Sekuler Bukan Berarti Tidak Religius
-
Selasa, 5 Februari 2013 | 02:00 WIBMengawali tulisan ini, saya teringat betul pada karya yang ditulis oleh George M Marsden, Profesor lulusan Yale University sekaligus pengajar di The Divinity School, Duke University yang berjudul Religion and American Culture yang terbit pada tahun 1996. Dalam karyanya tersebut Marsden banyak menjelaskan fenomena yang terjadi di Amerika, khususnya menyangkut masalah tingkat religiusitas yang berkembang disana.
Banyak orang yang mengatakan bahwa antara sekuler dan religiusitas adalah sesuatu yang kontradiksi. Keduanya bagaikan sekeping logam dengan dua sisi yang berbeda. Seseorang yang sekuler tidak mungkin memiliki tingkat religiusitas yang tinggi dan seorang yang anti sekuler sudah pasti memiliki tingkat religiusitas mumpuni. Namun pertanyaannya adalah, adakah yang sekuler namun juga memiliki tingkat religiusitas tinggi?
Alexis de Tocqueville pernah mengatakan "Di Amerika Serikat wewenang tertinggi adalah agama, dan tentu saja kemunafikan terdapat di mana-mana, tetapi tidak ada negara di dunia di mana agama Kristen mempertahankan suatu pengaruh yang lebih besar terhadap jiwa orang-orang daripada Amerika". Orang boleh setuju atau tidak dengan pendapat Tocqueville tersebut, namun pendapat Tocqueville tersebut bukanlah omong kosong belaka. Dalam karya klasiknya, Marsden mengungkapkan bahwa Amerika Serikat itu begitu religius dan sekuler. Para pengamat, mulai dari Tocqueville sampai Gallup, jr telah sepakat tentang hal ini.
Amerika Serikat banyak dinilai orang sebagai negara sekuler yang tidak mengenal Tuhan dalam urusan duniawi, namun faktanya adalah bukan hanya 95% rakyat Amerika percaya akan Tuhan, sebanyak 70% rakyat Amerika pun menegaskan bahwa mereka tidak akan memilih calon presiden yang tidak percaya Tuhan. Dari sini saja sudah terlihat bahwa isu-isu agama masih tergolong laku dalam kancah politik Amerika, namun banyak orang yang masih buta akan hal ini.
Simbolisme agama kerap kali dijadikan patokan dasar dalam melihat tingkat religiusitas seseorang, seperti misalnya mereka yang berjenggot panjang, memakai cadar, jilbab, celana menggantung dll kadang dicap memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Padahal ciri khas orang-orang yang seperti itu seringkali melakukan aksi radikalisme dengan melakukan serangan-serangan kepada umat non Islam. Apakah hal itu Islami?
Berbeda halnya dengan kondisi di Amerika, dalam hal ini Marsden juga menjelaskan tema sentral yang menjadi paradoks dalam kehidupan Amerika adalah yang religious dan yang sekuler telah menjadi ciri peradaban Amerika. Kehidupan religious di Amerika bisa dilihat dari tingginya angka toleransi beragama, menjunjung tinggi hak, kebebasan serta saling menghormati antar sesama pemuka agama. Bahkan sebuah penelitian menyebutkan tentang pertumbuhan agama di Amerika Serikat. Hasilnya penganut Islam meningkat 2,6 juta setiap tahunnya di Amerika Serikat, namun tren peningkatan tersebut tidak diiringi dengan kekerasan atas nama agama. Sungguh luar biasa!
Sekularisasi tumbuh di Amerika dengan dramatis, dan tentu disamping itu juga persentase orang-orang Amerika yang secara teratur mengunjungi tempat-tempat ibadah jauh lebih besar dibandingkan pada masa-masa sebelumnya.
