Sungai Cisadane Tercemar, BRIN Turun Tangan
Kamis, 12 Februari 2026 | 10:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mempelajari lebih lanjut kasus pencemaran Sungai Cisadane di Banten yang diduga dipicu kebakaran gudang pupuk dan melibatkan residu pestisida.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan pihaknya segera menurunkan tim untuk mengkaji secara ilmiah dampak pencemaran tersebut, termasuk penyebab dan risiko terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
"Untuk Cisadane segera, nanti saya dengan tim akan belajar," kata Arif seusai menghadiri seminar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (12/2/2026).
Arif menjelaskan, dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah personel di lapangan guna memperoleh gambaran awal terkait peristiwa tersebut.
"Saya masih ingin memanggil dari tim yang sudah bergerak, seperti apakah case-nya, kemudian kita akan selesaikan segera," ujar dia.
Sebelumnya dilaporkan, pencemaran Sungai Cisadane telah meluas hingga sekitar 22,5 kilometer, mencakup wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.
Peristiwa ini bermula dari kebakaran gudang perusahaan pupuk yang menyebabkan sekitar 20 ton pestisida terbakar. Air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia kemudian mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, dan menyebar ke aliran utama sungai.
Dampak ekologis langsung terlihat dari kematian berbagai biota akuatik, seperti ikan mas, ikan baung, ikan patin, ikan nila, dan ikan sapu-sapu.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pencemaran tersebut berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat sekitar.
"Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya," kata Hanif, Rabu (11/2/2026).
Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan akan melakukan serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah guna memastikan tingkat kontaminasi serta dampaknya terhadap kesehatan publik.
"Kami akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah. Untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup," ucap dia.
Kasus ini menjadi perhatian serius mengingat Sungai Cisadane merupakan salah satu sumber air penting bagi masyarakat di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Kajian BRIN diharapkan dapat memberikan rekomendasi berbasis sains untuk mitigasi pencemaran, pemulihan ekosistem sungai, serta pencegahan kejadian serupa di masa mendatang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




