Alkisah, tersebutlah empat sekawan yang sedang melakukan perjalanan jauh. Mereka berasal dari negeri yang berbeda – Turki, Yunani, Persia, dan Arab. Saat lelah di tengah perjalanan, berhentilah mereka untuk rehat sejenak. Karena bekal uang yang mereka bawa tak terlalu banyak, mereka harus menentukan satu jenis makanan yang akan mereka santap. Berdiskusilah mereka tentang makanan apa yang hendak mereka beli.
"Saya mau angur," kata Si Kawan dari Persia.
"Tidak. Saya mau uzum saja," sela Si Kawan dari Turki.
"Saya memilih ‘inab. Itu jauh lebih baik," sergah Si Kawan dari Arab.
"Kenapa kita tak beli stafil saja. Saya kira makanan itu jauh lebih lezat dari pilihan kalian semua!" Si Kawan dari Yunani mengajukan usul, dengan nada yang agak meninggi.
Mereka saling ngotot bertahan dengan pilihan masing-masing. Tak ada satu pun yang mengalah. Masing-masing berpikir bahwa pilihan merekalah yang terbaik.
Saat adu mulut itu berlangsung, rupanya di dekat mereka duduk seorang bijak yang mengetahui beberapa bahasa. Diam-diam, dia mendengar perdebatan itu. Semula, Si Bijak ini tak mau ikut campur. Tetapi, lama-lama, dia merasa iba.
Dia mencoba menolong. Mendekatlah Si Bijak. Ia pura-pura tak tahu, dan bertanya, apa masalah yang mereka hadapi. Masing-masing menceritakan tentang makanan yang menjadi pilihan mereka – angur, uzum, ‘inab, dan stafil.
"Baiklah. Kalau kalian tak keberatan, berikan uang kalian kepada saya. Biarlah saya pergi ke pasar dan membelikan untuk kalian semua makanan yang kalian kehendaki," kata Si Bijak.
Empat sekawan itu semula ragu. Tetapi mereka melihat, Si Bijak adalah orang saleh yang tampaknya bisa dipercaya. Mereka, akhirnya, menyerahkan sekeping koin yang mereka miliki kepada Si Bijak yang langsung bertolak ke pasar.
Beberapa saat kemudian, Si Bijak kembali dari pasar, membawa buah anggur. Begitu melihatnya, empat sekawan itu terkejut, dan serentak berteriak, "Inilah buah yang kami kehendaki!" Mereka puas dengan buah yang dibeli Si Bijak itu. Mereka, dengan agak tersipu, mengucapkan terima kasih, sembari mengakui kekhilafan mereka.
Empat sekawan itu baru sadar, pertengkaran mereka beberapa jam sebelumnya itu disebabkan oleh perselisihan tentang istilah yang berbeda, padahal makna yang dikandung oleh istilah yang mereka pertengkarkan itu sebetulnya sama belaka. Apa yang mereka sebut dengan bahasa yang berbeda-beda –angur, uzum, ‘inab, dan stafil—adalah istilah untuk barang yang sama: anggur.
Cerita ini boleh jadi tidak berkisah tentang peristiwa yang secara faktual pernah terjadi. Ini adalah kisah yang diceritakan oleh Jalaluddin Rumi (w. 1273 M), seorang mistikus besar Islam dari Turki, sebagai sebuah perumpamaan saja.
Kisah ini memang populer di sebagian kalangan Sufi atau mistik Islam, terutama mereka yang mengikuti tarekat Maulawiyah —tarekat yang didasarkan pada ajaran Jalaluddin Rumi. (Reza Aslan menuturkannya kembali dalam bukunya No god But God: The Origins, Evolution, and Future of Islam [2005, hal. 224]).
Kisah ini melambangkan sikap keberagamaan yang berkembang di kalangan mistik pada umumnya, termasuk, tentunya, mistikus Islam. Kaum mistik biasanya memiliki semangat yang hampir mirip-mirip: mereka, dalam menjalankan agama, tak membiarkan diri mereka terpenjara oleh perbedaan kulit luar; mereka lebih melihat sesuatu yang ada di balik kulit itu. Kulit bisa memiliki warna dan bentuk luaran yang berbeda-beda, tetapi inti yang terkandung di dalamnya sejatinya kurang lebih sama.
Pertikaian yang muncul dalam komunitas agama, dalam pandangan kaum mistik, boleh jadi mirip dengan pertengkaran antara empat sekawan dalam kisah di atas. Mereka mempertengkarkan istilah yang berbeda, tanpa sadar bahwa apa yang mereka pertengkarkan itu sebetulnya menunjuk kepada esensi atau sari-pati yang sama.
Pandangan keagamaan yang bersifat mistis/sufistik ini, menurut saya, relevan untuk dikembangkan saat ini, terutama di tengah-tengah maraknya apa yang sering disebut dengan politik identitas. Pandangan keagamaan yang "mistikal" ini cenderung sangat terbuka, dan lebih menekankan kesamaan esensial antara berbagai tradisi keagamaan yang ada.
Dalam politik identitas yang sedang marak saat ini, perhatian banyak kalangan agama cenderung menghambur kepada segi-segi agama yang sifatnya esoterik, atau luaran. Yang lebih diperhatikan biasanya adalah aspek baju, bukan sesuatu yang ada di sebaliknya.
Kaum mistik mempunyai pandangan yang berbeda. Yang menjadi ke-adreng-an (concern) mereka adalah dimensi esoterik, atau dimensi "kedalaman" agama. Pada dimensi itu, banyak kesamaan bisa dijumpai dalam tradisi agama yang berbeda-beda.
Mereka tentu tak mengabaikan aspek baju, luaran, dan kulit dalam agama. Tetapi, aspek itu bukanlah satu-satunya, dan sebaiknya kita tak dipenjarakan olehnya, jika kita tak mau terjerembab dalam pertikaian yang kadang kurang perlu.
Kaum mistik Islam biasa menggunakan istilah "suluk" yang artinya "menempuh jalan". Seorang yang menjalani suluk disebut dengan "salik", a person embarking on a journey (orang yang sedang melakukan perjalanan). Dalam pandangan mereka, semua penganut agama adalah "salik", orang yang menempuh jalan yang berbeda-beda, tetapi menuju tujuan yang kurang lebih sama.
Pandangan kaum mistik ini jelas kurang disukai, atau malah ditentang oleh sebagian besar kalangan ortodoksi dalam agama apapun. Yang dimaksud dengan kaum ortodoksi adalah mereka yang mendaulat dirinya sebagai the guardian of faith, penjaga iman.
Tetapi, menurut saya, pandangan mistikal semacam ini justru relevan dikembangkan sekarang, sebagai antidote atau racun penawar kecenderungan tertutup yang marak di tengah-tengah menjamurnya politik identitas.
Kita tak bisa membiarkan kecenderungan yang serba menutup diri itu begitu saja tanpa upaya untuk menetralisirnya. Kecenderungan tertutup semacam ini, apalagi jika dibarengi dengan sikap mutlak-mutlakan karena merasa diri sendiri paling benar, bisa menjadi sumber ketegangan dan disharmoni sosial. Contohnya sudah banyak sekali.
Silakan komunitas agama yang berbeda-beda itu menyebut angur, uzum, ‘inab, dan stafil. Perbedaan kosa-kata itu tentu baik-baik saja, karena memperkaya medium komunikasi. Asal mereka sadar, kosa-kata yang berbeda-beda itu sejatinya menunjuk esensi yang sama.