UGM-NVIDIA-Indosat Jalin Kolaborasi Kembangkan Fasilitas Riset AI
Jumat, 13 Februari 2026 | 19:09 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com – Merespons perkembangan teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI), Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kerja sama strategis dengan NVIDIA dan Indosat Ooredoo Hutchison. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan teknologi AI untuk kegiatan akademik, riset, serta hilirisasi inovasi.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari program UGM AI Center of Excellence, yang berfokus pada penguatan riset, pendidikan, dan pengembangan komunitas AI di Indonesia.
Kepala Biro Transformasi Digital (BTD) UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., menjelaskan kolaborasi ini bertujuan mengintegrasikan riset akademik dengan kebutuhan industri, membangun infrastruktur AI yang terbuka, mudah diakses, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan AI nasional.
“Jadi, saya pikir ini akan menjadi suatu hal yang baik untuk langkah berikutnya,” kata Mardhani, dilansir dari laman resmi UGM, Jumat (13/2/2026).
UGM menawarkan sejumlah bidang riset unggulan, antara lain AI di bidang medis, energi dan pemanfaatan sumber daya, serta smart technology. Dalam bidang medis, AI dinilai memiliki potensi besar untuk mempercepat proses diagnosis penyakit.
Untuk mendukung hal tersebut, UGM bersama NVIDIA menyiapkan infrastruktur berupa DGX Station, superkomputer AI berbentuk workstation berperforma tinggi yang ditempatkan di Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA UGM.
“Infrastruktur tersebut menjadi sarana mendukung aktivitas berbasis AI di UGM. Melalui program ini diharapkan dapat terbangun kolaborasi yang optimal antara akademisi, industri, dan pemerintah,” ujarnya.
AI Medis dan Tantangan Infrastruktur
Peneliti AI bidang medis dari FK-KMK UGM, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, MSc, PhD, Sp.A, Subsp.Neuro, mengungkapkan bahwa AI sangat membantu dalam penanganan Covid-19. Namun, keterbatasan infrastruktur menjadi kendala utama.
“Kemampuan penggunaan AI dalam dunia medis terbatas, karena kami tidak memiliki infrastruktur untuk melakukan aktivitas dengan AI,” katanya.
Melalui kolaborasi dengan NVIDIA dan Indosat Ooredoo Hutchison, UGM menargetkan pembangunan konektivitas nasional agar data dapat diunggah ke server terpusat. Data itu kemudian dapat dianalisis, dan dimanfaatkan untuk pengembangan AI, termasuk di sektor kesehatan.
Senior Regional Manager of NVIDIA AI Technology Center, Dr. Ng Aik Beng, menjelaskan bahwa kolaborasi AI di bidang kesehatan tidak hanya dilakukan dengan UGM, tetapi juga dengan Monash University, Australia.
“Jadi ini adalah salah satu harapan dan visi yang kita miliki di negara ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan NVIDIA telah mengembangkan berbagai framework AI, termasuk untuk sektor kesehatan dan tata kelola kota. Di bidang kesehatan, terdapat MONAI, framework open-source untuk aplikasi AI pencitraan medis seperti CT scan dan MRI.
MONAI mendukung proses dari anotasi data, pelatihan model, segmentasi 3D, hingga implementasi di sistem rumah sakit. Salah satunya teknologi federated learning untuk menjaga privasi pasien.
“Tujuannya adalah mempercepat penelitian dan implementasi AI medis secara terstandarisasi dan interoperable,” kata Ng.
Sementara dalam tata kelola kota, NVIDIA mengembangkan Metropolis, framework berbasis visi komputer untuk smart city dan analitik video. Platform ini memungkinkan deteksi objek otomatis, pemantauan aktivitas, serta analisis video skala besar guna meningkatkan efisiensi sistem pengawasan, transportasi, dan infrastruktur cerdas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