Sekulerisme menyebar di Amerika dalam bidang kehidupan, termasuk teknologi, pemerintahan, dan agama. Tidak ada dominasi agama tradisional terhadap bidang yang memiliki akibat luas bagi pembentukan nilai-nilai kebudayaan Amerika di masa depan. Marsden juga menegaskan bahwa tingkat persentase orang yang mengunjungi ibadah justru lebih besar bila dibandingkan pada zaman kolonial. Ini artinya ada sesuatu yang baru dalam hubungan antara sekuler dan tingkat religiusitas. Yakni dalam fenomena di amerika yang masyarakatnya cenderung sekuler namun tetap religius dalam menjalankan ritual keagamaan.
Keadaan yang demikian membuat sebuah paradigma baru dalam melihat watak keagamaan dewasa ini. Pertama, watak sekuler yang garis lurus dengan minimnya tingkat religiusitas. Kedua, watak anti sekuler yang garis lurus dengan tingginya religiusitas. Dan yang ketiga adalah watak sekuler tetapi religious dalam menjalankan ritual keagamaan. Point yang ketiga ini lah yang sesungguhnya menjadi panutan bagi pemeluk agama.
Dalam konteks Amerika, banyak yang menilai Amerika masuk ke dalam kategori pertama. Namun hal tersebut nampaknya keliru. Dalam karyanya, Marsden menjelaskan bahwa kisah agama dalam kebudayaan Amerika bukanlah suatu kisah peralihan sederhana dari yang sekuler menuju religious, namun hal tersebut merupakan suatu kisah penempatan kembali dari yang agamawi dan yang sekuler di dalam suatu masyarakat modern yang tengah muncul. Penempatan kembali ini barangkali memiliki akibat-akibat penting bagi kebudayaan secara keseluruhan. Namun masyarakat religius semakin tumbuh baik dari sebelumnya. Apapun hasilnya menyinggung agama dalam kehidupan Amerika, seringkali diabaikan orang.
Perdebatan mengenai ruang sekuler versus religius dan seterusnya tentu akan membuat kita terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif jika masing-masing tidak menyadari adanya wilayah abu-abu di mana seseorang bisa menempatkan diri. Oleh karena itu lah kategori ketiga dalam penjelasan diatas bisa dikatakan masuk dalam wilayah abu-abu, dalam hal ini adalah kehidupan beragama di Amerika yang sekuler sekaligus religious.
Dalam berbagai fenomena, seringkali agama merupakan sumber konflik antar manusia. Puritanisme agama kerap membuat sumber masalah di Amerika. Namun disini rakyat Amerika perlahan mulai menyadari bahwa sudah selayaknya menjauhkan kegiatan eksplisit keagamaan dari bermacam kegiatan umum serta dalam pola pemerintahan. Walaupun begitu pembatasan kepada kegiatan keagamaan dalam kehidupan umum tidak perlu menyebabkan terhambatnya ekspresi keagamaan yang wajar dalam lingkungan kehidupan umum maupun pribadi. Hal ini lah yang menjadi pusat perhatian Marsden dalam melihat korelasi antara ritual keagamaan dengan kehidupan di depan umum yang jarang ditujukan dalam kehidupan di timur-tengah bahkan Indonesia sekalipun.
Dua sisi tersebut telah memainkan peran penting dalam menghidupkan suasana keberagaman serta menjamin agama manapun memiliki peluang timbuuh subur di Amerika. Tidak heran apabila jumlah pemeluk islam di Amerika kini selalu bertambah sekitar 2,6 juta di setiap tahunnya. Dalam kondisi yang seperti ini agama tetap akan memainkan peran penting dalam kehidupan di Amerika terutama bila dilihat dari aspek moralitas.
Marsden dalam kalimat terakhirnya menyebutkan bahwa agama tetap akan menjadi kekuatan penting di Amerika, kelenturannya dalam lingkungan umum telah tergambarkan dalam perannya membentuk sikap-sikap moral rakyat Amerika pada abad 20. Walaupun dalam suatu masyarakat pluralistik perdebatan didepan umum tidak dapat lagi dilakukan menurut warisan keagamaan bersama, bahwa ajaran warisan agama tidak dapat merembes masuk ke segala dimensi kehidupan nasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




