Cita-cita Mobnas
Daily news and information on financial markets and investments.
Rabu, 11 Februari 2015 | 10:12 WIBIstilah mobil nasional (mobnas) yang dahulu sempat menggema, namun kemudian terdengar sayup-sayup jauh, kini bergaung kembali. Adalah mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono yang menggaungkan lagi istilah itu. Melalui perusahaannya, PT Adiperkasa Citra Lestari, Hendropriyono meneken kerja sama dengan pabrikan mobil Malaysia, Proton Holdings Berhad, untuk mengembangkan mobnas di Indonesia.
Niat Hendropriyono sungguh menyita perhatian publik. Apalagi penandatanganan kerja sama secara bisnis (business to business) itu disaksikan langsung Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Terlebih, dalam waktu bersamaan, hubungan RI-Malaysia menghangat kembali menyusul beredarnya iklan mesin penyedot debu yang melecehkan tenaga kerja Indonesia (TKI).
Bagi bangsa Indonesia, memiliki mobnas adalah cita-cita yang tak pernah padam. Menyuarakan mobnas seperti meniup bara dalam sekam. Dengan populasi 250 juta jiwa, jumlah kelas menengah 50 juta orang, pertumbuhan ekonomi 5-6 persen per tahun, dan luas daratan 1,9 juta km2, Indonesia merupakan pasar yang sangat ideal bagi industri mobil. Buktinya, tahun lalu, Indonesia menempati ranking pertama pasar mobil di ASEAN dengan total penjulan 1,2 juta unit.
Menyebut mobnas berarti membuka memori tahun 1996-2003 saat Indonesia merilis mobil merek sendiri, seperti Maleo (Menristek BJ Habibie), Timor (Tommy Soeharto), Bakrie (Grup Bakrie), Macan dan Perkasa (Texmaco). Tapi niat memproduksi mobil merek lokal secara massal pupus. Timor yang menjadi tumpuan terakhir, juga kandas setelah pemerintah dikalahkan The Big Three (AS, Eropa, Jepang), sehingga Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengharuskan fasilitas pajak untuk PT Timor Putra Nasional dicabut.
Lima tahun silam, mimpi itu kembali hadir. Setidaknya ada 10 perusahaan yang mengklaim bisa membuat mobil karya bangsa sendiri. Mereka antara lain Tawon, Gea, Arina, ITM, Fin Komodo, dan Wakaba. Itu belum termasuk Marlip, mobil listrik buatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mobil militer made in PT Pindad, Gangcar (mobil kecil buatan PT DI), serta Esemka (karya anak-anak SMK di Solo yang sempat dipopulerkan Jokowi). Namun, karena tidak mendapat dukungan pemerintah--terutama keringanan pajak--nasib mobil-mobil itu tak jelas juntrungannya.
Kini, kita bertanya-tanya, apa yang dimaksud Hendropriyono dengan proyek mobnasnya? Jika hanya mengimpor, merakit, dan mengubah mobil Proton menjadi merek domestik, apa nilai tambahnya bagi Indonesia? Berarti, itu tidak lebih baik dari Astra yang sudah menggunakan komponen lokal sampai 80 persen meski masih menggunakan merek asing. Apalagi teknologi otomotif Malaysia dan Indonesia masih setara. Maka, kita sepakat bahwa istilah mobnas tidak digunakan sembarangan karena dapat menimbulkan interpretasi yang bias, dengan konsekuensi yang bias pula. Sebab mobnas berhubungan dengan kemauan politik dan tanggung jawab pemerintah.
Mobnas bukan sekadar membuat mobil merek lokal. Bukan pula semata memproduksinya secara massal di dalam negeri. Hal paling fundamental dari mobnas adalah kemampuan memiliki teknologi sendiri dan kepiawaian memproduksi komponen lokal. Negara-negara maju membutuhkan waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk menghasilkan mobil andal dan terpercaya, baik dengan cara mengembangkannya sendiri maupun menggandeng negara lain. Komponen lokal berhubungan dengan kemampuan industri barang modal dan industri dasar di dalam negeri.
Kalau mau jujur, kita belum punya industri dasar yang kuat. Alhasil, Indonesia belum sampai pada tahap mampu memproduksi sendiri mobnas dalam arti sesungguhnya. Itulah sebabnya, Timor dalam skenarionya harus mengimpor terlebih dahulu mobil dari Kia Motors Korea sebelum memproduksinya secara bertahap. Texmaco mungkin sudah lebih maju karena punya teknologi dan industri barang modal sendiri. Namun karena tidak didukung industri dasar di dalam negeri, pabrikan itu pun kesulitan mengembangkan mobnas.
Hidup-matinya mobnas tergantung pemerintah. Jika memang memiliki kemauan politik yang kuat, pemerintah akan berada di barisan terdepan untuk membela mobnas habis-habisan. Dukungan pemerintah diberikan dalam segala hal, dari mulai insentif pajak, kemudahan perizinan, sampai fasilitas-fasilitas lainnya. Tak kalah penting, pemerintah harus membentengi mobnas dari berbagai upaya yang dapat menghancurkan proyek mobnas itu sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bila negara-negara maju tak menghendaki Indonesia memiliki produk kebanggaan nasional. Tak mengherankan jika pabrikan otomotif di dalam negeri seperti Texmaco dan Timor tak dibiarkan hidup, terlepas dari sejumlah kasus yang mengimpitnya.
Kita sependapat bahwa memiliki mobnas adalah impian yang mulia. Mobnas bukan saja dapat mendongkrak perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat dengan segala nilai tambahnya, tapi juga mampu mengangkat jati diri, harkat, dan martabat kita sebagai bangsa. Separuh saja penduduk Indonesia menggunakan mobil buatan sendiri, maka pabrik-pabrik mobil lokal bakal menjamur di seantero negeri. Dengan memiliki mobnas, kita akan dianggap sebagai bangsa yang hebat. Apalagi jika mobnas laku dijual di negara-negara lain. Itulah alasan mengapa cita-cita mobnas tak boleh padam, barang sedetik pun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




