ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Irna dan Keluarga Bertahan Hidup di Gubuk Bekas Budi Daya Jamur

Rabu, 23 Juli 2025 | 12:02 WIB
B
JS
Penulis: Budiman | Editor: JAS
Irna Novianti yang tinggal di gubuk bekas tempat budi daya jamur di Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.
Irna Novianti yang tinggal di gubuk bekas tempat budi daya jamur di Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. (Beritasatu.com/Budiman)

Lebak, Beritasatu.com - Kisah pilu datang dari sebuah keluarga kurang mampu yang tinggal di Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. 

Selama tiga tahun terakhir, Irna Novianti (22), suaminya Ridwan (41), dan dua anaknya terpaksa tinggal di sebuah saung atau gubuk bekas tempat budi daya jamur yang kondisinya sangat miris dan memprihatinkan.

Akibat keterbatasan ekonomi, keluarga kecil ini tidak mampu membangun rumah layak huni seperti orang-orang pada umumnya, Rabu (23/7/2025).

ADVERTISEMENT

Saat ditemui Beritasatu.com pada Rabu (23/7/2025), Irna tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kesulitan yang dialaminya selama menempati gubuk yang jauh dari kata aman dan layak tersebut.

"Saya tinggal di gubuk bekas pembuatan jamur ini sudah tiga tahun. Sebelumnya tinggal di rumah saudara, tetapi karena di sana terlalu banyak orang jadi kami pindah ke sini," kata Irna kepada Beritasatu.com, Rabu (23/7/2025).

Dirinya mengatakan, kondisi gubuk yang ditinggali oleh keluarganya itu sangat memprihatinkan. Atapnya bocor di banyak tempat, tidak ada lantai ubin, dan ketika malam tiba, udara dingin menusuk tulang. Tak jarang, mereka juga harus waspada terhadap binatang berbisa seperti ular yang kadang datang secara tiba-tiba.

"Sedih tinggal di sini. Kalau hujan atapnya bocor, kadang ada ular juga. Dingin sekali kalau malam, apalagi kalau anak-anak kehujanan, bisa sakit. Pokoknya enggak nyaman," ujar Irna dengan nada lirih.

Irna mengungkapkan, sang suami bekerja sebagai buruh serabutan di kebun milik orang lain. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Kendati begitu, meski berada dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit, ia mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).

"Dari pemerintah saya enggak pernah dapat apa-apa, beras atau apa pun juga enggak pernah," keluhnya.

"Suami saya kerja di kebun, kadang cuma dapat Rp 30.000 atau Rp 40.000 sehari," tambahnya.

Di tengah kondisi serbakekurangan ini, Irna hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah atau para dermawan agar mereka bisa hidup lebih layak, terutama demi masa depan anak-anaknya.

"Harapan saya ingin punya rumah yang layak buat anak-anak. Kasihan mereka," tutup Irna penuh harap.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon