ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

AS Minim Suporter, Pochettino: Kami Seperti Bermain di Guatemala

Kamis, 3 Juli 2025 | 12:43 WIB
BW
BW
Penulis: Bernadus Wijayaka | Editor: BW
Pelatih Amerika Serikat (AS) Mauricio Pochettino (kanan).
Pelatih Amerika Serikat (AS) Mauricio Pochettino (kanan). (AP/Jessica Tobias)

St Louis, Beritasatu.com – Pelatih Timnas Amerika Serikat (AS), Mauricio Pochettino, mengatakan, timnya bermain seolah berada di kandang lawan saat menghadapi Guatemala di semifinal Piala Emas Concacaf 2025.

Atmosfer penuh dukungan untuk Guatemala di Energizer Park, St Louis, AS, membuat tuan rumah seperti bermain di kandang lawan. Laga berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk AS, berkat dua gol cepat Diego Luna yang mengantar mereka ke final melawan Meksiko, Minggu (6/7/2025) di Houston.

“Itu seperti bermain di Guatemala. Suasana itu bagus untuk pemain kami, karena mereka tidak menduganya. Itulah atmosfer yang ingin kami rasakan di Piala Dunia nanti,” tambahnya.

ADVERTISEMENT

Sebanyak 22.423 penonton hadir di stadion, mayoritas mendukung Los Chapines, yang mendominasi 30 menit pertama babak kedua dan mencetak gol lewat Olger Escobar pada menit ke-80.

Pochettino menyoroti betapa pentingnya koneksi antara tim dan suporter. “Ketika kami bicara soal koneksi antara fan dan tim, itulah yang bisa membuat pemain terbang, karena energi itu sangat nyata,” katanya.

Pemain belakang AS, Chris Richards, menyebut bahwa kondisi seperti ini bukan hal baru. “Kami negara yang penuh imigran, jadi kami cukup memprediksinya. Ini jadi pelajaran bagus bagi pemain muda, sementara kami yang senior sudah terbiasa sejak kualifikasi Piala Dunia,” ujarnya.

Pochettino, yang berasal dari Argentina dan pernah bermain 20 kali untuk negaranya, menyampaikan bahwa semangat bertanding harus lebih dari sekadar penampilan.

“Saya melihat pemain Guatemala menangis. Kita harus merasakan hal yang sama. Ini bukan soal datang, menonton, lalu kalau kalah tak masalah. Tidak, itu masalah besar. Anda bermain demi harga diri, demi sesuatu yang lebih dalam,” kata mantan pelatih Chelsea ini.

Menurutnya, di negara-negara lain, para pemain bermain demi bertahan hidup, demi makanan, demi harga diri. "Bukan hanya sekadar datang, bermain, lalu pulang sambil tertawa,” katanya.

Diego Luna mendapat pujian tinggi dari sang pelatih. Pemain berusia 21 tahun itu terus menunjukkan semangat tinggi, bahkan sejak tampil dengan hidung patah saat laga uji coba melawan Kosta Rika pada Januari lalu.

Saat itu, tim AS diperkuat pemain dari Major League Soccer dalam pemusatan latihan yang kerap dijuluki “Camp Cupcake”.

“Luna adalah contoh sejak Januari. Ia sangat ingin membela negara ini, dan itulah mengapa sekarang dia mencapai level yang ditunjukkannya,” ujar Pochettino.

Striker Patrick Agyemang juga tampil menonjol sejak pemusatan latihan awal tahun, dan kini menjadi starter di Piala Emas Concacaf, di tengah absennya banyak pemain reguler.

“Kadang orang menyebut pemusatan latihan Januari itu sia-sia. Tetapi tidak. Itu penting bagi tim nasional, bagi para pemain, dan bagi negara,” tegas Pochettino.

Luna mencetak dua gol pada menit ke-4 dan 15, masing-masing dengan kaki kiri dan kanan. Ia menikmati atmosfer pertandingan meski lebih banyak dihadiri pendukung lawan.
Baca Juga: Piala Emas Concacaf: AS ke Semifinal Seusai Menang Adu Penalti

“Saya menyukainya. Luar biasa. Menurut saya, fan Guatemala patut bangga dengan dukungan dan energi yang mereka berikan,” katanya.

Kapten tim, Tim Ream, menyebut bahwa konsistensi kemenangan adalah kunci untuk membangun basis pendukung yang kuat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT