Pengprov Taekwondo Tuding KONI Jateng TidakTransparan Gunakan Dana Hibah
Selasa, 19 Maret 2024 | 15:19 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus cabang olahraga (cabor) taekwondo menilai Komite Olahraga Nasional Indonesia Jawa Tengah (KONI Jateng) tidak transparan dalam pengelolaan dan penyaluran dana pembinaan ke cabor untuk keperluan atlet.
Ketua Pengurus provinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Jateng, Grand Master Taekwondo Alex Harjanto mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat Provinsi Jateng mengaudit ulang penggunaan dana hibah KONI Jateng tahun 2023.
Terutama anggaran yang disalurkan untuk cabang olahraga. Pasalnya dalam penyaluran dana ke cabor, KONI Jateng tidak transparan pada manajemen keuangan.
"Hingga saat ini masalah dana pemusatan pelatihan daerah (pelatda) tidak transparan. Bahkan pengurus cabor harus menombok untuk memenuhi kebutuhan atlet selama pelatda menghadapi pekan olahraga nasional (PON). Terkesan KONI Jateng hanya melontarkan janji-janji belaka saja," katanya kepada Beritasatu.com di Senayan Jakarta, Senin (18/3/2024) malam.
Pria yang akrab disapa Master Alex itu menjelaskan gaya seperti ini dilakukan KONI Jateng dalam penyaluran dana ke sejumlah cabor. Pengurus cabor tidak berani mengungkapkan masalah ini karena sebagian besar mereka masuk jajaran pengurus KONI Jateng.
Diakui, akibat sistem penyaluran dana hibah ke cabor yang tidak transparan, ini membuat prestasi olahraga Jateng merosot tajam pada PON Papua 2021 yang lalu.
Alex mengaku mendapat informasi dari internal KONI Jateng bahwa dana hibah menyisakan sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) hingga Rp 5 miliar lebih dari dana hibah tahun lalu sebesar Rp 85 miliar.
"Kalau benar ada dana silpa, berarti manajemen keuangan di KONI Jateng untuk pembinaan olahraga sangat buruk. Kalau pengajuan kebutuhan pelatda kami dipenuhi tentu tidak terjadi silpa," ujarnya.
Ditegaskan bahwa dana silpa ini merupakan akal-akalan pengurus KONI saja agar bisa dimanfaatkan hal lain.
Dia sangat kecewa lantaran cabor yang dibidanginya harus mengeluarkan anggaran sendiri dan nombok untuk membiayai pemusatan latihan daerah. Tidak tanggung-tanggung dana Rp 1,2 miliar digelontorkan, tetapi tidak diganti penuh oleh KONI Jateng.
"KONI Jateng bilangnya mau diselesaikan, tetapi sejauh ini cuma omongan saja dan tidak terbukti," tukas Alex Harijanto.
Ketika diajukan pengajuan penggantian anggaran, KONI Jateng menampik memenuhinya. Padahal rencana anggaran biaya (RAB) yang diminta KONI Jateng telah diberikan dan sesuai kebutuhan pelatda cabor taekwondo.
"Aneh kenapa harus ada dana silpa. Sementara kebutuhan cabor kami tidak dipenuhi. Padahal taekwondo salah satu cabor utama Jateng. Walaupun cair, tidak seberapa jumlahnya, kebutuhan pembinaan jauh lebih besar," urai Alex.
Pria yang mengantar taekwondoin Indonesia meraih satu perak dan tiga perunggu di Olimpiade Barcelona 1992 itu makin kecewa ketika tiba-tiba dana silpa KONI Jateng digunakan untuk pendidikan karakter atlet dan pelatih Jawa Tengah PON XXI Aceh-Sumut.
Tercatat sekitar 500 atlet Pelatda Jateng dari 52 cabang olahraga mengikuti acara pembukaan di Lapangan Rindam IV/Diponegoro, Magelang, Selasa, 27 Februari 2024 lalu.
"Seharusnya dituntaskan dulu anggaran yang telah kami keluarkan sebelumnya. Character building pun tiap cabor berbeda tergantung tingkat kebutuhannya," urai dia.
Besar harapan termasuk mewakili cabang olahraga lain di dalam kepengurusan KONI Jateng, Alex menyebutkan, anggaran pembinaan mandiri dikeluarkan untuk Pelatda dan persiapan Pra PON 2024 diganti sesuai jumlah total pengeluaran biaya.
Ia mengatakan banyak pihak yang kecewa dengan kegagalan demi kegagalan dalam beberapa ajang sebelumnya, terutama PON Papua 2021.
"Tentu kami tidak ingin hasilnya mengecewakan lagi, jika dana pembinaan dikembalikan berani untuk taekwondo target PON Aceh-Sumut 2024, peringkat akhir 10 medali emas. Kita harapkan jajaran pengurus terbuka dan transparan dalam pengelolaan anggaran," pungkas Alex Harjanto.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




