanaan program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat pemulihan sarana pendidikan di wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Dalam kunjungannya, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah untuk segera menyelesaikan rekonstruksi fasilitas pendidikan agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan optimal. "Ini bagian dari upaya kami agar rekonstruksi, khususnya untuk sarana pendidikan di Aceh, dapat terselesaikan lebih cepat," ujar Abdul Mu’ti di Aceh, Selasa (10/3/2026).
BACA JUGA
Mendikdasmen Tinjau Realisasi Program Revitalisasi Sekolah 2026 di Pidie Jaya Aceh, Total Rp 86,7 M
Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memprioritaskan program revitalisasi satuan pendidikan untuk tiga kategori utam, yaitu sekolah yang terdampak bencana, sekolah dengan bangunan rusak berat, dan sekolah yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Secara nasional, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 14 triliun untuk revitalisasi 11.000 satuan pendidikan di berbagai daerah.
Di Kabupaten Pidie Jaya, sebanyak 72 sekolah terdampak bencana telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) untuk revitalisasi, dengan anggaran Rp 86,7 miliar. Dari jumlah tersebut, 62 sekolah dikerjakan melalui mekanisme swakelola, sedangkan 10 sekolah lainnya akan dibangun oleh TNI Angkatan Darat.
Abdul Mu’ti menjelaskan sejumlah sekolah yang telah menandatangani PKS pada tahap pertama sudah mulai memasuki tahap pekerjaan awal. "Untuk tahap pertama, yang sudah PKS tadi sudah mulai dikerjakan. Mudah-mudahan dapat waktu yang sesingkat-singkatnya, dan pada tahun ajaran baru dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar yang ideal," ujarnya.
Selain perbaikan bangunan sekolah yang rusak, pemerintah juga tengah menangani sekolah-sekolah yang harus direlokasi akibat lokasi yang tidak memungkinkan untuk digunakan kembali. "Sekolah-sekolah yang memang dalam posisi harus relokasi, kami menunggu kepastian tempatnya. Mudah-mudahan bisa kami berikan prioritas dengan anggaran 2026," tambah Abdul Mu’ti.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD Negeri 8 Meureudu, Martini, mengungkapkan banjir yang melanda wilayah tersebut sebelumnya menyebabkan kerusakan parah pada sekolahnya. Ketinggian air bahkan mencapai 1,5 meter sehingga seluruh ruang kelas dan perabotan terendam.
Pada 2026, sekolah tersebut mendapatkan bantuan revitalisasi berupa rehabilitasi 12 ruang kelas, yang kini sedang dikerjakan setelah penandatanganan PKS. Martini berharap, peninggian bangunan sekolah yang dilakukan melalui program revitalisasi dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir pada masa mendatang.
"Dengan adanya peninggian bangunan, ke depannya kalau ada banjir kami bisa lebih siaga. Insyaallah aman ke depannya, dan anak-anak bisa belajar dengan baik di sini, tidak lagi takut dengan adanya banjir," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, Muhammadiah, mengatakan sekolahnya menjadi salah satu yang terdampak banjir paling parah di Kabupaten Pidie Jaya. Area sekolah bahkan tertimbun tanah dan tidak dapat digunakan.
"Di sini kami tidak bisa memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah ada, seperti komputer, TV, buku, semua sudah tertimbun," katanya.
Ia menambahkan sebagian buku bantuan dari kementerian baru saja diterima dan akan mulai digunakan setelah libur Lebaran. Melalui program revitalisasi tahun 2026, SMA Negeri 2 Meureudu akan menerima bantuan pembangunan sekolah baru di lokasi yang sama dengan nilai anggaran Rp 7,9 miliar yang akan dikerjakan oleh TNI AD.
Pemerintah menargetkan sekolah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang dapat selesai pada awal tahun ajaran baru pada Juni 2026. Sementara itu, pembangunan sekolah dengan kerusakan berat atau yang memerlukan relokasi ditargetkan rampung pada November 2026.
Dengan percepatan pembangunan ini, pemerintah berharap proses pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana dapat berjalan lebih cepat, sehingga peserta didik dapat kembali belajar dengan aman dan nyaman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




