Mengenal Gim Roblox, Benarkah Berbahaya bagi Anak?
Jumat, 8 Agustus 2025 | 14:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Permainan daring Roblox tengah menjadi sorotan karena dianggap membahayakan bagi anak-anak. Platform ini memungkinkan pemain merancang dan memainkan gim ciptaan pengguna lain, tetapi sejumlah pihak menilai kontennya mengandung kekerasan dan tidak layak untuk anak di bawah umur.
Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak yang memainkan gim ini.
"Ini kan harus ada pengawasan dari orang tua juga ya, jadi pola asuh dalam keluarga harus diperhatikan," ujar Menteri PPPA, dikutip dari Antara, Jumat (8/8/2025).
Lantas, apa sebenarnya Roblox itu? Mengapa platform ini dianggap berbahaya bagi anak-anak? Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, mari mengenali lebih jauh soal gim Roblox ini.
Apa Itu Roblox?
Roblox adalah platform kreasi gim daring yang didirikan pada tahun 2004 oleh David Baszucki dan Erik Cassel.
Aplikasi resminya diluncurkan pada 2006, dan sejak itu terus berkembang secara global. Pada tahun 2019, Roblox bermitra dengan Tencent untuk menghadirkan versi berbahasa Mandarin.
Dilansir dari laman eSafety, Roblox memungkinkan pengguna untuk menciptakan dan memainkan jutaan gim dengan genre beragam, mulai dari simulasi, balapan, hingga petualangan. Pemain juga bisa saling berinteraksi melalui pesan teks dan suara secara real-time.
Secara default, pengguna di bawah usia 13 tahun mendapatkan pengaturan kontrol orang tua yang ketat, termasuk pembatasan akses ke gim yang tidak memiliki rating dan fitur interaksi sosial.
Menurut data dari Demandsage, Roblox memiliki 380 juta pengguna, dengan lebih dari 85 juta pengguna aktif harian. Sekitar 40% pengguna aktif harian tersebut adalah anak-anak di bawah usia 13 tahun.
Mengapa Roblox Dianggap Berbahaya bagi Anak?
Meski menawarkan kreativitas dan hiburan, Roblox juga menyimpan potensi risiko serius bagi anak-anak. Dilansir dari The Guardian, berikut beberapa alasan mengapa platform ini menuai kekhawatiran:
1. Konten tidak pantas dan mengandung kekerasan
Sebuah laporan dari Internet Matters menemukan adanya gim dalam Roblox yang menampilkan adegan kekerasan ekstrem, seperti saling memukul dengan senjata tajam hingga cipratan darah. Beberapa gim juga memuat tema depresi dan tindakan brutal lainnya.
2. Interaksi dengan orang asing
Platform ini memungkinkan pemain berinteraksi dengan orang asing secara daring. Investigasi The Guardian dan Revealing Reality menunjukkan bahwa anak-anak bisa dengan mudah diajak berkomunikasi oleh pengguna dewasa, bahkan pada akun yang seharusnya berada di bawah pengawasan ketat.
3. Kurangnya verifikasi usia yang efektif
Meskipun ada pengaturan usia dan filter bawaan, penelitian menemukan bahwa anak-anak masih dapat mengakses lingkungan yang sangat sugestif, termasuk konten seksual dan fetish yang tidak pantas.
4. Moderasi dan keamanan yang masih lemah
Meskipun Roblox menyatakan telah menambahkan lebih dari 40 fitur keamanan baru pada 2024, banyak pihak menilai upaya tersebut belum cukup. Anak-anak masih bisa mengakses konten yang membahayakan secara psikologis, bahkan dengan fitur keamanan yang diaktifkan.
Direktur Revealing Reality, Damon De Ionno, menyebut bahwa kontrol yang ada masih belum efektif:
"Anak-anak masih bisa mengobrol dengan orang asing yang tidak ada di daftar teman mereka, dan dengan jutaan gim di platform, orang tua akan sangat kesulitan untuk memantau semuanya," ujar Damon, dikutip dari The Guardian, Jumat (8/8/2025).
Apa Tanggapan dari Pihak Roblox?
Kepala Petugas Keamanan Roblox, Matt Kaufman, menyatakan bahwa keamanan pengguna (terutama anak-anak) adalah prioritas utama mereka.
Perusahaan ini terus mengembangkan kebijakan dan teknologi keamanan, serta bekerja sama dengan para ahli dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.
Namun demikian, pihak Roblox juga mengakui bahwa pengawasan orang tua dan keterlibatan aktif keluarga dalam penggunaan platform oleh anak-anak sangat penting.
Roblox memang menawarkan dunia virtual yang luas dan kreatif, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa risiko yang mengintai juga besar, terutama bagi anak-anak. Dengan konten yang tidak selalu ramah anak dan sistem pengawasan yang belum sepenuhnya efektif, pengawasan ketat dari orang tua menjadi hal yang mutlak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




