Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Persatuan Lintas Agama dan Budaya
Kamis, 18 Juni 2026 | 19:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com — Pada saat banyak negara peserta Piala Dunia 2026 menghadapi polarisasi sosial dan perdebatan identitas yang kian tajam, sejumlah tim nasional justru menampilkan contoh bagaimana pemain dari latar belakang agama dan budaya berbeda dapat bekerja sama demi tujuan yang sama.
Fenomena ini terlihat jelas pada sejumlah tim Eropa Barat yang kini makin beragam. Jika selama sebagian besar sejarah sepak bola tim nasional didominasi pemain berkulit putih dan beragama Kristen, kini banyak skuad yang diperkuat pemain muslim maupun pemeluk agama lain yang terbuka menunjukkan keyakinannya.
Timnas Inggris, misalnya, untuk pertama kalinya diperkuat pemain muslim. Timnas Prancis memiliki pemain dari latar belakang Protestan, Katolik, dan Islam. Sementara Spanyol memiliki bintang muda berusia 18 tahun, Lamine Yamal, yang dikenal sebagai muslim taat.
Negara-negara tersebut juga menghadapi tantangan sosial terkait meningkatnya jumlah imigran muslim dalam beberapa tahun terakhir. Namun, keberagaman yang terlihat di lapangan sepak bola justru menghadirkan pesan berbeda.
“Absolut. Ini simbolis sekaligus nyata,” kata Eboo Patel, Presiden Interfaith America, organisasi yang mendorong kerja sama dan pluralisme antarumat beragama.
Menurut Patel, pemandangan pemain Kristen membuat tanda salib dan pemain muslim berdoa dengan caranya masing-masing menunjukkan identitas keagamaan tidak menghalangi kerja sama.
“Mereka mencetak gol, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, lalu saling berpelukan. Itulah cara membangun tim dan komunitas yang hebat,” ujarnya.
Mohamed Salah
Nama paling menonjol dalam daftar pemain yang terbuka mengenai keyakinannya adalah Mohamed Salah dari Mesir.

Penyerang yang lama menjadi bintang Liverpool itu dikenal sebagai Muslim Sunni yang kerap melakukan sujud syukur setiap kali mencetak gol.
Dampaknya bahkan melampaui lapangan hijau. Sejumlah penelitian menunjukkan unggahan bernada antimuslim dari suporter Liverpool menurun signifikan setelah kehadiran Salah di klub tersebut.
Luka Modric
Kapten Kroasia Luka Modric juga dikenal sangat dekat dengan keyakinan Katolik yang dianutnya.
Pemain berusia 40 tahun yang tampil pada Piala Dunia kelima itu kerap mengenakan pelindung tulang kering bergambar Yesus Kristus dan Bunda Maria.
Menjelang keberangkatan ke Amerika Serikat untuk mengikuti Piala Dunia, Modric dan sejumlah pemain Kroasia bahkan menghadiri misa bersama di sebuah kapel di kota Icici.
Djed Spence
Bek kanan Inggris Djed Spence menjadi sorotan karena disebut sebagai pemain muslim pertama yang tampil untuk tim nasional senior Inggris.
Pemain Tottenham Hotspur itu sebelumnya enam kali membela timnas Inggris U-21 sebelum mendapat kesempatan di level senior.
“Senang bisa mencetak sejarah dan semoga dapat menginspirasi anak-anak muda di seluruh dunia bahwa mereka juga bisa mencapainya,” kata Spence kepada BBC.
Lamine Yamal
Lamine Yamal menjadi salah satu pemain yang paling banyak dibicarakan sepanjang tahun ini.
Pemain muda Spanyol yang memiliki ayah keturunan Maroko tersebut sempat menjadi sorotan internasional setelah mengibarkan bendera Palestina saat perayaan gelar juara Liga Spanyol bersama Barcelona pada Mei lalu.
Aksi tersebut menuai berbagai reaksi, termasuk kritik dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menilai tindakan itu memicu kebencian.
Marc Guehi
Bek Inggris Marc Guehi juga dikenal terbuka mengenai keyakinan Kristennya. Putra seorang pendeta di London itu pernah menjadi perhatian ketika menuliskan pesan keagamaan pada ban kapten saat kampanye Liga Inggris yang mendukung inklusi LGBTQ+.
Meski tindakan tersebut melanggar aturan Federasi Sepak Bola Inggris (FA) yang melarang pesan keagamaan pada perlengkapan pertandingan, Guehi tidak mendapatkan hukuman.
Aimar Sher
Timnas Irak menjadi contoh lain keberagaman dalam sepak bola. Skuad mereka dihuni pemain dari berbagai kelompok, termasuk Kurdi, Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan umat Kristen.
Keberadaan pemain Kristen di tim nasional Irak cukup mencolok mengingat populasi umat Kristen di negara tersebut menurun drastis dalam dua dekade terakhir.
Salah satu pemainnya, Aimar Sher, secara terbuka menunjukkan keyakinannya melalui media sosial, termasuk dengan mengunggah foto mengenakan kaus bertuliskan "I Belong to Jesus".
Christian Pulisic
Kapten Amerika Serikat Christian Pulisic juga tidak menutupi keyakinan Kristennya.
Pulisic kerap mengenakan kalung salib pemberian ibunya dan beberapa kali memimpin kegiatan pembacaan Alkitab bersama rekan-rekan setimnya.
Beberapa pemain Amerika Serikat lainnya juga terbuka mengenai iman mereka, termasuk Weston McKennie dan penjaga gawang Matt Freese.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada, Piala Dunia 2026 menunjukkan keberagaman agama dan budaya tidak menjadi penghalang untuk membangun kerja sama yang solid. Sebaliknya, perbedaan tersebut justru menjadi salah satu kekuatan yang menyatukan tim-tim terbaik dunia dalam mengejar prestasi di panggung sepak bola terbesar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




